CaHyOo EiMi
Powered By Blogger

menyapa

Dialog me


'hi guyzzz'

Cari Blog Ini

Selasa, 07 Desember 2010

The Disease » by Shimacrow Holmes ch 3

The Disease

Chapter 3: They Are Mourning

Pemuda itu berjalan di tengah cahaya yang begitu terang benderang lagi meyilaukan. Tubuhnya terasa begitu ringan dan begitu menyenangkan untuk digerakkan. Luffy melangkah secara perlahan, menyaksikan ke seluruh penjuru di mana dirinya berada. Pemuda yang kini memperoleh gelar Raja bajak laut itu tersandung secara tiba-tiba, terjatuh di atas hidungnya. Dia meringkih kesakitan, memegangi hidungnya yang memerah. Luffy lalu menolehkan wajah ke belakang, melihat akar pohon yang mencuat dari dalam tanah; yang rupanya penyebab si bocah itu tersungkur. Menggaruk dadanya yang memiliki bekas luka luar biasa besar, di susul menggaruk kepala—benar-benar blank dengan situasi, Luffy berdiri dan melanjutkan jalannya.

"Haloooo!" sorak Luffy. Dia terus celingak celinguk ke sekelilingnya seperti anak kecil yang kehilangan ibunya di taman bermain. "Ada makanan di sini?" lanjut teriaknya. Dia kemudian berhenti tiba-tiba, memiringkan kepala dan memangkukan dagu pada tangannya berpikir tanpa juntrungan. "Loh... ada makanan di sini...? Atau ada daging di sini? Yang mana yang benar, ya?"

Dibuat bingung, Luffy mengangkat bahunya dan kembali melangkah ke depan. Namun bahkan mana arah depan pun dia tidak tahu secara jelas. Dia hanya berjalan ke mana mukanya menghadap, dan di sinilah dia berhenti.

Kabut putih menyilaukan di sekitar Luffy tiba-tiba sedikit demi sedikit menipis. Embun yang penuh dengan kadar air itu mencair di wajah Luffy. Si pemuda menjulurkan lidahnya, dan merasakan tiap cairan yang dapat diterima lidahnya. "...Hwaus... (haus)"

Luffy kemudian menatap kakinya, mendengarkan gesekan yang sudah sangat familiar di telinganya. "...Rumput?" Kaki Luffy nampak menginjak tumpukan rumput yang seperti biasanya dijumpai di lapangan-lapangan luas. Dengan semakin cepatnya kabut embun tersebut memudar, Luffy menyadari seonggok pohon yang tumbuh tinggi di sebelahnya. Menjuntai tinggi ke langit berawan, Luffy mendongakkan kepalanya menghadap ke atas sana. "Tingginya—!"

Telinga Luffy kembali mendapatkan sense-nya yang normal. Mengalihkan wajah dari puncak pohon di atas sana, Luffy kembali berjalan beberapa langkah sehingga bertemu dengan aliran sungai yang sangat jernih. "Air!" sorak si bocah, berlari ke tengah sungai dan mengambil beberapa tampung air dengan kedua telapaknya.

Tersenyum dengan riang, dia melanjutkan pencariannya (?). Hanya beberapa kaki Luffy berjalan setelah itu, perutnya berbunyi dengan liar tak bisa terkendali. Ayam-ayam di perutnya nampaknya sudah sangat kelaparan sekali sekarang. Dia memegangi perutnya, dan merengek minta makan. "Lapaaar... Sanji, makaaan. Dagiiing..."

Sunyi senyap, tak ada yang membalas rintihan Luffy—baik mulut dan perutnya. Luffy memutar-mutarkan pandangannya, ke kiri, ke kanan, ke belakang, dan kembali ke depan. "...Sanji? Zoro, Usopp...!" soraknya, semakin kencang. "Hei, kalian dimana? Nami! Chopper, Robin! Franky, Brook...!"

Barulah insting Luffy sepenuhnya kembali. Ekspresinya nampak kelabakan, dan penuh dengan keringat dingin. Luffy berlari berputar-putar di tempatnya berdiri, tak bisa tenang. Semakin panik, Luffy meremas rambutnya dengan satu tangan. Di susul dengan satu tangan lagi, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. "Hei! Kalian dimana, teman-teman!" teriak Luffy semakin keras.

"Jawab aku!" jeritnya.

Tubuhnya membeku, kelelahan. Kepalanya tertunduk, tertunduk lemah menatap kakinya. Jangan lagi, batinnya merintih. Luffy menggeleng dengan kencang, dan lalu mengencangkan kepalan tangannya. "...Jangan. Jangan ada yang berpisah lagi..." gumamnya, pelan seperti berbisik. "Jangan ada yang berpisah lagi!" lanjut teriaknya, kembali mendongakkan kepala ke langit yang tertutup awan putih nan tebal.

Luffy terus menatap langit di atasnya, menggeram penuh amarah. "Kemana mereka?" tanyanya dengan suara berat. "Kembalikan mereka semua! Sahabat-sahabatku!"

Badannya semakin melemas, Luffy tidak bisa mempertahankan keseimbangannya. Luffy terduduk di atas tanah dengan keras, terus menatap ke langit. "Aku... aku..." Tubuhnya semakin lemas, dengan semakin beratnya perasaan penuh dengan tekanan yang seolah menghimpitnya ini. "Aku... sudah letih... aku sudah lelah... kehilangan orang-orang yang kusayangi..." gumamnya, seraya berbaring di atas tanah—serasa dipaksa. "...Hanya mereka... merekalah satu-satunya... yang... aku tak ingin kehilangan lagi... mereka... ha... nya... mere...ka..."

Luffy tertidur—kehilangan kesadarannya. Keringat peluh membasahi seluruh tubuhnya yang melemah. Alis matanya mengerut seperti mangalami mimpi yang paling buruk. Mimpi terburuk dari yang terburuk.

Monkey D. Luffy; apa yang paling ditakutkannya adalah: Kehilangan rekan-rekan sekaligus sahabat-sahabatnya di atas kapal; mereka yang sudah meraih impian masing-masing, dan bersumpah satu sama lain untuk saling jaga sekarang dan untuk selamanya. Tak ingin berpisah, tak ingin kehilangan.

Manusia boleh bermimpi. Dengan berusaha, mereka mendapatkan impiannya. Tapi, bagaimana apabila mereka sudah tak dapat berusaha, merundung di atas kasur kematiannya, menunggu dijemput oleh yang ber-hak.

Luffy berpisah. Dia akan berpisah dengan sahabat-sahabat sehidup sematinya. Bukan mereka... tapi dia.

Monkey D. Luffy si topi jerami; sang raja bajak laut; putra Dragon dan cucu dari Garp sang pahlawan, menghembuskan napas terakhirnya.

Luffy telah meninggal dunia.

Kesadarannya memudar dan menghilang. Yang tersisa hanyalah memori yang telah dia ukir bersama mereka semua yang tercinta. Suara jerit tangis mereka membahana di telinga si pemuda, mengalirkan derai tangis yang tak tertahankan. Luffy semakin jauh terjatuh ke dalam kegelapan tanpa pegangan. Tak berdaya, ini pertama kalinya Luffy tidak dipersilahkan; tidak bisa melakukan apapun. Pekat sekali... kegelapan ini.

XXX

Tak ada satu kru pun yang mengeluarkan suara di ruangan dokter. Semua terdiam, terkejut oleh pernyataan dokter mereka. Sebenarnya tidak perlu repot-repot. Alat pendeteksi denyut jantung milik Chopper sudah menandakan satu garis lurus tanpa detakan, yang berarti si pasien sudah berpulang. Tubuh mereka semua membeku; kesemutan dan meradang. Seperti tersihir, dan beku di bawah lautan arktik, tak satupun dari mereka bisa menangkap dengan cepat situasi yang mereka alami saat ini; dan otomatis—yang harus mereka terima.

Chopper si dokter membanjiri wajahnya dengan air mata. Tidak terhentikan. Si dokter kecil ini memang tidak bisa menahan air matanya. Sedari dia merawat dan mengoperasi—berusaha mengejutkan jantung si pasien berulang-ulang agar kembali pada denyutnya, Chopper terus-terusan mengalirkan isi dari kelenjar air matanya tersebut. Dia terisak-isak, menahan ingus yang sudah menetes dari kedua hidung birunya. "...Luffy..."

Nami melangkah maju. Kedua batang kakinya yang begitu mulus dan tertutup celana jeans hitam gemetar dengan hebat, luar biasa hebat. Dia tidak mau dan tidak bisa menerima apa yang dikatakan dokternya belum lama ini. dia hanya... tidak ingin menerimanya, dengan alasan apapun. "...Katakan sekali lagi, Chopper... apa katamu tadi?" tanyanya datar, mengalirkan satu garis lurus air mata. Nami menyentuh bahu mungil si dokter rusa kutub. "Katakan sekali lagi!" jerit Nami histeris.

Sanji melangkah maju dan menarik kadua bahu si navigator berambut gelombang se-punggung itu. Sanji mendapatkan sedikit kesulitan menahan tubuh Nami yang tengah memberontak. Gadis tersebut berusaha melepaskan genggaman kedua telapak Sanji dengan menggooyang-goyangkan bahunya dengan cukup kekuatan. "N-Nami-san... tenanglah..."

"Apa maksudmu, Chopper!" teriak Nami, tidak memperdulikan imbauan Sanji.

Bahu Chopper bergerak naik turun, menahan isakan sendunya. "Maafkan aku... Luffy... Luffy... tidak terselamatkan lagi... aku... aku minta... aku minta..." Chopper menutup kedua matanya dengan topi rajut kesayangannya. Air matanya mengalir turun dengan deras tak terbendung. Tak ubah bedanya dengan anak kecil, Chopper merengek dengan keras di balik topi dengan aksesoris khasnya itu.

"Kau dokter bukan!" teriak Nami, tidak menghiraukan penjelasan si dokter cilik. "Bukankah tugas dokter menyelamatkan nyawa pasiennya! Lakukan sesuatu, Chopper!"

"O-oi, Nami..." sambut usopp, pelan dan ragu. Tidak diragukan lagi, Usopp juga berusaha menahan jatuhnya air kesedihan, tapi tak kuasa; karena dia memang tak sekuat Zoro dan Sanji. "Tenanglah dulu... Chopper sudah..."

"N-Nami-san... kau tidak boleh begitu." ujar Sanji, berusaha membalikkan tubuh Nami agar menatap dirinya. "Chopper... Chopper sudah berusaha kera..."

"Diam! Diam!" Nami berhasil melepaskan kedua tangan Sanji; memotong kata-kata si koki tersebut, dan melangkah lebih dekat ke arah Chopper. "Lakukan sesuatu, lakukan sesuatu Chopper! Sekarang!" jeritnya pada si kecil yang masih belum berhenti terisak.

Chopper masih menangis dengan hebat, dia menggeleng. "...Tidak bisa... aku tidak bisa berbuat lebih dari ini... ini... sudah di luar kemampuanku..." jawabnya, penuh dengan isakan tangis yang sulit tertahankan. "Luffy..."

"Aku tidak peduli! Lakukan sesu..."

"Nami! Hentikan ulahmu!" teriak hardikan pria bermata satu dari belakang mereka semua. Matanya yang masih baik, menatap Nami dengan segala tatapan pembunuh—penuh dengan intimidasi. "Hentikan sudah keegoisanmu! Kau harusnya menghargai usaha keras Chopper!"

Sanji menggeram pelan, dan mengencangkan kepalannya. Apabila orang lain membentak dan mengancam Nami; tambah lagi membuat si gadis menampilkan ekspresi luar biasa ketakutan seperti saat ini, dia pasti sudah memberikan pelajaran berharga pada orang tersebut. Tapi, kali ini lain. "...Zoro benar, Nami-san... Kau tidak boleh seperti itu pada Chopper. Dia sudah berusaha sekuat tenaganya..." lanjutnya menyentuh bahu mungil Chopper yang masih belum berhenti berguncang.

Nami hampir saja kehilangan keseimbangannya setelah mendapatkan hawa ancaman dari Zoro. Baru saat inilah, suara kecil teman-teman di sekitarnya dapat terdengar. Nami menatap Sanji yang berdiri paling dekat dengannya, dan mengalirkan air mata yang jauh lebih deras dari sebelumnya. "...Sanji-kun... Luffy... Luffy kita..." isaknya, menghampiri dada si koki. Nami mengeluarkan seluruh air matanya pada dada Sanji yang berbalut kemeja hitam. Teriakan tangisan Nami menggema ke seluruh penjuru kapal, luar biasa keras. Pekikan kesedihan yang diliputi dengan seluruh rasa sakit tak terhentikan menusuk udara malam hari, meminta mereka ikut merasakan kepedihan yang sama.

"Nami-chan..." bisik pedih Robin, menutup mulutnya dengan satu tangan. Robin yang biasanya kuat, juga tak dapat menahan jatuhnya air mata lagi setelah insiden Enies Lobby beberapa tahun yang lalu. "Oh... Luffy..." Robin menangis, meneteskan seluruh air matanya dengan derai sesunggukkan, terisak dengan luar biasa sedih.

"Robin," imbau Zoro. "Tolong bawa Nami menenangkan diri di luar." perintahnya pada si wanita berambut hitam panjang. Robin terdiam sebentar, menghapus air matanya, dan berusaha nampak kuat. Zoro tahu wanita itu sama rapuhnya dengan Nami saat ini. Namun, tak ada pilihan lain. Mereka tidak akan bisa berkuat-kuat diri di ruangan ini—di ruangan di mana seseorang yang begitu mereka sayang berpulang.

Robin mengangguk pelan, menuruti perintah si wakil kapten. Wanita yang lebih tua itu melangkah ke arah Sanji menenangkan diri Nami. Robin menatap si koki. Sanji yang melihat sembab di mata wanita dewasa itu mengangguk pelan sembari melepaskan tubuh Nami yang menempel erat dengan tubuhnya selembut mungkin. Nami menggenggam kencang rajutan jas Sanji sekuat mungkin, membuatnya sulit untuk dilepaskan. Ia nampak seolah memegang baju merah Luffy yang biasa dipakaianya sehari-hari, dan berusaha menahannya terbang ke langit yang lebih tinggi. Langit yang lebih tinggi dari langit yang pernah mereka panjat. Lebih tinggi dari langit yang mereka lihat sehari-hari dari dek kapal, di saat mereka masih berkumpul bersama-sama—bermain dengan riang. Semakin kuat tarikan Robin, semakin kencang pula genggaman si wanita navigator pada jas si koki andal. Namun, ketika Nami mendapat pelukan Robin yang semakin terharu dengan tiba-tiba, barulah dia berpaling dari dada Sanji secara perlahan.

"Tidak apa, Nami-chan... kami bersamamu." bujuk Robin setengah terisak, menenangkan tubuh Nami yang masih tidak bisa berhenti gemetar dan terus mengalirkan air mata kepedihan di kedua pipi mulusnya. Wanita dewasa itu menuntun Nami berjalan keluar ruangan.

Di saat mereka hendak melintasi tempat Zoro berdiri, Nami menahan tubuhnya berjalan lebih jauh. "Maaf..." ucapnya serak dan berat, tanpa melihat Zoro ataupun tempat di mana si pria berdiri.

"Ucapkan pada Chopper." jawab Zoro, singkat dan mampu menyelesaikan masalah.

Robin kembali melanjutkan jalannya menuju keluar ruang medis yang berbau alkohol di sana sini, menuju geladak atas yang penuh akan angin kesegaran.

"Luffy-san..." dengan cepat, setelah para wanita berlalu dari kamar ini, Brook si musisi menghampiri tempat di mana kapten-nya terbaring tak bernyawa. Sang musisi memegang tangan Luffy, memeriksa setiap denyut nadinya seolah belum percaya akan kepergian kaptennya yang tersayang nan periang. "Tidak... aku tidak ingin percaya ini... oh, Luffy-san... tidak..."

"Brook, tenangkan dirimu..." usul Sanji, dengan tatapan setengah sendu. Dia mengerti sekali dengan perasaan si musisi. Sekali lagi, ya, sekali lagi dia harus kehilangan kaptennya. Itu tentu saja sangat menyakiti batin si tengkorak hidup.

"Yorky... mendiang sahabat terbaik sekaligus kaptenku," mulai Brook, dengan hening. "Beliau meninggal dunia dikarenakan penyakit wabah demam hutan yang saat itu belum diketahui penyembuhnya oleh dokter kami dan dokter pada kebanyakan. ...Sekarang, Chopper-san sudah memiliki penangkal terbaiknya..."

Sanji berjalan ke arah jendela ruangan yang terbuka. Dia menyalakan satu batang rokok dari saku celananya, dan memasukkan kembali pemantik miliknya ke saku celana yang lain. Zoro melangkah ke bangku terdekat, duduk di atasnya dan menyandarkan ke-tiga katana kebanggannya di bangku tersebut. Dia melipat kedua lengannya satu sama lain, mendengarkan Brook dengan tatapan lurus ke lantai kayu kabin yang terbuat dari kayu Adam.

"Aku menemukan kebahagiaanku yang lain dengan berada bersama Luffy-san dan kalian semua di sini." lanjut Brook, memangkukan lengannya pada sisi kasur Luffy. "Tapi, aku takut. Aku takut pada diriku sendiri yang tak bisa mati ini."

"Kalian semua akan mati, tak terkecuali. Tapi, aku akan terus hidup kembali setelah mati—setelah melihat kematian kalian semuanya tentu saja…" ujarnya semakin pelan. "Yo...hohoho. Aku sendiri secara pribadi merasa... kalau hidupku ini adalah sebuah kutukan."

"Ayolah, jangan bilang seperti itu, Brook." sahut Sanji. Namun, Brook menggeleng pelan. "Benar. Itu benar adanya." potong si tengkorak hidup.

Brook mulai memegangi kepalanya, dan air mata tipis mengalir dari lubang matanya yang bolong kosong melompong. "Luffy-san adalah segala-galanya bagiku—lebih berharga daripada banyaknya nyawa yang kupunya..."

Brook berdiri, dan beranjak dari ruangan. "Aku hanya berharap Luffy-san dapat betemu dengan kakaknya di atas sana..." Brook membuka pintu kabin kecil, dan berlalu. "Aku di luar bersama para ladies..."

Franky berjalan ka samping Sanji, ikut menatap luasnya lautan di malam hari. "Brook memiliki perasaan yang sangat sensitif. Aku mengerti betapa terluka hatinya dengan kepergian Luffy sekarang." Pria besar itu menengadahkan kepalanya ke langit. Menatap ke seluruh jutaan bintang di atas sana. "Dulu, aku tidak pernah peduli dan ambil pusing mengenai luasnya lautan dan langit itu. Yang aku pikirkan hanyalah bagaimana caranya menyaingi kapal-kapal buatan Tom dan Iceburg. Tapi setelah aku bertemu Luffy, semua berubah."

Franky mengarahkan satu tangan androidnya ke bawah mata kiri, dan menguceknya. "Yang aku sayangkan adalah... aku ingin membawa Luffy untuk kembali bertemu dengan Iceberg, dan adik-adik keluarga Franky-ku semuanya. Lalu aku ingin membawanya ke makam Tom. Ku... kurasa Tom pasti bangga pada si bocah bertopi jerami ini..."

Franky tersenyum, senyuman pahit yang tak terbaca karena mata si tukang kayu kapal yang tertutup kacamata hitamnya. "'Salam dari Luffy.' Apakah itu cukup untuk mereka?" tanya si cyborg, kembali menatap lautan. Koki dan wakil kapten mengalihkan tatapannya ke bawah mereka masing-masing, tak bisa menjawab apapun.

Usopp melangkah dan duduk di sebelah Zoro—di kursi tunggu kamar dokter. Dia mengangkat kedua tangannya, tersenyum penuh dengan nostalgia. "Benar, ya. Aku juga... saat itu aku hanyalah pembohong besar dan kepalaku hanya terisi oleh impian menjadi pahlawan terhebat. Tapi ternyata, semua itu tidak lepas dari peran Luffy. Berkat dirinya, kita mendapatkan banyak hal, ya?" mata usopp mulai berair kembali. Bibirnya bergoyang tak menentu, semakin lama semakin kencang. Dia semakin tak kuasa menahan deras air matanya untuk turun. "Buhwaahhaaa... Luffy, Luffy...!" jerit histeris Usopp, menutup seluruh wajahnya dengan telapak tangan. "...Kenapa kau pergi begitu cepat... kau seharusnya mati setelah aku. Kau harus melihat aku menjadi pahlawan lautan yang sesungguhnya..."

"Tiga tahun... kenapa kita hanya diberi kesempatan untuk berkumpul bersama selama tiga tahun..." pekik Usopp, mengeluarkan semua air matanya. "...Aku, aku bahkan belum sempat... mengucapkan rasa terima kasihku padamu. Luffy!"

"...Aneh, aku tidak bisa menangis saat ini..." susul Franky, sembari mendengarkan derai tangis si hidung panjang yang semakin pedih. "...Sungguh... hentikan itu Usopp, k-kau membuatku..."

Franky segera berjalan keluar kamar. Dia berusaha keras untuk tidak memperlihatkan tangisannya pada yang lain seperti biasa. Tapi, naas, dia juga tak cukup kuat menahan derai tangisnya di luar sana. Franky meledakkan tangisannya di antara gang kecil menuju dek atas. "Franky... dasar bodoh..." ujar Sanji, dengan mata yang setengah sayup.

Si koki pirang mengalihkan pendangannya pada Chopper di kasur Luffy. Dia berjalan ke sana, dan menyentuh punggung kelelahan si dokter. "...Chopper yang malang,"

"Tentu saja dia kelelahan." potong Zoro, dibalas anggukan pelan dari Sanji.

"Usopp, tolong antarkan Chopper ke kamarnya. Tenaganya benar-benar habis menurutku." lanjut Sanji kepada sniper terhebat yang pernah ditemuinya. Usopp mengangguk dan menggendong Chopper di depan dadanya.

"Kami di geladak rumput, kalian..."

Angguk dua rekannya yang lain. Pintu kembali tertutup, dan Sanji berjalan ke kursi tunggal di sebelah kasur Luffy terbaring. "Lihatlah wajahnya yang begitu tenang ini..." ujarnya, pelan dan seperti berbisik. "Pernahkah kita melihat wajahnya yang sedamai ini? Tak pernah kurasa..."

Zoro hanya diam di tempatnya. Dia benar-benar tak menyangka—dalam mimpinya sekalipun kalau hal seperti ini akan terjadi pada akhirnya. Sebelum perjumpaan terakhirnya dengan Luffy tadi sore, saat itulah firasat ini lambat laun menghampirinya. "...Bagaimana sekarang?"

"Kau yang menentukan. Kau wakil Luffy, bukan...?" jawab Sanji mantap. Dia menghisap satu isapan rokok, dan langsung menghembuskannya. "Cuma kau yang bisa membuat keputusan sekarang."

"...Aku tidak bisa."

"Kalau begitu kita tamat di sini."

Pikiran Zoro tiba-tiba kembali ke sore hari ini, saat Luffy mengunjunginya. 'Zoro, kau mau menggantikanku menjadi kapten kapal ini? Aku tahu kau pasti bisa, karena aku mengenalmu dengan sangat baik.'

Zoro menempelkan kedua telapak tangan di wajahnya. Dia lalu menggertakkan giginya satu sama lain, menggeram dan tenggelam dalam pikiran. "Ini... terlalu cepat. Terlalu cepat..."

Sanji menyadari si pendekar yang cukup shock dengan situasi mereka. Bagaimanapun, Zoro adalah rekan pertama Luffy. Dia adalah orang pertama yang berbagi nasib bersama dengan Luffy lebih dulu dari rekan lainnya. "...Semuanya berpikir demikian... aku juga,"

Zoro berdiri di atas kedua kakinya, dan berjalan ke sisi ranjang Luffy. Wajahnya begitu sendu, begitu lesu walaupun dia sekuat tenaga tidak menunjukkannya pada siapapun, terlebih pada si alis lingkar saingannya dalam banyak hal ini. "Terima kasih, kapten Luffy." ujar Zoro, serak dan berat. "Terima kasih untuk semuanya, sahabat. Beristirahatlah dengan tenang..."

Sanji pun ikut berdiri di sebelah rekan pertama Luffy itu. Sanji mematikan rokoknya, memasukkan tangan ke dalam kedua saku celana. "...Kau begitu berjasa pada kami, Luffy. Aku—kami semua pasti tidak akan pernah bisa sekalipun melupakanmu, sobat. ...Sampai bertemu lagi, kapten... di sana."

Dengan itu Zoro menutup kain putih—selimut Luffy. Melihat wajah Luffy untuk terakhir kalinya.

Sanji beralih keluar dari kabin, menutup wajahnya dengan telapak tangan, menahan beratnya air mata. Sekuat apapun pria itu, kehilangan Luffy merupakan shock terbesar yang pernah diterimanya. Sanji—masih menutup matanya menyenderkan punggungnya pada dinding lorong, terisak-isak kecil meneteskan air mata pertama semenjak perpisahan dengan Zeff tiga tahun yang lalu.

Tinggal Zoro di dalam, masih terdiam menatap wajah Luffy yang sudah tertutup kain putih yang bersih. Zoro menyunggingkan senyuman khasnya, menampilkan lekukan kulit di tepian bibir sebelah kanan. "Kita benar-benar sudah berpetualang ke berbagai tempat yang luar biasa, bukan begitu Luffy?" bahu Zoro sedikit berguncang. Dia kemudian menutup satu matanya yang masih baik dengan telapak tangan. "...Kau yang terbaik, sobat."

Wakil kapten tersebut melangkah keluar kamar, dan berjalan dengan perlahan menuju dek rumput atas di mana rekan-rekan lainnya berkumpul.

"Zoro..." sambut Usopp, dengan mata yang sembab karena tangisan. "...Bagaimana?"

"Kita akan memberikan penghormatan terakhir pada Luffy fajar nanti." jawab Zoro, tegar dan tak bergeming sedikitpun. Nami terkejut luar biasa. Jadi semua ini benar-benar terjadi, batinnya masih dan tidak mau percaya. Dia mengapit lengan kemeja Sanji yang berada di sebelahnya kuat-kuat, kembali menahan tangisnya.

"Kita semua adalah anak-anak lautan. Pada lautan jugalah kita kembali." lanjut ujar Zoro, menatap lautan nan jauh di sana. Dia menggeram; memperlihatkan bentuk tulang rahangnya yang kuat, dan semakin mengencangkan genggaman tangannya.

Brook melangkah maju, dan manggumamkan sedikit lagu perpisahan sebelum melanjutkan kata-katanya. "...Tiba juga akhirnya bagi Davy Jones untuk menyambut kedatangan sang raja bajak laut..."

Isak tangis kembali membahana di seluruh penjuru kapal. Nami kembali menghanyutkan tangisannya di dada berbalut jas Sanji. Dan Robin hanya terisak-isak di tempatnya duduk sebelum Zoro menyenderkan punggungnya di kursi sebelah Robin. Tak seorangpun dari mereka yang tidak larut dalam suasana berduka ini, tak terkecuali bagi Sanji dan Zoro sekali pun kali ini. Brook, Franky, dan Usopp juga membiarkan air mata mereka mengalir dengan deras.

Malam itu hujan turun. Langit turut berduka dengan kepergian pahlawan—pahlawan dari semua orang; dari seluruh bangsa, ras, dan lapisan. Mereka semua berduka atas kepergian seseorang yang menjalani hidup dengan begitu bebas—lebih bebas dari apa dan siapapun. Mereka semua berduka atas kepergian dia yang selalu membuat kehangatan di manapun dirinya berada. Dialah Luffy. Luffy si topi jerami, sang raja bajak laut.

-The disease Continue to the next chapter: 'Their Captain's Funeral'-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar