The Disease
Chapter 4: The Madness Before Their Captain's Funeral
Perairan awal Grand Line. Pukul 4 pagi.
Thousand Sunny mengapung-apung di tengah lautan dengan tenang. Tidak sering—kecuali dalam beberapa kesempatan yang bisa dihitung jari selama perjalanan pertama mereka, kapal gagah itu berada di tengah-tengah angin yang stagnat. Setengah jam yang lalu hujan yang mendera lautan juga kapal tersebut mereda, menghilangkan awan mendung nan kelam, serta kembali menyibakkan langit malam yang terang akan sinar rembulan. Dasar, cuaca aneh Grand Line dan Dunia Baru.
Napas angin, napas lautan—menjadi satu mengelilingi Sunny-go seperti biasa. Belaian lembut ombak, dan hembusan penuh kesejukan angin pagi meniup layar utama dan layar-layar penyangga lainnya dengan perlahan. Rupanya angin sudah mulai kembali bergerak; tapi ini bukanlah angin pelayaran, melainkan penghormatan sang dewa angin kepada mereka, para penghuni kapal. Malam yang sepi, dengan stagnanisasi angin adalah terlalu kejam sesungguhnya untuk mereka ber-delapan pada malam ini. Sedikit hembusan, diharapkan sang dewa angin dapat menyenyakkan tidur—walau bahkan untuk malam mereka yang sangat berat belum lama ini. Mereka berduka, mereka berkabung. Tapi, paling tidak mereka bisa beristirahat dengan baik hari ini untuk pagi nanti yang pastinya akan menjadi lebih berat; dengan upacara kepergian kapten mereka.
Di geladak rumput kapal, nampaklah sesosok pria dengan pakaian khasnya yang berupa karate-shi panjang berkancing berlapiskan warna hijau tua. Hakama hijau yang sudah sangat akrab melilit perutnya di balik pakaian. Nampak bekas luka yang cukup panjang menyayat bahu kiri sampai perut sebelah kanannya yang berisi. Kedua lengannya menyilang satu sama lain di depan dada, dan kaki kanannya diletakkan di atas paha kaki kiri. Pria tersebut memejamkan kedua matanya—walau mata sebelah kirinya memang selalu tertutup diakibatkan oleh bekas sayatan benda tajam. Zoro—pria tersebut, mengalirkan napasnya dengan perlahan, keluar masuk mengikuti ritme udara.
Di tengah lautan yang hening—dimana hanya terdengar desiran ombak, pria berambut hijau itu mendengar langkah kaki yang menapak dengan pelan. Dia tahu dengan pasti itu bukanlah tapak kaki manusia, melainkan tapak kaki yang terdengar imut dari dokter kapal mereka. Zoro terjaga, dan memfokuskan pandangannya pada sosok kecil Chopper di seberang dek rumput.
Dokter kecil tersebut menguap dengan lebar, dan menggaruk-garuk belakang kepala tertutup topi rajutannya yang manis. Chopper kembali melanjutkan jalannya. Tubuhnya oleng tak menentu, yaah, tipikal orang baru bangun tidur—apalagi tersentak pagi buta seperti ini. Hingga sampai dia menyadari kehadiran si wakil kapten, Chopper terus berjalan mengarah ke kabin ruang makan. "...Oh, Zoro!" kejutnya, melihat siluet gelap Zoro yang tertutup tiang utama.
Chopper berlari ke arah si pendekar tiga pedang, dan langsung duduk di sebelahnya di bangku taman. Dokter kecil nan ahli itu lalu menolehkan wajah setengah mengantuknya pada si pendekar ternama. "Kau boleh tidur sekarang, Zoro. Sekarang giliranku jaga, 'kan?"
Zoro sedikit tersentak, ragu-ragu untuk memulai pembicaraan. Dia menatap balik wajah ceria Chopper, namun hanya untuk mendapati dirinya yang semakin ragu dari sebelumnya. "...Uh, kau bisa kembali beristirahat Chopper. Lagipula sudah jam 4 pagi, biar aku yang menggantikan shift pagimu..."
Chopper menggeleng pelan. Tapi, wajahnya menampakkan raut pucat pasi, bahkan untuk wajah yang berbulu hangat layaknya boneka tersebut. "...A-aku tidak mau kembali tidur."
Si pendekar mengangkat satu alis matanya. "...Kenapa?"
Wajah Chopper semakin pucat. Dia nampak seperti mengingat-ingat kembali apa yang sudah terjadi sebelumnya. Terasa begitu nyata, bisik si dokter. "...Aku mimpi buruk, Zoro. Mimpi yang sangat... buruk."
Zoro tak berani berkata apa-apa lagi, dia kembali menyenderkan punggungnya dan kembali menutup mata. "...Hanya mimpi. Kembalilah tidur." usahanya, membujuk Chopper. "Kita akan kembali berlayar begitu matahari terbit nanti, dan kau harus mengumpulkan tenaga."
"Tidak, tidak!" sorak si dokter, keras—beda dari suara lembutnya yang biasa. "...I-ini... aku merasa seperti..."
Si wakil kapten menggeramkan gigi-giginya, semakin menampilkan rahangnya yang kuat. Dia mengencangkan kapitan tangan pada masing-masing lengan kuatnya, merasa tak bisa mengalihkan perhatian si dokter kecil.
"Z-Zoro..." ujar Chopper perlahan dengan suaranya yang manis. Namun, suara itu dibalut dengan kecemasan kental dalam setiap ucapannya. "...Luffy... di mana Luffy...?"
Si pendekar hanya terdiam, tidak menjawab dan tidak menggunakan waktu sedikitpun untuk membalas tatapan penuh kecemasan dokter kecil mereka. Zoro merundukkan kepalanya, merasa tak ingin dan berusaha kuat agar wajahnya tak kelihatan oleh siapapun saat ini.
Angin yang berhembus pelan, mengapungkan kapal di atas desiran ombak kecil memelan dan semakin memelan. Hingga pada akhirnya kembali berhenti tanpa isyarat apapun. Suasana kapal kembali diisi oleh angin yang stagnat. Energi statik dasar laut seolah menghentikan kapal dari pergerakan, dan berkomplot dengan ombak meninggalkan mereka, para penghuni kapal.
"...Jadi itu semua bukan... mimpi?" mulai Chopper, kembali merangkai jalinan ingatannya. "...M-memang terasa begitu nyata... untuk sebuah mimpi..."
Rusa kutub kecil itu kembali berlinang air mata, menumpuk tumpukan air yang siap dijatuhkan dari matanya. Bibirnya bergetar dengan hebat, dengan mata yang sudah bergelombang. Chopper semakin larut dalam ingatannya di saat bersama dengan kapten tersayangnya dulu—bersenang-senang menebarkan senyuman ke sana dan sini.
"UWHOOO!" si dokter menjerit, menangis penuh perasaan tertusuk di hati. Chopper menggeleng-gelengkan kepalanya, berniat melarikan diri dari kenyataan; tidak ingin percaya kalau Luffy meninggal di depan matanya sendiri beberapa jam yang lalu. Dia berusaha menghapus memori itu dari pikirannya. Tapi semakin dia berniat menghapusnya, memori tersebut terus-terusan muncul seperti gambaran langsung di depan matanya. Jeritnya sungguh memilukan hati, menusuk mereka yang mendengarnya. Teringat kembali dengan kerajaan Sakura yang tiga tahun lalu ditinggalkan oleh Chopper? Di mana perpisahan penuh haru itu terjadi. Seperti itulah yang dilakukan oleh si dokter ahli itu kini, membanjiri wajahnya sendiri—salam perpisahan yang memilukan.
Zoro semakin mengeratkan matanya yang tertutup, dan menggertakkan giginya satu sama lain semakin kuat seolah hendak menghancurkannya berkeping-keping.
Hati si pendekar terluluhkan oleh pekikan penuh rasa sakit si dokter rusa kutub. Zoro melepas kedua tangannya, dan memegang kedua bahu mungil Chopper yang masih menjerit di sebelahnya. "Chopper, Chopper... dengarkan aku...!" bujuknya dengan sedikit hardikan, memakukan matanya yang masih baik pada Chopper.
Chopper menurunkan wajahnya, memandang balik mata si pendekar. Mulutnya masih terbuka lebar di mana hidung biru dan matanya masih mengeluarkan cairan. Masih belum kunjung terhentikan isakan tangisnya yang begitu menyayat hati itu; bahu, pundak—tidak, seluruh tubuhnya juga ikut terisak—terus berguncang, tiap kali Chopper menarik napas. "Panacea, Zoro... Panacea..."
"...Panacea?"
Chopper menyunggingkan senyuman bodohnya, seperti saat menemukan jamur beracun untuk mendiang ayah angkatnya dulu. Seolah seperti ada cahaya mendadak, Chopper tersenyum semakin lebar—merasa masih ada kesempatan untuk 'membangkitkan' Luffy kembali. Matanya menjadi kabur, tapi tangisan dan isakannya sudah berhenti, digantikan dengan senyuman penuh keyakinan. "Aku... hanya perlu kembali ke mejaku, dan kembali menulis rumus bakal Panacea; obat untuk segalanya..."
"Zoro..." lanjut si dokter kecil. "Tak ada penyakit... yang tidak bisa disembuhkan dengan Panacea. Dengan Panacea, semua orang bisa diselamatkan. Atau mungkin... orang mati pun juga bisa dihidupkan...? Ihihihi..." tawa kecilnya seperti dulu, menutup mulut dengan kedua tangan berkuku rusanya.
Mata Zoro kembali memerah, keterkejutan dan kemarahan bercampur menjadi satu. Chopper benar-benar menerima shock yang hebat, dan membuat kejiwaannya sedikit..., batin si pendekar, tidak ingin melanjutkan pikirannya. Dia tidak ingin mengakuinya sama sekali, tapi kondisi dokter mereka saat ini lebih kurang tidak jauh berbeda dari dokter bedah gila Thriller Bark dulu. Dokter sinting yang begitu terobsesi untuk membangkitkan orang mati dengan kekuatan buah iblis pemimpinnya "Chopper! Hei, Chopper!" teriaknya, mengguncang-guncangkan bahu mungil si dokter.
"...Apa, Zoro? Jangan menggangguku menyusun rumus, 'dong..." jawab Chopper, setengah sadar. Dia masih tertawa kecil, selagi bawah matanya mulai menghitam dan menyembab.
"Chopper, kau dengar aku..." teriak Zoro memberang. "Tidak ada satu obatpun—kau dengar...? Tak ada satu obatpun yang bisa menghidupkan orang mati!"
Chopper terkejut. Matanya membesar, dan mulutnya yang tadi terus menerus menyunggingkan senyuman gila, kini lambat laun sudah bisa menerima keadaan yang sebenarnya. Tak ada satupun obat ajaib yang bisa menghidupkan orang mati; Luffy sudah mati, dan dia sudah tidak bisa kembali lagi. Itulah yang Chopper terima dari makna tersirat kata-kata Zoro barusan.
Chopper kembali membuka mulutnya lebar-lebar, sebelum kembali menjerit penuh kepedihan ke langit malam yang jernih. Dia, Chopper, masih terisak menatap Zoro kembali. "...Kau tidak mengerti, Zoro... aku dokter, dan... aku harus menyelamatkan nyawa manusia."
"...Kau tidak perlu memikirkan perkataan Nami tadi. Dia hanya... Nami hanya belum bisa menerima keadaan; seperti kau saat ini..." jelas Zoro, panjang dan lebar. Tidak percaya kalau dia bisa membujuk orang lain seperti ini, Zoro menggaruk belakang kepalanya sebentar.
Chopper melepas pegangan tangan Zoro, dan berlari kencang menuju bilik klinik miliknya di basemen.
Pendekar hebat itu kembali berdiri di atas kedua kakinya, menatap arah kemana Chopper berlari dengan berlinang air mata.
"...Itu tadi..." ujar satu sosok ramping dari balik bayangan.
"...Kau tidak perlu repot-repot memberitahukanku; kalau apa yang kukatakan padanya tadi itu 'kejam'. Aku paham itu, koki..."
Pria pirang itu berjalan, meninggalkan si pendekar. "...Kau ingin membujuknya?" tanya Zoro, mendengar langkah kaki Sanji yang mulai berpindah.
"...Menurutmu apa? Itu tidak akan berhasil, 'kan...?" jawab balik si koki.
Zoro terdiam sebentar. "...Panggil Nami. Dia pasti terjaga dengan ribut-ribut barusan"
"Ya, aku memang baru hendak memohon akan bantuannya. Dan kupikir... Nami-san pasti tidak bisa tidur juga sedari tadi." balas Sanji, menghembuskan napas asapnya ke langit. Dia memperhatikan asap tebal tersebut membubul di udara, sebelum akhirnya menghilang—menjadi ketiadaan sama sekali.
Sanji berjalan semakin menjauh, namun terhenti tiba-tiba. "Oh, marimo. Aku tidak akan pernah memaafkanmu... kalau sekali lagi melancarkan napsu membunuhmu pada Nami-san..." ujar Sanji, dengan ekspresi penuh amarah. Namun wajahnya setelah itu kembali normal, dan kelopak mata serta alisnya menjadi sedikit sayu. "...Dia terlalu rapuh saat ini. Kau pasti juga tahu, 'kan...?"
"Situasi..." jawab pendek si pendekar, merundukkan kepalanya.
XXX
"Nami-san... kau sudah bangun? Hari masih terlalu pagi, tapi..."
Nami keluar dari kamarnya, ketika Sanji beberapa langkah lagi sampai di kabin pribadi milik wanita berambut jingga tersebut. Wajahnya kelihatan begitu tidak tenang. Seperti ada perasaan bersalah atau berdosa akan suatu hal; wajahnya nampak begitu pucat. Sinar bulan membuat wajahnya nampak sedikit bercahaya, tapi tetap saja sembab membengkak di bawah matanya tidak bisa dihapuskan. Rambut bergelombang sepunggung Nami nampak diikat pada ujungnya sehingga tidak begitu tergerai dengan bebas. Ia mengenakan kemeja putih polos yang kebesaran untuk ukuran tubuhnya, selagi untuk bawahan ia mengenakan sepasang celana jeans hitam yang ketat.
Si gadis navigator terdiam di muka pintu bilik wanita, hanya menatap daun pintu selagi kepalanya sedikit tertunduk ke bawah. Sanji yang melihatnya, berjalan lebih dekat menghampiri si gadis. Tubuh Nami semakin nampak gemetar dengan semakin dekatnya Sanji kepada si gadis. "N-Nami-san, jangan memaksakan dirimu. Kau bisa kembali beristi kalau ma..."
"Sanji-kun...!" Nami memotong kata-kata si koki. Sanji terpaku dan tak bisa melangkah lebih jauh lagi dari ini—jarak yang kira-kira hanya sekitar dua meter saja. "...Sudah berapa kali aku merepotkan Luffy dan kalian semua?"
Sanji membatu, dia terhenti—terhenti dari rokoknya, terhenti melangkah, dan terhenti akan memandang Nami; mengalihkan tatapannya ke lautan hitam. Dia tidak bisa menjawab, atau tepatnya, dia tidak memiliki pangkat yang cukup tinggi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Meskipun ada seseorang yang dapat mengatakannya, itu hanya satu; dan orang tersebut sudah tidak bisa menyampaikannya saat ini. Walaupun begitu, orang itu PASTI tidak akan mau ambil pusing dengan hal tersebut. Yaah, bagaimanapun juga hidup Luffy memang seringan—tidak, lebih ringan dari angin malahan. Semua tahu itu. Dan lebih dari semua itu, Luffy bukan orang yang suka mengungkit-ngungkit jasanya.
"...Tidak terhitung, 'kan? Sanji-kun... bahkan kau tidak bisa menghitungnya lagi, bukan?"
"N-Nami-san, bukan begitu... aku tidak..." Sanji mematikan rokoknya, dan memajukan langkahnya sedikit.
Nami menggelengkan kepalanya. "Sudah ratusan... ratusan kali Luffy selalu berhasil menyelamatkanku. Dia selalu melindungiku, tapi aku... apa yang sudah kuberikan padanya? Tidak ada! Tidak ada, Sanji-kun! Tidak ada!"
Sanji melangkahkan kakinya sedikit mundur ke belakang. Dia tidak pernah sekalipun melihat Nami yang seperti ini. Ekspresi wajah itu tidak pernah dilihatnya semenjak dulu pertama kali bertemu di Baratie sampai detik ini. Wajahnya begitu bersedih dan berduka, marah, kecewa, dan merasakan keputus asaan; tidak pernah Sanji menatap ekspresi seseorang seperti ini sebelumnya. Sanji tersentak, dan ikut merasa iba terhadap rekannya yang satu ini.
Sanji juga sebenarnya masih sangat berduka. Tapi, dia tahu dengan baik, Luffy sangat tidak ingin sahabat-sahabatnya menjadi seperti ini. Karena itu dia menguatkan hati juga raganya, mengisi waktu tengah malam dengan memasakkan sup hangat di dapur untuk sarapan pagi mereka tidak lama lagi. Tentu saja dia juga mengerti, kalau napsu makan mereka pasti akan hilang. Tapi, yang harus dipatuhi satu-satunya adalah perintah sang kapten: Tidak boleh ada satu pun kru-ku yang kelaparan, ceramah si kapten dulu pada suatu kesempatan pada si koki seorang.
Sama seperti Nami sendiri. Dia pasti pernah mendapatkan satu atau dua wejangan langsung dari sang kapten. Tapi, Nami pastinya tidak cukup kuat untuk bisa menenangkan hati, dan berusaha berpikir jernih saat ini. Luffy adalah seseorang yang begitu disayanginya, semua tahu itu. Kehilangan Luffy sama saja seperti kehilangan sebelah bagian dirinya. Ia bimbang, ia belum siap dengan semua ini.
"Jawab aku, Sanji-kun! Jawab!" Nami berjalan dengan cepat ke arah si koki, dan berhasil meraih kerah kemeja Sanji; mengangkatnya ke atas. Nami mendorong tubuh proporsional si koki sampai menabrak dinding kayu Adam bilik Nami. Sanji sedikit tercekik, memicingkan sebelah matanya secara respon.
Sementara itu,
Zoro kembali nampak duduk di bangku geladak rumput kapal. Dia hanya bisa mendengarkan jeritan Nami dari kejauhan. Pekikan kepedihan yang tidak jauh berbeda dari Chopper beberapa saat yang lalu. Si koki mendapatkan kesulitan, batinnya. Si pendekar pedang terhebat menghela napas dengan berat, dan hendak berdiri di atas kedua kakinya.
"Kau pikir bisa menenangkan Nami-chan sekarang?"
Mendengar pertanyaan tersebut, Zoro kembali duduk dengan tenang di tempatnya. Pastinya Zoro merasa sedikit gelisah, tapi dia mampu menyembunyikannya. Mereka semua sedang tidak menentu, jiwa dan raga, lanjut batin Zoro. Khususnya Nami dan Chopper. Dia merasa sedikit khawatir juga terhadap Usopp, tapi si wakil kapten itu hanya bisa meyakinkan dirinya bahwa rekan sniper ulung-nya tersebut akan baik-baik saja.
"Sudah berapa kali kukatakan agar beristirahat di kamar kalian masing-masing." sergah Zoro, sedikit iritasi.
"Tak satupun dari kami yang bisa tidur apabila keadaannya seperti ini." jawab wanita berambut hitam sepunggung itu. Dengan langkah-langkah ringannya, ia berjalan semakin mendekat ke bangku Zoro berada. "Usopp dan Brook di dek atas. Sedangkan Franky... dia di ruang kerjanya; memahat peti... Luffy."
Zoro mendecakkan lidahnya. "...Kau tidak perlu memaksakan dirimu untuk mengatakan hal tersebut..." unggah si samurai, tepat pada sasaran. Hanya dari gerak-gerik saja, dia sudah bisa membaca kegundahan hati wanita itu. Sama seperti Zoro, dia pandai menyimpan ekspresi dan perasaan yang sesungguhnya di depan orang lain. Namun, tidak cukup baik, tubuhnya gemetar; duduk di sebelah si pendekar.
"...Aku khawatir, Sanji akan mati sebentar lagi."
"Ap-! Apa maksudmu?" Zoro bertanya kepada wanita di sampingnya, terkejut luar biasa. Dari mana asal pernyataan tersebut datang, entah tersapa angin malam atau apa, si wakil kapten tidak mengerti sama sekali. "Tiba-tiba kau bicara seperti itu... aku tidak mengerti?"
"Nami-chan... mencekik Sanji." jawab si arkeolog.
Zoro segera berdiri dari bangkunya. Tidak heran, Chopper saja seperti itu tadi—apalagi Nami! paniknya. "Gawat!" tapi laju Zoro terhenti, mendapati pergelangan tangannya digenggam oleh Robin.
Wanita itu menggeleng. "...Itu tidak dibutuhkan." ujarnya menutup mata.
Zoro berdiri tegap, dan bertanya-tanya. "...Apa maksudmu?"
XXX
Sanji berusaha keras melepaskan tangan Nami dari kerah bajunya. Tipikal Sanji, dia tidak berani mengeluarkan tenaga sedikit lebih besar lagi terhadap wanita. Alhasil, dia hanya bisa meronta-ronta lewat kata-katanya. "N-Nami-san... kh, se-sesak..."
"Sanji-kun... kau harus melakukan sesuatu! Aku tidak bisa. Aku belum bisa...!"
"Kh... Nami-san, ti-tidak ada y-yang bisa kita lakuk...kan," dengan kesusah payahannya berbicara, Sanji masih terus berusaha melepaskan kedua tangan Nami selembut mungkin. "Nami-san... Luffy... Luffy tidak akan...
"Apa? 'Tidak akan' apa?" balas Nami dengan wajah yang tetutup bayangan rembulan. Matanya kehilangan cahaya, membuatnya buta akan kemampuan untuk berpikir dengan jernih. Air matanya terus mengalir tak henti-hentinya. Berapa banyak persedian air matanya, tidak ada yang tahu. Yang jelas, ia begitu berduka tak terhentikan lagi. Ia hanya ingin menumpahkan segalanya keluar. "'Tidak akan' apa!" hardiknya keras.
"...Hh, kh... Luffy... hh, tidak akan senang melihatmu sesedih i-ini, Na...Nami-san," jawab si koki, masih terputus-putus. "...K-kau harus... menguatkan dirimu. Kh... hh..."
Cahaya bulan lambat laun berhasil menyinari mata kelam Nami. Kembali terpancar sedikit cahaya dari sana, dan dengan serta merta Nami melepaskan tangannya dari kerah Sanji yang ia pojokkan di sudut dinding kamar sebelah luar. "S-Sanji-kun... a-apa yang...?"
Sanji terjatuh dan memegangi lehernya. Seperti terbenam di lautan di mana dia 'tidak bisa' melakukan apapun—menunggu tenggelam sampai dasar, dia menggapai-gapai udara sekuat mungkin. Keringat peluh membasahi wajah dan seluruh tubuhnya, di mana kelopak bawah mata kirinya menimbulkan sembab hitam yang cukup nampak dengan jelas.
"Ti-tidak ada, Nami-san... aku hanya sedikit sesak tadi..."
"K-kau yakin tidak apa-apa? Kau kehabisan napas seperti itu...?" tanya Nami, penuh akan nada kecemasan murni. Gadis navigator itu tidak sadar kalau dia nyaris membuat si koki kehabisan napas tadi. "...Kau harus mengunjungi Chopper di klinik..."
"Benar!" kejut Sanji. "N-Nami-san, tolong segera susul Chopper. Tolong, Nami-san... dia di kliniknya mungkin saat ini."
"...B-baik. A-aku segera ke sana... tapi, ada apa? Dan... Sanji-kun, kau bagaima..."
"...Tidak apa-apa, Nami-san. Yang penting sekarang adalah Chopper." potong Sanji, dengan napas yang sudah semakin teratur.
Melihat Nami yang mengangguk ragu, dan setelah gadis itu berpaling dengan cepat—berlari menuju klinik, Sanji baru bisa menyenderkan punggung pada dinding di belakangnya dengan cukup santai. Dia merilekskan tubuhnya untuk sesaat, sebelum menyunggingkan senyuman simpul. Sanji memantikkan satu batang rokok di mulut, dan menghembuskannya ke langit. "Luffy... siapa sangka, barusan aku hampir merelakan nyawaku di tangan Nami-san," ucapnya, pelan dan tenang. "Heh, kau pasti ingin menghajarku lagi sekarang, 'kan? Karena hendak menyia-nyiakan nyawa... 'lagi'." lanjut si koki, tersenyum pahit. "...Tapi, satu yang kupahami. Kepergianmu... nampaknya sedikit banyak mempengaruhi pemikiran gilaku barusan itu..."
"Ck... kenapa juga kau yang harus..." bisik koki perokok berat itu, menggeramkan kedua matanya tanpa bersuara.
"Chopper!"
Nami memasuki bilik klinik. Tanpa membuang waktu lebih banyak lagi, ia melihat sosok si dokter dengan pakaian kerjanya. Di sebelah si dokter meneliti gelas-gelas percobaan berisi beberapa ramuan warna-warni, wujud terbaring yang sudah familiar nampak oleh kedua mata golden hazel milik Nami. Luffy, bisiknya perih. Wajah Luffy memang sudah tertutup kain putih selimut ranjang, tapi Nami masih bisa mengingat dengan baik struktur wajah tampak samping Luffy yang sudah sangat akrab dalam ingatannya.
"...Chopper, kau sedang apa?" tanya Nami, berusaha keras menahan air mata. Ia melangkah dengan ragu-ragu ke arah si dokter ahli, dan menepuk punggungnya. "...Cho...!"
"Nami, aku berhasil!" teriak Chopper, memotong kata-kata Nami. "Panacea! Aku berhasil membuat Panacea!" mata si rusa kecil nampak begitu kelam dan pucat. Alis matanya menurun, menampilkan ekspresi yang sangat sedih selagi mulut mungilnya berusaha tersenyum dengan riang.
"P-Panacea?" Nami mengambil botol ramuan yang terkepit di sela-sela kuku rusa Chopper. Nami mencium, dan merasakan satu tetes dari cairan itu. Bibir si gadis mulai gemetar, lalu matanya mau tak mau kembali meneteskan air mata yang deras. "Cho... Chopper..." ucap Nami, terisak-isak. "...Ini-ini hanya Parasetamol cair biasa..." si gadis me-lap air dari kedua matanya. Dia mengerti. Walau Nami tidak sadar ia tengah menggila beberapa menit yang lalu—hampir membunuh si koki kapal malahan, tapi dia tahu kalau Chopper kehilangan pemikiran jernihnya juga saat ini. Dia terlalu dikelilingi oleh perasaan sedih dan bersalah, sama seperti Nami sendiri sekarang.
Nami memeluk tubuh berbulu Chopper—sebuah pelukan yang sangat erat. Nami membanjiri pundak dan punggung Chopper dengan air matanya. Kembali memekik penuh rasa sakit. Chopper yang mulai tersadar pun begitu. "...P-Parase... biasa...? Luffy... meninggal, ya... Nami? Luffy...?" tanya si rusa kecil, kembali berlinang air mata. Dia menghirup-hirup ingusnya yang terus mengalir keluar. "...Nami... Luffy, Luffy..." ujarnya, mulai meneteskan air mata penuh haru.
Nami mengangguk pelan di atas bahu Chopper, menggigit bibir bawahnya.
XXX
"...Terdengar."
Dari kegelapan yang begitu pekat, pemuda berambut hitam berantakan itu berbisik pelan. Telinganya bergerak-gerak, seperti seekor kucing saat menajamkan indera pendengarannya. Jarinya yang terasa begitu jauh bergerak untuk sekejap dan sekelebat mata. Namun perlahan gerakan itu semakin nampak, dan si bocah mulai bisa menggerakkan keseluruhan jari-jemarinya. Bibirnya bergerak kecil, dan disusul kedua kakinya yang mulai dapat bergerak dengan normal.
Pemuda itu membuka matanya dengan pelan. Bulu-bulu mata si pemuda yang serasa menempel terlalu lama, membuat prosesnya menjadi sedikit sulit bagi si bocah. Dia menggumam pelan, selagi matanya sudah setengah terbuka. "...Uh, la...par." dia berusaha menggerakkan keseluruhan tubuhnya bersamaan kali ini. Ringan sekali, batin si pemuda setelah sedikit terbiasa. Seperti melayang, lanjutnya.
Dia memeriksa balik belakang kepala dengan sebelah tangan. Bocah itu menghembuskan sedikit napas penuh kelegaan ketika merasakan topi jerami kesayangannya masih menempel dengan erat di tempatnya.
Pemuda itu sekali lagi begitu blank dengan situasinya saat ini. Dia menolehkan pandangannya ke seluruh penjuru, namun sayang, yang dapat dilihatnya hanyalah kegelapan total. Kegelapan yang bahkan membuatnya tak bisa melihat seluruh anggota tubuh lain miliknya sendiri. Hidungnyapun seperti mati rasa; ditambah lagi telinganya yang tak bisa mendengar. Satu-satunya yang dapat dia rasa dan dengar hanyalah isi batin dan kepalanya—bisikan tersembunyi dari hatinya.
Dia berniat mencari pegangang tubuh. Ngomong-ngomong, melayang memang menyenangkan, pikirnya—astaga, bagaimana tidak; salah satu hal yang membuatnya begitu riang adalah saat melayang-layang di tengah udara. Sungguh menyenangkan, pikir si pemuda, kembali mengingat pengalaman lampaunya dua tahun lalu di pulau langit. Dia pertamanya memberontak dengan cukup tenaga untuk menggerakkan tubuh ke suatu tempat yang masih belum jelas, tapi tidak untuk waktu yang cukup lama. Pemuda itu kembali melayang dengan lemas di tempat yang-dia-sendiri-tak-tahu-di mana-ini.
Alis matanya mengkerut, dan lidahnya terjuntai keluar. Ah, lelah, keluh kesahnya di dalam hati. Sekali lagi dia bersikeras untuk bergerak dari tempatnya melayang, tapi dia kembali menyerah setelah sedikit usaha. Sial! Teriaknya lantang, yaah, dalam pikirannya paling tidak. Dia kira suaranya barusan itu cukup keras tapi padahal, dirinya sendiri tidak bisa mendengar aumannya tersebut yang barusan.
"Aku tahu kau masih belum rela, Chopper," bisa mendengar, teriak si bocah di dalam hatinya. Suara wanita terdengar begitu jelas di telinganya—suara wanita yang tengah menangis tersedu-sedu. Sangat familiar—sudah tidak asing lagi, batin si bocah. Nami, teriaknya. Nami, ini suara Nami! Pemuda itu terus berteriak sekuat tenaganya. Nami, aku di sini, Nami! Nami! "Begitu pula aku, Chopper... hiks hiks, aku sama sekali tidak percaya kalau dia sudah pergi..." isakan gadis itu menggema ke seluruh sisi panca indera si pemuda.
"Luffy! Luffy...! Nami, Luffy... Luffy sudah...!" susul suara lainnya. Kali ini suara nan imut, seperti suara anak kecil menggema di kedalaman kegelapan yang pekat. Tidak kalah dari jerit tangis Nami, suara perih Chopper juga menusuk seluruh panca indera Luffy. Chopper, Chopper—i-ini suara Chopper, bisik si pemuda. Tapi, lanjutnya, tapi mengapa mereka menangis? Aku... aku di sini, hei, kalian tidak dengar? Hei!
"Nami, Chopper..." terdengar suara pintu terbuka. Tapi pemuda itu, Luffy, tak bisa melihat apapun. Baru panca pendengarannya saja yang berfungsi dengan normal sekarang. "...Kalian tidak bisa seperti ini terus."Dari suara ini, Luffy bisa menerka kalau pria yang baru saja masuk adalah penembak ulung milik kru-nya. Usopp, Usopp juga ada? ujar Luffy, dengan suara yang hanya dapat terdengar oleh dirinya sendiri. "...Luffy..." lanjut pemuda Usopp tersebut. "Luffy pasti akan sangat sedih melihat kalian seperti ini..."
Sedih? Sedih kenapa? Tanya Luffy pada dirinya sendiri. Memangnya aku melakukan apa? Dan... aku kenapa? ...Uh, jadi bingung, ujar Luffy menggaruk kepalanya.
"Yo..."
"...Oh, Nami-san, Chopper-san..."
"Franky... Brook...?" tanya suara Usopp yang terdengar oleh Luffy. Franky! Brook? heboh si topi jerami di tempatnya melayang di tengah kegelapan.
"Nami, Chopper. Kuatkanlah diri kalian..." sahut si cyborg dengan suara pelan dan sedikit berat. Nami dan Chopper masih belum juga melepaskan pelukan dan meredakan isakan tangis mereka. Tapi sungguh, mereka berdua yang baru datang tidak bermaksud apa-apa. Franky dan Brook-pun berada dalam situasi di mana mereka tidak cukup bisa menguat-nguatkan diri mereka masing-masing. Tapi, hanya itu. Hanya itu yang dapat mereka lakukan sekarang. Sekeras, sekencang apapun mereka menangis, Luffy tidak akan kembali. Semuanya, tak terkecuali; tahu itu.
Kalian... ada apa sebenarnya? Tanya Luffy, merasa sedikit panik juga mendengar segala isakan dan pilu tangis serta kondisi semua rekan-rekannya. Katakan padaku! Bi-biarkan... biarkan aku melihat mereka! lanjut teriak Luffy. Birkan aku melihat kalian, Nami, Usopp, Chopper, Franky, Brook!
Aww! Dengus si topi jerami tiba-tiba. Apaan tadi itu? Tanyanya bingung, memegangi pantat dan mengusap-usapkan satu tangannya di sana. Srrrk. Suara yang tidak asing—suara rumput yang sebelum ini dirasakannya kembali berbisik di kedua telinganya. Tangannya dengan acak—seperti orang buta menyentuh alas tempat di mana bokong malasnya disanggah. Rumput? A-aku kembali dapat merasakan sesuatu... ho-hore! Soraknya luar bisa riang. Tapi...
Luffy mengarahkan satu tangan ke salah satu matanya. Masih belum bisa melihat apapun, ujarnya. Su-suaraku juga, lanjutnya, melipat alis merasa kesal dan sedih. Luffy sudah dapat merasakan rabaan segala hal disekitarnya. Dia duduk bersila, berusaha berdiri. Namun, tidak cukup kuat, dia kembali terjatuh ke tanah berrumput.
Endus endus. Luffy memaju-majukan hidungnya. Dia mencium—mencium bau yang sangat luar biasa nikmat. Bau yang membuat perutnya terasa begitu keroncongan. Sesaat yang lalu dia tidak bisa membaui apapun, tapi aroma yang begitu mengundang ini membangkitkan napsu makannya yang meledak-ledak. Tidak peduli, yang penting aku lapar, dan aku mau makan! Aku minta sup daging, San...
"Teman-teman, kalian lapar...?" tanya suara yang baru saja menyelusup ke dalam telinga Luffy.
Sanji! Sorak Luffy dengan ceria, luar biasa riang untuk seseorang yang tidak bisa mengeluarkan suara seperti dirinya. Luffy menyeret tubuhnya ke arah di mana bau itu berasal, tapi dia hanya merasa tidak kuat. Tubuhnya tidak cukup bersemangat; tidak sebanding sebagaimana otak dan napsunya bergejolak saat ini.
"Hei, koki..." sahut pria lain yang baru datang. Luffy langsung mengangkat kedua alis, di mana kedua matanya masih tertutup dengan begitu rapat. Zoro! Soraknya, berusaha berdiri dengan kedua kakinya. Zoro juga ada, Zoro! Aku di sini! Kau bisa melihatku, 'kan? Yaah, aku tahu kau buta arah, tapi masa' kau tidak bisa melihatku? Hei!
"Marimo, jangan sekali-sekali kau melarangku untuk menawarkan makan pada kru Luffy lainnya di saat apapun juga. Itu tugasku. Aku akan menuruti semua perintahmu sekarang; kecuali itu." balas Sanji, dengan suara yang cukup berat; akibat begadang semalaman.
"Sudahlah. Sanji hanya khawatir pada kondisi semuanya." suara wanita yang terdengar begitu dewasa menyelusup ke kedua telinga Luffy. Dia berjalan di antara kedua pria itu dan melangkah menuju tempat Nami dan Chopper menangis tersedu-sedu. Robin juga, aku mendengar suara Robin. Robin pasti bisa melihatku, heboh Luffy melompat-lompat dengan sisa tenaganya yang hanya tinggal sedikit. Hei, robin!
Merasa begitu kelelahan Luffy berdiri dengan sempurna, terdiam seribu bahasa dalam proses tersebut. Dia lalu menggeramkan kedua belah kepalannya—keras sekali. Dia kesal, dia sedih, dia tidak mengerti dengan semua ini. Dia merasa bahwa dirinya ada, tapi... mereka—para nakama-nya tak juga ada yang bisa menyadari keberadaannya.
Tidak, tidak! Kenapa mereka tidak bisa melihatku? Aku kenapa sebenarnya! Teriak Luffy. Sanji, Zoro, dan Robin juga ada, tapi... aku merasa seperti sudah tidak berada di sekitar mereka semua lagi! Aku merasa seperti tidak memiliki keberadaan lagi. A-ada apa sebenarnya...?
Sesaat yang lalu, aku merasa seperti baru ngobrol-ngobrol biasa dengan mereka semua. Saat bersama Nami... saat itulah, setelahnya, aku tidak bisa mengingat apapun lagi. Aku tidak bisa mengingat lebih jauh lagi...
"...Luffy,"
Si bocah bertopi jerami mengangkat kepalanya. Tidak mungkin, ini tidak mungkin, bisiknya. Dia memeriksa ke sekelilingnya dengan gencar, mencari sumber asal suara. Suara ini, teriaknya dalam batin. Ti-tidak salah lagi... ini suara...
"...Yo, Luffy. Kau belum bisa melihat juga?" tanya suara misterius itu, dengan nada meledek yang sangat kentara.
Apa maksudmu? Tanya Luffy padanya, bingung tentu saja. Aku tidak bisa melihat, mataku kehilangan penglihatannya secara total, bela si bocah. "Buka matamu! Kalau menutup mata seperti itu, apa yg mau dilihat, kau dungu!"
O-oh, iya, benar, seru Luffy menggaruk kepalanya, sungguh tidak mudeng. Lambat laun, Luffy menggerakkan otot kedua matanya. Sama seperti kali pertama dia membuka mata beberapa saat yang lalu, matanya terasa begitu berat untuk dibuka. Seperti ada lapisan yang melindungi agar matanya terus-terusan tertutup; menyanderanya agar terus menerus melihat dan membuatnya berada di kegelapan yang pekat.
Terlihat, sorak Luffy. Mataku... mataku bisa melihat kembali! Lanjut soraknya luar biasa riang.
"...Kembalilah, Luffy." ujar si cahaya misterius. "...Ini memang sudah dua tahun lamanya, dan aku begitu kangen denganmu,"
Bibir Luffy bergerak tak menentu, matanya juga ikut berair—menahan haru. "Tapi, kau memiliki keluarga aslimu—keluarga yang saling mengasihi satu sama lainnya. Aku bersyukur menitipkanmu pada mereka semua. Kembali... kembalilah, Luffy."
A-aku juga... aku juga kangen denganmu, A...!
"Luffy...!" hardik si cahaya, memotong kata-kata sang raja bajak laut muda. Si bocah terhenti dari tapakan larinya, dan menatap cahaya itu dengan bergelimang air mata. "Aku sudah mati. Tapi... kau lain. Kau masih memiliki masa depan yang begitu cerah bersama rekan-rekan terbaikmu. Jalanilah, Luffy."
Luffy melangkahkan kakinya kembali ke depan. Dia melihat cahaya tersebut semakin tinggi terbang ke langit di atasnya. "Lihatlah ke belakangmu, Luffy. Sahabat-sahabat—keluargamu... menangisi kepergianmu..."
Si bocah mengikuti arahan tersebut, dan membalikkan tubuhnya ke belakang. A-aku sudah... mati? Tanya si bocah, sungguh bingung dan tidak percaya pada kenyataan. A-aku mati...?
"...Luffy, aku bersenang-senang di sini. Kau tidak usah memikirkan aku lagi—kau bisa terus menikmati hidupmu bersama mereka di dunia. Di 'Dunia yang sudah kau ciptakan'." memang tidak nampak, tapi dari cahaya tersebut Luffy serasa menatap senyuman simpul yang begitu dia rindukan sedari dulu, senyuman yang penuh rasa sayang dan rasa persaudaraan yang kental. "Pergilah, Luffy."
"...Pergilah mencari 'cahaya'mu. Gunakan perasaanmu—instingmu, dan kau akan kembali ke kondisimu yang sedia kala." lanjut sang cahaya. "Tidak ada yang mustahil, Luffy. Tidak ada yang mustahil selama kau 'percaya'. ...Hehehe, 'percaya', ya? Kalau itu kau pasti mengerti, 'kan Luffy?"
...'P-percaya'? Si bocah mengencangkan genggaman kedua tangannya, dan mengangguk—tersenyum lebar. Ya, benar, ujarnya. Aku hanya harus percaya!
"...Karena itulah kau merupakan adik tersayangku." ujar sang cahaya, semakin menghilang ke langit di balik awan. "Sekarang kau pasti sudah tidak memiliki masalah lagi untuk mengeluarkan suara. Panggil mereka, Luffy. Panggil mereka semua—mereka yang begitu menyayangimu..."
Cahaya tersebut lalu terdiam, dan menatap wajah Luffy dari balik kemilau gemilangnya.
"'Nah, Luffy... sehat-sehat, ya. Jangan buat aku khawatir di sini... adik bodoh."
Luffy berteriak, memanggil nama pemuda—kakaknya itu. Dia berlari, mengejar cahaya itu dengan susah payah. Mulutnya termegap-megap menghirup napas selagi berlari. Stamina... stamina, ke mana staminaku pergi? Tanya si pemuda bertopi jerami itu. Sakit, kepalanya terasa begitu menyakitkan. Dia tidak mengerti, dan walau memang Luffy selalu tidak mengerti akan semua hal. Tapi, sekarang dia benar-benar pusing, kepalanya sungguh terasa pening. Kakaknya menolongnya, atau ini memang bukan waktu bagi dirinya untuk mati. Karena bagaimanapun juga, dia sudah mati. Luffy sudah mati. Aku sudah mati, kan? Bisik Luffy, merasakan kepalanya yang semakin sakit dan berputar-putar. Berusaha keras, dan melompat-lompat antara pohon yang menjulang tinggi—tinggi sekali ke angkasa, Luffy berniat meraih cahaya itu. Dia tidak ingin gagal meraih kakaknya; dia merasa begitu tidak ingin sekali lagi terpisah dengan kakaknya. Hh... hh... hh... tunggu... tunggu... ujarnya terhenti-henti. "...ACE...!"
Si pemuda bertopi jerami, berpakaian merah tak dikancingkan, dan memiliki bekas luka di bawah mata kiri dan di dada itu tersungkur di atas pohon tempatnya melompat-lompat. Kepalanya terbentur pada sebuah ranting raksasa, berputar-putar, sebelum akhirnya terjatuh ke tanah jauh di bawah sana. Dia terbatuk sedikit, dan mengusap-usap kepalanya; walau memang dia tidak merasakan sakit sama sekali. Syukurlah, bocah karet.
Dengan cepat Luffy membenarkan posisi tubuhnya yang terhempas keras di atas tanah, dan mulai bersujud. Dia membenturkan kepalanya keras, dan menunjukkan ekspresi yang sesunggukkan. "...A-aku, aku tidak ingin kehilangan… aku tidak ingin kehilangan mereka!" ujarnya, memejamkan matanya kuat-kuat seolah meremukkan kedua bola deep ebony miliknya. "Ace... terima kasih. Terima kasih!"
Detakan... kembalilah detakan jantungku. "DETAKKAN KEMBALI JANTUNGKU!" teriak Luffy luar biasa lantang, mengencangkan kedua kepalan di sisi perut dan merentangkan tubuhnya ke langit dengan seluruh kekuatan. Sang raja bajak laut menunjukkan kedudukan tertinggi sebagai seseorang yang berdiri di puncak; melepaskan seluruh 'ambisi warna penguasa' legendarisnya.
Jasad tak bernyawanya berguncang. Lambat laun, guncangan itu mengencang. Seolah mendapatkan kembali roh yang disekap di dunia bawah, tubuh Luffy merejang ke atas tanpa suara kecuali gesekan-gesekan kecil selimut kematiannya.
Saat itu hanya si wakil yang pertama kali menyadari pergerakkan tidak normal pada tubuh tak bernyawa sang kapten. Satu bola mata berpupil hitamnya melebar—luar biasa lebar. Mulutnya juga sedikit menganga penuh rasa takjub.
Tangan kanan jasad Luffy terangkat ke atas secara perlahan. Sungguh lemas nampaknya, terlihat dari betapa pelannya gerak lengan si bocah bertopi jerami itu. "...Luffy...?"
Usopp yang mendengar igauan rekan pertama Luffy itu, bertanya sekaligus menegurnya. "...Ada apa, Zoro?"
Semua kru Luffy tanpa terkecuali terpaku melihat wajah sang pendekar pedang terhebat di dunia itu. Melihat ekspresi Zoro yang begitu terkejut dan dibimbing oleh rasa penasaran masing-masing yang cukup besar, mereka semua menolehkan pandangan menuju mata si rekan pertama mengarah.
Sekarang mereka semua mengerti, alasan mata si pendekar menganga dengan lebar. Mereka pun begitu sekarang. Sial, siapa yang bisa berkata-kata di saat seperti ini—ketika mereka melihat sahabat terbaik mereka menggerakkan tubuhnya setelah... meninggal? Apa mungkin kejadian seperti ini terjadi, tanya semu kru di dalam hati. Yang jelas napas mereka seolah terhenti seketika, menahan degup jantungnya penuh keterkejutan.
"...Ah..." mulai suara berat dari balik selimut putih. "...Anak-anak... ikuti arahku. S-sudah waktunya kembali ber...layar..."
-The Disease will be continued to the next last chapter: The Finale-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar