Chapter 2 second half:
Last night with The crews and knowing the truth Part. 2
Luffy membuka pintu ruang makan dan melihat si koki berambut pirang sedang sibuk mncuci piring bekas hidangan mereka makan malam tadi. Si koki legendaris, satu-satunya koki yang berhasil menemukan All Blue di dunia ini.
"Yo, Sanji." Sapa Luffy seperti biasa.
"Oo, Luffy darimana saja kau?" Tanya si koki membalikkan setengah kepalanya melihat kaptennya di depan pintu. "Masuklah. Mau cemilan? Kau bahkan belum memakan cemilanmu tadi..."
"Hahahaha boleh Sanji, kebetulan perutku mulai lapar sedikit."
"Haha, syukurlah, nafsu makanmu tampaknya sudah kembali lagi." Sahut Sanji tertawa ramah. "Sebentar ya, aku membereskan piring-piring ini."
"Ok. Oi Sanji, apa ini? Yang seperti keripik ini?"
"Ooh itu keripik udang. Kalau mau makan saja..." Jawab Sanji dari dapur.
"Hwoo, wenak bwangget. Udwang emwang wenak banggwet, ga kwalah dwari dwagwing. Shishishi." Lanjut Luffy tertawa dengan keripik udang dimulutnya.
"Hoi, Luffy seperti biasa, jaga sopan santunmu di ruang makan, bodoh!" Bentak Sanji pelan dari dapur.
"Hahahaha. Mwaaf, mwaaf."
-selang waktu beberapa menit,
"Yup, itu yang terakhir." Ujar Sanji meletakkan piring terakhir di rak piring.
"Nah, Luffy kau mau cemilan apa?" Tanya Sanji. "Ha? Ee, oi! Jangan kau habiskan semua, bodoh!"
"Yaah, sudah habis, Sanji..."
"...Hah, sudahlah. Kesalahanku tidak bilang 'jangan dihabiskan' tadi." Sesal Sanji menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya, sudah. Kau ingin cemilan apa ?" Tanya Sanji, menyalakan sebatang rokok di bibirnya. "Atau, tidak usah lagi saja ya? Kau sudah menghabiskan kripik udang kita barusan."
"Yaah, mau gimana lagi sanji, udang dari All Blue enak 'sih..." Jawab Luffy polos sambil mengelap mulut dengan tangannya.
"...Haha, kau benar juga." Sanji tersenyum, seolah setuju dengan pernyataan Luffy barusan. "Baiklah, bagaimana kalau kita buat Pizza Seafood?"
"Ooo! Mau, mau, MAU! Aku mau pizza, Sanji!" Jawab Luffy semangat seperti tingkahnya yang biasa.
"Haha, oke, oke. Kita lihat…, masih ada sisa tuna gajah dan udang La north dari All Blue di kulkas. Baiklah bagaimana kalau itu saja." Usul Sanji. "Jangan terlalu boros dengan ikan-ikan All Blue lainnya di akuarium, kau tahu?"
"Wohoo, asik asik! Aku tidak sabar!" Ujar Luffy semakin bersemangat dari sebelumnya. "Ikan-ikan All Blue memang paling enak!"
Sanji tersenyum melihat kaptennya begitu menghargai makanan seperti itu-'tapi pelaksanaan makannya benar-benar mesti diatur'pikir Sanji.
"Tapi ingat, kau juga tidak boleh menyia-nyiakan makanan dari lautan lainnya, Luffy." Sahut Sanji saat menggeledah bahan-bahan yang ia butuhkan dari kulkas di dapur.
"Shishishi, tentu saja!"
Sanji membuat pizza pesanan kaptennya dengan sangat lihai. Jari-jarinya begitu ahli memainkan adonan dan memotong bumbu-bumbu dapur. Luffy yang menunggu dengan tidak sabarpun memperhatikannya dengan seksama.
-setelah beberapa menit-
"Ini dia pesananmu kapten, 'Pizza Tuna La north'" Ujar Sanji seperti memperkenalkan karya agungnya. "Silahkan dinikmati."
"Oh waw, baunya saja sudah lezat!" Sahut Luffy melompat-lompat di bangkunya. "Kumakan ya, Sanji."
"Setelah kau duduk dengan rapih tentunya, Luffy." Lanjut Sanji duduk di bangku di depan si pemuda itu.
"Oh, ok." Luffy pun membenarkan cara duduknya demi mendapatkan pizza 'apalah ini namanya', pikirnya.
Persis, sebelum Luffy memasukkan potongan pizza pertama ke mulutnya, ada seseorang yang memotong kebahagiaan si pemuda.
"Oh ho...jadi kalian sudah pintar ya, membuat cemilan tanpa mengajakku saat menyantapnya." Sahut Nami si navigator, si kucing maling, si kepala oranye, dan si penguasa pohon mikan alias balkon atas—dari arah pintu masuk ruang makan.
"Hegh? Nami-san, eeh itu..." Sanji terkejut melihat Nami yang datang secara tiba-tiba dan si pria pirang tersebut mulai salah tingkah. "Ee...Soalnya tadi Luffy belum mengambil jatah cemilannya, jadi aku... sebagai koki... itu..."
"Sudah cukup. Tidak usah pakai alasan apa-apa, S-a-n-j-i – k-u-n." Sahut Nami dengan nada yang mengerikan di akhirannya.
"Eeh, jadi?" Sanji mulai panik mendengar Nami mengeluarkan nada menakutkan bin horor tersebut.
"Kau." Ujar Nami mulai berjalan ke dalam ruang makan.
"Eh?"
"Harus."
"Ya?" Sanji mulai mengeluarkan keringat dingin dari sekujur tubuhnya.
Luffy yang menyaksikan, hanya membuka mulutnya—di mana hanya ada jarak beberapa mili lagi sebelum pizza nikmat itu memasuki mulutnya. Dia memperhatikan gerakan Nami yang semakin mendekat kearah mereka bertiga. Ya, Sanji, Luffy dan si pizza. Si pemuda karet itupun mengeluarkan keringat dari sisi kanan dahinya menuju dagunya, melihat pemandangan mencekam itu.
"kau harus...membawakan cemilan ke ladang mikan-ku habis ini!" Lanjut Nami dengan mencomot satu potong pizza milik Luffy.
"Oi, Nami! Itu pizza-ku tauk!"
"Week." Nami meledek Luffy.
"Uugh, awas kau, ya!" Luffy mulai beranjak dari bangku, dan mengejar Nami.
"Sanji-kun, ga pake lama ya! Kalau lama, ''nih'!" Nami mengangkat kepalan tangannya tinggi.
"Week, Luffy bodoh! Kejar aku kalau bisa!" Lanjut ledek Nami pada Luffy sambil menggigit satu potong pizza di tangan. "Mm, lezat...seafood, ya?"
"Huh, kalau aku sedang tidak makan—kau pasti akan ku kejar." Ujar Luffy berhenti mengejar di depan pintu ruang makan, melihat tangan kanannya yang memegang pizza.
"Haah, itulah Nami-swan-ku. Selalu membuatku terpesona melihat kelakuan nakalnya." Ujarnya melihat Luffy dan membayangkan Nami dengan mata 'hati' si pria pirang ini.
"Huuh, huh, Dasar si Nami itu!" Sahut Luffy kesal saat sudah memasuki ruang makan kembali.
"Sudah, sudah, habiskan saja sisa pizza-mu yang lain. Masih banyak 'kan di loyangnya?" Saran Sanji pada Luffy yang sedang kesal setengah mati.
Sanji mulai mempersiapkan cemilan malam untuk Nami-san-nya yang tersayang. Mengetahui waktu sudah malam, dia sesedikit mungkin menggunakan gula. Dia mempersiapkan beberapa adonan tepung dan beberapa buah mikan di dekatnya. 'hmm, bagaimana kalau orange pan cake dengan saus coklat segar diatasnya?' pikirnya. Dia memiliki banyak stok cocoa murni yang rendah akan kalori di lemari persediaan. Dan si koki handal inipun menyiapkan madu berkualitas tinggi disebelahnya, sebagai pengganti gula.
"Hmm, perfect." Ujarnya.
"Kwayaknwya enwak, Swanjwi. Bwuatkan akwu swatu."
"Habiskan saja dulu pizzamu yang masih banyak itu!" Bentak Sanji pada Luffy dengan wajahnya yang biasa saat mengomeli Luffy, wajah kartunik bertaring.
Selagi Sanji menyiapkan pan cake spesialnya untuk Nami, Luffy terus memakan pizza miliknya dengan sangat lahap. Hingga pizza itu habis seperti tersambar kilat—ya bersih, kau tahu—yang makan Luffy, Sanji masih sibuk menyiapkan kue-nya di dapur.
Luffy berdiri dan berjalan menghampiri Sanji yang berada di dapur.
"Wah, kelihatannya enak Sanji..." Sahut Luffy menjulurkan lidah dari belakang si koki.
"Kalau kau mau, besok saja kubuatkan, ok?" Lanjut Sanji tersenyum. Masih dengan sebatang rokok di bibirnya, dia melanjutkan karya agungnya.
"Sanji..."
"Apa?"
"Aku belum pernah mengatakan ini sebelumnya..." Ujar Luffy dari belakang Sanji dengan nada cukup serius untuk orang seperti dia.
"Apa...?" Sanji pun membalikkan badannya, membiarkan pan cake nya yang sudah hampir selesai. Hanya tinggal di beri saus coklat rendah kalori dan beberapa sentuhan terakhir, seperti meletakkan daun mint segar diatasnya—karya agung untuk dewinya telah siap.
Setelah menghembuskan asap rokok ke langit-langit dapur, dia mengapit rokok tersebut di sela-sela jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya. Dan menatap wajah Luffy lurus.
"Terima kasih sudah memenuhi permintaanku yang macam-macam." Sahut Luffy santai dengan wajah bodoh namun ramahnya.
"Hm? Apa itu, Luffy? Apa maksudnya, kata-katamu barusan?" Sanji menatap kaptennya dengan wajah penuh tanda tanya.
"*uhuk uhuk*Tidak ada, aku hanya takut tidak sempat..." Lanjut Luffy. Terbatuk diawal kalimatnya.
"...? Kau sakit, ya...?" Tanya Sanji setengah cemas dan setengah bingung, mengangkat alis melingkar-nya
"...Tidak."
"Sebaiknya kau ke klinik Chopper. Meskipun sudah larut, aku yakin dia masih bangun."
"Ya, aku baru mau kesana. Terima kasih untuk hidangannya, Sanji. Pizza tadi sangat luar biasa lezat." Sahut Luffy berjalan ke arah lift di sisi meja dapur.
Lift ini menghubungkan balkon atas ladang pohon mikan Nami juga kebun bunga Robin. Dan ruang dibawahnya seperti, Usopp's factory, Franky's workshop, dan Chopper's clinic.
"Ha? Hidangan...?" Tanya Sanji terheran-heran melihat kaptennya memasuki lift menuju basement bawah Thousand Sunny.
"Ada apa dengannya? Aneh sekali..." Sanji memikirkan kata-kata Luffy barusan 'Terima kasih sudah memenuhi permintaanku yang macam-macam' dan 'aku hanya takut tidak sempat'. "Apa itu? Seperti kata-kata terakh...aaagh! apa yang kupikirkan!"
"...Luffy..."
*Tok tok*
Pintu klinik Dokter Chopper berbunyi. Suara ketukan itu berasal dari si kapten. Tidak lama pemuda itu mendengar sebuah suara imut dari dalam ruangan klinik itu.
"Ya, masuk."
Nuansa klinik seperti biasa. Bau antiseptik memenuhi ruangan itu. Meskipun begitu, ada suatu wangi yang samar-samar sangat menenangkan. Itu adalah wangi bunga, ya, bunga sakura.
"Hai, Chopper. Belum tidur?" Sapa Luffy dengan senyuman lebarnya.
"Eh, Luffy! Kemana saja daritadi?" Lanjut Chopper dengan suara imutnya.
"Tidak dari mana-mana 'kok. Aku hanya bersantai di crow nest tadi."
"Oh, begitu" Ujarnya dengan suara lega.
"Memangnya kenapa Chopper?" Tanya balik Luffy. Dia duduk di kasur pasien, sementara Chopper duduk di bangku dokternya.
"Tidak ada apa-apa. Cuma tadi cepat sekali selesainya bercandaku dengan Usopp. Alhasil aku punya waktu luang lebih untuk meracik bahan-bahan obat-obatanku.
"Begitu?" Sahut Luffy. "Bagus 'kan kalau begitu, dengan itu kaupun akan menjadi semakin matang sebagai dokter terhebat di dunia."
"Eh? 'Dokter terhebat di DUNIA'?" Sentak Chopper menekankan kata 'dunia'. "Ka, kau pikir aku senang mendengar pujianmu itu, dasar brengsek...!" Lanjut Chopper dengan tarian kecil dan wajah yang tampak sangat senang.
"Hahahaha..." Tawa riang Luffy. "Oke, kalau begitu lanjutkan saja kerjamu. Aku tidak akan ganggu."
"Hihihi, baiklah Luffy..." Lanjut Chopper tertawa kecil.
Chopper pun melanjutkan kerjanya, meskipun hari sudah mulai larut, tapi wajah imutnya itu tidak menunjukkan kelelahan sedikitpun. Wajah itu tampak benar-benar bersungguh-sungguh dalam melakukan peracikkan obatnya ini. Memang jiwa 'dokter sejati' tersimpan di dadanya. Pemuda kecil itu mengaduk ramuan-ramuan-nya, mancampurkan beberapa ramuan jadi satu dan diaduk bersama. Hingga pada akhirnya dimasukkan per-set sesuai kegunaannya.
Luffy memperhatikannya sambil rebahan di kasur pasien. Melihat kesungguhan Chopper dalam bekerja.
"Wah, kau hebat ya, Chopper!" Sahut Luffy dari atas kasur.
"Eh? Jangan menyogokku dengan memujiku ya, brengsek! Sini kalau mau lihat lebih dekat, duduk di kursi ini, dan silahkan lihat yang kau mau, sialan...!" Sekali lagi Chopper menari-nari kegirangan dan menarik kursi dari sebelahnya.
"Hahahaha, oke!"
Luffy berdiri dan duduk disebelah Chopper, dibangku yang telah disediakan pemuda kecil itu.
Chopper kembali memasang wajah seriusnya. Luffy juga kembali memperhatikan dia bekerja.
"Chopper..."
"Ya, Luffy." Sahut Chopper menatap wajah kaptennya itu.
"Apa kau sedih...?"
"Sedih kenapa, Luffy?" Tanyanya.
"Rekan-rekanku yang lainnya sudah berhasil meraih impiannya, tapi kau..."
"...Itu..." Chopper yang malang, dia hanya bisa menunduk memandangi meja. "Sebenarnya aku sedih, ...tapi selama aku bisa berpetualang bersama kalian terus, itu sudah cukup bagiku..." Menyadari impiannya adalah menciptakan elixir/panacea, penyembuh segala macam penyakit, itu adalah impian yang sangat berat.
"Tidak Chopper. Itu tidak cukup...!" Potong Luffy dengan nada suara yang tinggi.
"Eh!" Sentak Chopper.
"Aku tahu kau bisa, Chopper." Luffy menyemangati Chopper, menepuk lembut topi rajutan berwarna merah muda milik si dokter tesebut. "Bahkan sekarang pun, kau adalah dokter terhebat. Tak seorangpun di kapal ini yang sakit lebih dari sehari- semua sembuh berkat dirimu, Chopper."
"Luffy...!" Chopper terkejut, bahwa kaptennya benar-benar memperhatikan hal-hal kecil seperti itu. Mata si dokter membesar menatap kaptennya.
"Karena itu aku percaya, kau pasti bisa meraih impianmu suatu hari nanti. Aku percaya..." Lanjut Luffy, nada suaranya memelan tapi dengan keyakinan yang tinggi. "Walaupun suatu saat nanti aku tidak bisa..."
"Eh? Apa Luffy...?" Tanya Chopper bingung.
"Ah, tidak, tidak ada." Jawab Luffy ceria. "Aku yakin kau pasti bisa, Aku percaya padamu Chopper! Berjuang, ya!" Lanjutnya sambil menepuk-nepuk punggung mungil dokter kapalnya.
"...Hihi, iya Luffy!" Jawab Chopper semangat dan tersenyum lebar.
"Bagus! Itu baru semangat! Shishishi..."
"Hihihi..." Lanjut tawa Chopper.
"Nami-san..." Sanji mengantarkan pesanan Nami ke balkon atas.
Seperti yang sudah diduga Nami sebelumnya, Sanji membuatkan cemilan yang benar-benar spesial untuknya.
"Waah, tampaknya lezat sekali. Apa ini, Sanji-kun?" Tanyanya penasaran.
"Um, ini orange pancake dari kebunmu..."
"Sungguh! Boleh kucicipi?" Tanyanya semakin penasaran.
"Te, tentu, Nami-san. Ini memang kubuat khusus untukmu...silahkan, mademoiselle." Ujar Sanji lembut.
Nami memotong sedikit pinggiran pancake dan menusuknya dengan garpu, sebelum dimasukkan kemulutnya.
"Umm, yummy." Ujar Nami dengan garpu masih di mulutnya. "Nikmat sekali, Sanji-kun!"
"I, iya. Terima kasih, mellorine." Jawab Sanji tersenyum namun, walaupun senang mendapat pujian dari Nami, masih ada yang menghambat kebahagiaannya saat ini.
"..." Nami memperhatikan raut wajah Sanji dengan teliti yang menunjukkan siluet garis resah. "Mm...ada masalah, Sanji-kun?"
"...Sebenarnya tidak. Tapi ada yang mengganjal perasaanku daritadi..." Jawab Sanji jujur.
"...Ya? Apa itu?" Tanya Nami lembut.
"Luffy, 'kan? Sanji..."
"! Marim...Zoro..." Sanji terkejut melihat si pendekar berdiri dibelakangnya tiba-tiba. "Ya benar. Aku...mencemaskan Luffy, Nami-san."
"..." Nami terdiam memperhatikan Sanji setelah melihat kedatangan Zoro. Pandangannya dalam. "Aku...aku juga merasakan kejanggalan pada diri Luffy. Tapi, kupikir sudah tidak apa-apa, karena...dia sudah ceria lagi..."
"Tapi, tadi Nami-san..." Lanjut Sanji sedikit ragu. Memutar ingatannya. "Dia memintaku untuk memaafkan semua kesalahan dan kelakuannya selama ini! ...ti, tidakkah itu aneh...?"
"Dia juga...memintaku menggantikannya menjadi kapten..." Lanjut Zoro dengan perlahan, tidak memberi celah antara kata-katanya dengan Sanji. "Luffy yang kukenal, tidak, Luffy yang kita kenal pasti tidak akan pernah mengucapkan itu. Dia adalah orang teguh pada pendiriannya." Zoro tidak memperhatikan dua sahabatnya dan terkesan berbicara sendiri melihat lautan hitam malam hari.
Sanji dan Nami memperhatikan si wakil kapten berbicara, dan kembali termenung dan merunduk.
"Apakah kalian pikir, menanyakan 'bagaimana rasanya mati' itu biasa...?"
"Brook...!" Sahut Nami melihat si tengkorak musisi berjalan kearah mereka selangkah demi selangkah, seolah tidak terdengar tapak kakinya dimalan sehening ini. "Apa...maksudmu, Brook?"
"Zoro-san juga kupikir mendengar pertanyaan itu..." Lanjut si tengkorak.
Zoro hanya mengangguk, menanggapi pernyataan Brook barusan. Masih tidak melihat mereka semua. Tidak jelas apa yang dipikirkannya, tapi walaupun samar-samar tersirat kecemasan di air wajahnya.
"...Apa maksudnya? Luffy...?" Ujar Sanji geram, menyalakan rokoknya.
"Sebaiknya salah satu dari kita mencoba bertanya padanya..." Ujar Franky tiba-tiba. Dia berjalan bersama Robin dan Usopp dari arah dek bawah. Namun Robin hanya diam disamping mereka. Wajahnya merunduk menatap lantai kayu, seolah menghitung setiap langkahnya dengan lemas.
"Aku tidak mungkin..." Potong Zoro, setelah memperhatikan wajah Robin dan merasa sedikit curiga pada wanita berambut gelap itu. "..."
-sementara-
Luffy berjalan lewat balkon bawah. Dia membuka pintu dan kini dia berada di dek rumput kembali. Sepanjang jalan dari klinik Chopper, tubuhnya semakin lemas. Dia berjalan ke dek dengan memegang dinding sepanjang lorong. Napasnya juga mulai tidak stabil kembali. Mungkin pilihan salah, karena tidak melaporkan keadaannya pada Chopper. Tapi, ini lebih baik, si kapten tidak ingin membuat dokter-nya cemas.
Berjalan di dek rumput, dia berusaha mencari satu sahabatnya yang terakhir. Si navigator berambut oranye. Nampak seperti ingin bertemu untuk yang terakhir kalinya, ia memperhatikan kekanan dan kekiri sekitarnya. Melebarkan pandangannya melihat lautan luas yang gelap dari kapal. Ditengah pandangan yang samar-samar dia merasa tubuhnya semakin lemas, sebelum akhirnya terbaring jatuh ketanah.
"...Nami-san...tolong..." Mohon Sanji pada Nami. "Hanya kau..."
"..." Nami terdiam sebelum menjawab. "Baik. Dimana Luffy?"
"Luffy di klinik Chopper...aku tidak sengaja melihatnya masuk kesana tidak lama ini..." Sahut Usopp dengan wajah yang sangat cemas, masih dengan buku teka-teki ditangannya. "Kupikir aneh sekali—reaksi Luffy tadi...bukan begitu, Robin?"
"..." Robin tidak menjawab apa-apa. Wanita itu masih terdiam dan merunduk, mengerutkan alis mata dan menutup mata memalingkan wajahnya dari semua rekannya.
Sanji menyadari sesuatu yang ganjil. "Robin...-chan...?"
"Baiklah aku akan ke klinik sekarang..." Potong Nami dengan segera, meletakkan pancake mikan di bangku pantai miliknya.
"Kami akan menunggumu disini, Nami-san." Ujar Brook tenang. Sangat berbeda dari sikapnya yang biasa.
*Tok tok*
"Chopper, Chopper. Kau ada?" Sahut Nami sambil mengetuk pintu terburu-buru.
"Ya, masuklah!" Balas Chopper melihat Nami yang terengah-engah. "Ada apa Nami? Terburu-buru sekali..."
"Chopper, Luffy mana?" Tanya Nami setelah memutar-mutar pandangannya ke seluruh penjuru ruang kerja Chopper dengan sigap. Sangat panik, seolah berlomba dengan setiap hembus napasnya.
"Luffy?" Tanya balik Chopper dengan wajah polos. "Luffy baru saja keluar, Nami. Ada apa?"
Tanpa menjawab, Nami dengan segera berjalan kearah dek rumput kapal. Meninggalkan Chopper terheran-heran di bangku dokternya.
"Anak itu! Giliran dicari, susahnya minta ampun!" Sahut si navigator sedikit kesal.
"...Ada apa?" Tanya Chopper menengokkan kepala dari pintu ruangannya.
"Chopper..."
"Sanji...? ada apa ini sebenarnya?"
"...Ikut aku Chopper..." Sanji menggenggam tangan Chopper menuju arah sebaliknya dari arah Nami berjalan. Mereka berdua berjalan menuju balkon atas, tempat rekan-rekan yang lain berada.
Nami akhirnya sampai di dek rumput, melalui pintu balkon bawah. Memutar-mutar pandangannya kembali untuk mencari si kapten. Dia menemukannya. Si kapten terbaring telentang di atas dek, menatap bintang di langit luas dengan sangat santai dan tenang.
"Luffy!"
"Oh, Nami? Sini, sini!" Sahut Luffy riang melihat gadis berambut jingga itu. "Lihat, bintangnya benar-benar bagus." Lanjutnya mengangkat sebelah lengannya dan menunjuk kearah langit gelap tak berawan yang ditaburi milyaran bintang.
"...Apa 'sih kau ini?" Bentak Nami berjalan kearah si kapten, setelah memperhatikan langit diatasnya sesaat. "Luffy!"
"...Apa...?" Jawab Luffy panjang dan malas-malasan. Dia kemudian memangkukan kepalanya diatas kedua tangannya.
Nami terdiam melihat pemuda itu dibawahnya. Wajah gadis itu tidak menunjukkan kemarahan, tapi raut wajah yang sangat khawatir. Lagipula pada awalnya dia tidak punya alasan memarahi kaptennya—Kaptennya sang Raja bajak laut.
"...Nggak jadi ya?"
"Uukh! Luffy...!" Teriak Nami, menghempaskan kedua tangannya disisi pinggangnya. "Kau kenapa?"
"...Tidak lama lagi...Nami." Jawab Luffy tenang dan tidak berekspresi. Dia masih terus memandangi langit malam.
"...Apa?" Nami duduk bersimpuh tepat di sebelah si kapten. "...Ya, kita tidak lama lagi akan mendarat di pulau berikutnya..."
"...Bukan itu..."
"...? Luffy, jangan sepotong-sepotong seperti itu kalau bicara...!"
"Hehhe, bagaimana peta duniamu, Nami?" Tanya Luffy mengalihkan pandangannya pada si navigator, melihat si rambut jingga dengan matanya yang menatap gadis itu seorang. Memberikan senyuman lebar dibibirnya.
"...Ke, kenapa memangnya?" Tanyanya terkejut dan grogi merespon mata si kapten yang menatapnya lurus.
"Apa masih ada tempat lain yang bisa kukunjungi...?"
"Tentu saja, bodoh! Kau 'kan kapten kapal ini" Jawab Nami dengan nada meledek. Dia tersenyum, mendengar pertanyaan bodoh kaptennya itu. "Kaulah yang membimbing kami ke pulau baru. Dan aku akan mulai menggambar denah pulau itu begitu mendarat."
"Shishishi, sudah pasti, ya..." Lanjut Luffy dengan cengiran lebar.
*uhuk uhuk* Si kapten terbatuk di tempatnya.
"Lu, Luffy. Kau tidak apa-apa...?" Tanya Nami mulai kembali kepada kecemasannya sebelum ini. "Kau sedang sakit, ya?"
"...Nami, sudah lama sekali, ya?"
"...?" Nami tidak menjawab, dia hanya menunjukkan ekspresi bertanya-nya.
"Sejak aku menghancurkan ruang kerjamu di Arlong Park..." Lanjut Luffy tersenyum, kembali menghadap si navigator.
"...Iya, sudah tiga tahun yang lalu..." Lanjut Nami ragu-ragu, merasa diseret untuk menjawab kata-kata Luffy, kaptennya.
"Kau marah padaku...?"
"Untuk apa?"
"Di ruangan itu, tersimpan banyak hasil kerja keras dan keringatmu dari kecil...bukan?"
"...Bodoh!" Nami menepuk pelan kepala Luffy. "Aku tidak pernah memikirkannya sejauh itu, kau tahu?"
"Jadi...kau tidak marah?"
"Ya, ampun Luffy. 'Kan kau sendiri yang bilang, kalau ruangan seperti itu tidak boleh ada. Aku juga pribadi, sama sekali tidak butuh peta dunia yang ditulis dengan 'darah'ku." Jawab Nami tersenyum tulus menatap kaptennya, merangkai ingatan pahit namun dengan kedatangan Luffy, tak ada lagi yang namanya ingatan menyakitkan. "Peta-peta itu tidak lebih dari masa lalu pahit yang tak bisa kulupakan. Dan sekarang aku bisa menggambar peta dengan 'keceriaan'—itu semua berkat kau Luffy. ...Terima kasih."
"..." Luffy tersenyum lebar, menunjukkan ekspresi lega. "Tidak perlu berterima kasih, Nami. Kita Nakama, 'kan?"
"Ya...Nakama." Senyuman lebar tersungging di wajah Nami. Dia teringat akan kaptennya tesebut saat dulu-berteriak hal serupa setelah menghajar Arlong.
Nami tertawa kecil.
"Nami..."
"Ya...?" Sahut Nami sambil menghapus sedikit air mata tawanya dengan jari telunjuk kanan.
"Maukah kau terus membuat peta dunia...?"
"...Apa maksudmu, Luffy? Itu sudah pasti, 'kan...?"
"Kau janji?" Luffy melihat wajah navigatornya dengan tatapan lurus.
Kemudian dia mengangkat tangan kanannya dan mengacungkan jari kelingkingnya.
"Apa sih, Luffy...? apa perlu sampai berjanji kelingking segala?" Tanya Nami malu-malu, wajahnya sedikit memerah. "Ki, kita 'kan sudah bukan anak-anak lagi..."
Luffy tidak membalas kata-katanya, hanya memandang wajah si rambut oranye lurus—dia menunggu jawaban.
"Ba, baik..." Nami akhirnya menyerah dan mengangkat kelingking kanannya.
'Shishishi' itulah yang diberikan si kapten, ketika Nami mengait kelingkingnya dengan jari kelingking si pemuda yang sudah menunggu daritadi.
"Beeerjaanji! Kalau ingkar akan dikelitiki sampai pingsan. Setuju?"
"Hii! Apa-apaan hukumannya itu!"
"Setuju?" Luffy tidak mau kalah dan semakin mengeraskan suaranya.
"I...iya setuju! Terserah kau saja!" Jawab Nami. Walaupun ragu, ia membalas si kapten dengan suara tinggi juga.
"Baguslah...aku lega Nami, hahaha...!"
*uhuk uhuk...Uhuk uhuk!*
"Lu, Luffy...!"
-sementara itu-
Angin malam mulai mendingin. Memang waktu sudah menunjukkan pukul 11.55, tapi mata semua kru masih terbuka dengan lebar. Mendengar pernyataan dari Robin mengenai keadaan Luffy saat ini, seluruh anggota topi jerami tidak dapat menyembunyikan ekspresi terkejut mereka. Angin dingin tengah malam seolah menusuk setiap tulang mereka, memberikan perasaan merinding.
"Luffy...!" Teriak Chopper kaget. Nada suaranya semakin bergetar. "Ke, kenapa tadi dia tidak bilang apa-apa padaku?"
Sanji dan Zoro hanya diam mendengar pertanyaan Chopper, sebelum menjawab bersamaan. "Itu karena...!"
Mereka saling tatap, tidak kesal—hanya ragu. Mengingat situasi saat ini, tidak ada gunanya saling mementingkan ego sendiri. Seperti mereka yang biasanya.
"...Kau saja Zoro..."
"...Kami pikir itu mungkin karena dia tidak ingin membuatmu cemas, Chopper..."
"Tapi...tapi, aku 'kan dokter kapal! Itu adalah pekerjaanku!" Jawab Chopper semakin tidak tenang dan mulai berlinang air mata. "Aku...aku hanya takut penyakit Luffy bisa...membahayakan tubuhnya...*hiks hiks*aku...aku..."
"Chopper..." Ujar Robin mengelus topi rajutan Chopper—si rusa kutub yang sedang terduduk lemas itu.
"Chopper, ini bukan salahmu. Ayo kita hampiri Luffy..." Saran Usopp, menunjukkan wajah yang benar-benar khawatir pada situasi saat ini. Namun seperti Usopp biasanya, berusaha memberanikan diri walaupun takut.
"Baiklah. Kalau begitu kita berpencar mencari Luffy-san di seluruh sisi kapal." Sahut Brook dengan bijak. Mengingat dialah yang tertua.
"Itu lebih baik daripada diam disini..." Lanjut Franky menatap buaian kapal, lurus ke arah haluan utama. Merasakan angin malam yang stagnat secara tiba-tiba, ia sedikit terkejut.
Saat mereka berusaha beranjak dari balkon atas, terdengar suara jeritan Nami dari balkon bawah. Bukan suara teriakkan Nami yang biasanya—teriakkan ini diisi dengan rasa takut bercampur rasa cemas dan respon tiba-tiba yang memicu kekhawatiran luar biasa.
"SEMUANYA-! DOKTER-! CHOPPER!" Teriak Nami histeris berlinang air mata diwajahnya. "SIAPA SAJA! *hiks hiks* LUFFY! LUFFY-!"
"Nami-san!" Kejut Sanji sehingga rokok dibibirnya terjatuh. Dia secara respon berlari kearah balkon bawah dengan sangat cepat- diikuti oleh rekan-rekan lainnya.
Mereka berlari menuruni tangga, ekspresi cemas dan khawatir mengisi wajah mereka semua. Chopper mulai bergelinang air mata kembali, menahan air mata dengan menggigit bibir bawahnya. Begitupula Usopp.
Begitu sampai di balkon dek rumput, mereka menyaksikan pemandangan horor—pemandangan paling menakutkan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Di pangkuan si navigator, terbaring sosok kapten mereka—bukan kapten mereka yang selalu ceria seperti biasa, melainkan sosok tidak berdaya—bersimbah darah dari mulut dan hidung, membanjiri baju katunnya dan paha putih Nami. Sang kapten, Luffy si topi jerami—berbaring tidak sadarkan diri di pangkuan Nami.
"Luffy!" Teriak Robin.
"Astaga! Luffy-san!" Lanjut Brook berlari ke arah navigator.
"Luffy!" Sahut Zoro dan Sanji, berlari bersamaan dengan Brook ke arah Nami.
"...Ti, tidak mungkin...aah! Nico Robin!" Sahut Franky melihat Robin yang mulai tumbang ketanah tidak sadarkan diri. Dengan cepat dia berhasil menahan wanita itu jatuh menggunakan satu tangannya.
"Ti...tidak mungkin...ini bohong 'kan?" Tanya Usopp gemetar di tempat, bendungan air matanya tidak bisa bertahan lagi.
"Bo, bohong...? Lu...Luffy...?" Lanjut Chopper, wajahnya nampak normal, namun air matanya menetes. Merasa tidak percaya akan apa yang dilihatnya.
"I, ini mimpi buruk...ya, ini mimpi buruk...'kan Luffy?" Sahut Usopp gemetar terdiam ditempat—air matanya mengalir deras. "Luffy-!"
Usopp berlari dengan cepat ke arah Luffy dan Nami.
"Mimpi buruk...? mimpi...*hiks hiks* bu...ruk...? *hiks* Luffy..." Chopper mulai berjalan tak dapat mengontrol badannya dan mulai menangis—memenuhi wajahnya dengan air mata.
"LUFFY-!"
-To Be Continued-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar