CaHyOo EiMi
Powered By Blogger

menyapa

Dialog me


'hi guyzzz'

Cari Blog Ini

Selasa, 07 Desember 2010

awal dari akhir perjalanan

PROLOG

Apa yang kalian bayangkan tentang One Piece? Harta karun melimpah ruah yang akan mencukupi kehidupanmu selama 7 turunan? Tidak. One Piece adalah muara impian orang-orang yang menjadi satu. Semuanya, terletak di sana. Dan, Bajak Laut Topi Jerami telah membantu mewujudkannya.

Setelah pertempuran panjang, berbekal pengetahuan dari Rio Poneglyph yang menguak misteri keberadaan kerajaan yang hilang, mereka mengaktifkan Ancient Weapon untuk meneruskan impian para pendahulu mereka. Hal itu tidak mudah karena Pemerintahan Dunia adalah musuh mereka dan masyarakat dunia menilai itu adalah hal gila. Gol D Roger beserta krunya tak bisa berbuat banyak hanya dengan mengandalkan hasrat. Namun, Monkey D Luffy berserta nakama-nya akan terus maju sampai impian mereka diraih, selama seluruh harapan yang bertumpu pada mereka terus menguatkan tekad. Dan, mereka sekaligus membuka mata dunia meski itu bukanlah suatu tujuan muluk mereka.

Dua titik benua Red Line yang menghubungkan keenam lautan: South Blue, West Blue, North Blue, East Blue, Calm Belt, dan Green Line, telah hancur akibat serangan Ancient Weapon. Medan manget yang mengunci Green Line dari dunia luar telah musnah. Para monster laut Calm Belt akan berevolusi sesuai perubahan drastis pada iklim mereka. Keempat samudera utama dapat dilalui dengan mudah tanpa terhalang oleh Reserve Mountain dan Marie Joa. All Blue terlahir di titik silang tersebut menggantikannya dan menjadi tempat paling strategis di dunia serta mengundang kekayaan di sekitarnya, termasuk di Merman Island dimana manusia mulai bisa menerima ras ini. Tak ada lagi pulau yang terisolasi, perdagangan dan hubungan internasional semakin marak. Masa emas sejarah pun telah dicatat. Namun, masa lalu sejarah yang kelam juga tak akan dihapus bahwa selama 800 tahun, dunia ternyata seolah ditekan oleh penguasa semu tanpa disadari. Dan, masa sejarah yang hilang juga telah terkuak.

Semua orang menginginkan kedamaian. Semua orang menginginkan kebenaran. Semua orang menginginkan masa depan yang lebih baik. Sang Raja Bajak Laut Luffy Topi Jerami dan Sang Fleet Admiral Coby mengadakan perjanjian. Sejatinya, nama Bajak Laut adalah sebuah kelompok keonaran di lautan yang mengancam jiwa dan harta benda, termasuk di pulau yang mereka singgahi. Namun, Luffy hanya terseret arus euforia. Sejak awal ia ingin menjadi bajak laut, ia bahkan tidak tahu bajak laut itu apa. Ia hanya ingin berlayar mencari kebebasan dan petualangan ditemani sahabat-sahabat tercinta. Baginya, gelar Raja Bajak Laut akan digapai saat ia telah menemukan One Piece peninggalan Raja sebelumnya. Ia tak pernah menjarah pulau, ia tak pernah mengancam penduduk, ia justru mencari teman sebanyak-banyaknya dan menjalin hubungan baik serta kepercayaan. Sejatinya, Marinir sudah akan menangkap dan mengeksekusi mereka, namun Coby berpegang teguh pada keadilan. Ia menyerahkan pada masyarakat dunia yang kini bisa menilai dengan jelas mana yang benar dan mana yang salah. Luffy dkk pun tak ingin dielu-elukan bak pahlawan. Sekali lagi, ia hanya ingin bebas. Bebas menentukan nasibnya sendiri setelah ini.

Keputusan Luffy adalah bubar. Bubar dalam artian mereka tak mengarungi lautan lagi dalam satu kapal. Bubar dalam artian mereka akan kembali ke kampung halaman masing-masing. Bubar dalam artian mereka akan melanjutkan hidup yang berbeda-beda setelah ini. Namun, hati mereka masih tertinggal. Ikatan persaudaraan mereka tak dapat dibubarkan. Dan, Luffy berjanji bahwa akan datang kembali waktu untuk merayakan kebersamaan mereka. Meski demikian, sebelum saat itu tiba; siapa pun tentunya berhak saling mengunjungi, saling berbagi cerita lama maupun baru, dan saling mengenalkan anggota baru dalam keluarga mereka. Karena mereka semua adalah sahabat sejati. Karena mereka semua bersaudara. Karena mereka semua adalah keluarga. Karena mereka semua adalah satu. Itulah harta yang paling berharga bagi mereka.

Ini adalah cerita setelah semua berpisah. Cerita bahwa petualangan mereka telah usai. Cerita setelah segala cita-cita masa muda telah digenggam di tangan. Cerita bahwa mereka akan mendidik generasi baru untuk memulai perjalanan selanjutnya.

Awal yang Baru di Akhir Perjalanan by eleamaya

PROLOG

Apa yang kalian bayangkan tentang One Piece? Harta karun melimpah ruah yang akan mencukupi kehidupanmu selama 7 turunan? Tidak. One Piece adalah muara impian orang-orang yang menjadi satu. Semuanya, terletak di sana. Dan, Bajak Laut Topi Jerami telah membantu mewujudkannya.

Setelah pertempuran panjang, berbekal pengetahuan dari Rio Poneglyph yang menguak misteri keberadaan kerajaan yang hilang, mereka mengaktifkan Ancient Weapon untuk meneruskan impian para pendahulu mereka. Hal itu tidak mudah karena Pemerintahan Dunia adalah musuh mereka dan masyarakat dunia menilai itu adalah hal gila. Gol D Roger beserta krunya tak bisa berbuat banyak hanya dengan mengandalkan hasrat. Namun, Monkey D Luffy berserta nakama-nya akan terus maju sampai impian mereka diraih, selama seluruh harapan yang bertumpu pada mereka terus menguatkan tekad. Dan, mereka sekaligus membuka mata dunia meski itu bukanlah suatu tujuan muluk mereka.

Dua titik benua Red Line yang menghubungkan keenam lautan: South Blue, West Blue, North Blue, East Blue, Calm Belt, dan Green Line, telah hancur akibat serangan Ancient Weapon. Medan manget yang mengunci Green Line dari dunia luar telah musnah. Para monster laut Calm Belt akan berevolusi sesuai perubahan drastis pada iklim mereka. Keempat samudera utama dapat dilalui dengan mudah tanpa terhalang oleh Reserve Mountain dan Marie Joa. All Blue terlahir di titik silang tersebut menggantikannya dan menjadi tempat paling strategis di dunia serta mengundang kekayaan di sekitarnya, termasuk di Merman Island dimana manusia mulai bisa menerima ras ini. Tak ada lagi pulau yang terisolasi, perdagangan dan hubungan internasional semakin marak. Masa emas sejarah pun telah dicatat. Namun, masa lalu sejarah yang kelam juga tak akan dihapus bahwa selama 800 tahun, dunia ternyata seolah ditekan oleh penguasa semu tanpa disadari. Dan, masa sejarah yang hilang juga telah terkuak.

Semua orang menginginkan kedamaian. Semua orang menginginkan kebenaran. Semua orang menginginkan masa depan yang lebih baik. Sang Raja Bajak Laut Luffy Topi Jerami dan Sang Fleet Admiral Coby mengadakan perjanjian. Sejatinya, nama Bajak Laut adalah sebuah kelompok keonaran di lautan yang mengancam jiwa dan harta benda, termasuk di pulau yang mereka singgahi. Namun, Luffy hanya terseret arus euforia. Sejak awal ia ingin menjadi bajak laut, ia bahkan tidak tahu bajak laut itu apa. Ia hanya ingin berlayar mencari kebebasan dan petualangan ditemani sahabat-sahabat tercinta. Baginya, gelar Raja Bajak Laut akan digapai saat ia telah menemukan One Piece peninggalan Raja sebelumnya. Ia tak pernah menjarah pulau, ia tak pernah mengancam penduduk, ia justru mencari teman sebanyak-banyaknya dan menjalin hubungan baik serta kepercayaan. Sejatinya, Marinir sudah akan menangkap dan mengeksekusi mereka, namun Coby berpegang teguh pada keadilan. Ia menyerahkan pada masyarakat dunia yang kini bisa menilai dengan jelas mana yang benar dan mana yang salah. Luffy dkk pun tak ingin dielu-elukan bak pahlawan. Sekali lagi, ia hanya ingin bebas. Bebas menentukan nasibnya sendiri setelah ini.

Keputusan Luffy adalah bubar. Bubar dalam artian mereka tak mengarungi lautan lagi dalam satu kapal. Bubar dalam artian mereka akan kembali ke kampung halaman masing-masing. Bubar dalam artian mereka akan melanjutkan hidup yang berbeda-beda setelah ini. Namun, hati mereka masih tertinggal. Ikatan persaudaraan mereka tak dapat dibubarkan. Dan, Luffy berjanji bahwa akan datang kembali waktu untuk merayakan kebersamaan mereka. Meski demikian, sebelum saat itu tiba; siapa pun tentunya berhak saling mengunjungi, saling berbagi cerita lama maupun baru, dan saling mengenalkan anggota baru dalam keluarga mereka. Karena mereka semua adalah sahabat sejati. Karena mereka semua bersaudara. Karena mereka semua adalah keluarga. Karena mereka semua adalah satu. Itulah harta yang paling berharga bagi mereka.

Ini adalah cerita setelah semua berpisah. Cerita bahwa petualangan mereka telah usai. Cerita setelah segala cita-cita masa muda telah digenggam di tangan. Cerita bahwa mereka akan mendidik generasi baru untuk memulai perjalanan selanjutnya.

Dedikasi by Eiichiro Oda

Title: Dedikasi

Disclaimer: One Piece by Eiichiro Oda

Warning: hints shonen-ai but nothing explicit

A/N: fic ini sekedar untuk memuaskan err naluri fangirling aja. Belom begitu ikhlas Ace mati sih, semoga dengan ini bisa ikhlas deh. Gak ada yang eksplisit, karena ini fokus ke perasaannya. Tapi kalo mau diliat sebagai brotherly relationship juga bisa sih. Mau komen, kritik, mampir doang, apa aja boleh lah.

Tuhan….ataupun Dewa.

Kalau kau memang benar-benar ada. Aku ingin mendengar alasan.

Tidak, aku tak ingin mendengar sebab. Yang kuinginkan adalah, untuk apa aku hidup.

Semua yang kulakukan, semua yang kuupayakan. Nyawa ini, jiwa ini.

Untuk siapa?

Pernah, aku memanjatkan doa seperti itu, untuk Dia yang disebut Sang pencipta. Dewa, Tuhan, atau semacamnya.

Keputusasaanku memuncak. Umurku saat itu baru sepuluh tahun, tapi aku sudah merasa lelah dengan hidupku. Kenapa? Karena aku, Portgas D. Ace, adalah putra dari Gol D. Roger. Orang yang disebut-sebut sebagai iblis.

Keturunan iblis adalah pendosa. Ya, aku.

Seorang pendosa tidak akan punya tempat. Aku sudah tahu, kok. Memangnya kenapa? Kalau tak punya tempat, aku akan mencari tempatku sendiri, atau menciptakannya.

Tempat yang mau menerimaku.

Kemudian, hari itu kamu muncul. Bocah manja, cengeng, berisik. Tidak bisa apa-apa. Namun tak pernah mundur untuk mengikutiku kemana saja. Aku ingat, waktu itu Polchemy menangkapmu. Memaksamu membocorkan keberadaan harta karun yang disembunyikan olehku dan Sabo. Awalnya, kupikir bocah ingusan seperti kamu akan segera membocorkan rahasia.

Tapi dugaanku salah. Kamu ngotot tidak mengatakannya. Sedikit pun. Hingga tubuhmu babak belur oleh Polchemy. Hingga aku dan Sabo memutuskan untuk menolongmu. Entah terpaksa, tidak tega, atau cuma karena merasa tak enak.

Kenapa ya, waktu itu aku berpikir untuk melindungi kamu?

Saat kita berhasil mengamankan diri, kamu tak hentinya menangis. Bilang kalau kamu takut, kamu tak ingin mati. Bla, bla, bla. Dasar cengeng, manja. Setelah membentakmu berkali-kali, kamu bilang kalau kamu ingin bersamaku. Kamu katakan, kamu tak punya siapa-siapa. Kamu takut sendirian.

Sama seperti aku.

Lalu kamu mengatakan sesuatu, yang membuatku luluh oleh kebodohanmu.

Sesuatu yang intinya, kamu menginginkan aku ada.

Bolehkah aku beranggapan, bahwa tempatku sesungguhnya adalah kamu?

Kamu. Kamu. Kamu. Tiba-tiba duniaku seperti berbalik seratus delapan puluh derajat. Aku tak lagi mempermasalahkan hal-hal sepele seperti dulu. Bisa menjalani hari-hariku apa adanya. Apakah karena kamu?

Di hari ketika aku, kamu dan Sabo menyesap sake dari cawan yang sama, menyatakan diri bahwa kita adalah saudara, aku telah memutuskan pada diriku sendiri, aku akan terus hidup, apapun yang terjadi, agar aku bisa tetap bersama kalian.

Hingga kejadian-kejadian buruk itu datang menghampiri, bertubi-tubi. Sabo diambil oleh orang tuanya yang menginginkannya hidup selayaknya bangsawan. Saat Sabo pergi, sungguh aku merasa tak berdaya. Tapi apa mau dikata? Mereka orang tuanya, dan tentu punya pengharapan untuk anaknya. Kamu tak hentinya menyesali itu. Aku juga, tapi kita harus menerimanya, bukan?

Setelah itu, tiba-tiba sekali, kita mendengar kabar kalau Sabo tewas. Aku mengamuk, tak terima. Kamu menangis.

Kita sama-sama menyesali kelemahan dan ketidakberdayaan kita saat itu.

Karena kita cuma anak-anak.

Kamu bilang kamu akan jadi kuat. Kuat, kuat, kuat, kuat dan lebih kuat lagi. Kamu mengatakan itu sambil merapatkan topimu erat-erat. Tak ingin air matamu terlihat.

Lalu bagaimana dengan aku? Apa yang harus kulakukan dengan apa yang tersisa?

Aku menyayangi kamu, Luffy. Tak bisa kubayangkan apa jadinya kalau kamu yang…..

Menghilang.

Kamu tak boleh mati, aku akan melindungimu. Tetaplah hidup.

"Ace….tolong jangan mati juga…." Pintamu sambil terisak.

Aku memukulmu cukup keras. "Dengarkan, dan ingat ini selalu," kataku.

"Aku tidak akan mati,"

Ini bukan semata-mata demi janjiku pada Sabo, atau kamu saja. Ini demi aku juga.

Tanpa kusadari, kamu telah memenuhi duniaku. Setiap hari aku selalu berpikir tentang kamu. Berpikir bagaimana agar tindakan atau apa yang kulakukan dapat menguntungkan kamu. Tawamu, senyummu, keceriaanmu. Itulah yang terpenting bagiku. Aku tak peduli yang lain. Nyaris bisa dikatakan kalau aku sudah tergila-gila. Kamu adalah pusat, kamu adalah alasan.

Kamu adalah hidupku.

Malam sebelum kepergianku untuk mulai berkelana sebagai bajak laut, kita tidur bersebelahan. Tak seperti biasanya. Kali ini permintaan kamu.

"Aku pasti akan kesepian," kudengar kamu berkata, menatapku lurus.

"Kamu tidak ingin aku pergi?" aku mengulurkan tangan, mengusap keningmu, menyingkirkan helaian rambut yang menjuntai di dahimu. Kamu lalu merespon dengan gelengan pelan.

"Bukan begitu, aku malah senang akhirnya kau bisa pergi, Ace. Ini 'kan keinginanmu sejak lama"

Kutatap kamu sejenak, lalu kamu melanjutkan. "Janjimu yang dulu masih berlaku tidak?"

Aku tidak akan mati.

Tapi aku ingin mati dengan terhormat. Mengakhiri hidup bukan dengan cara yang bodoh seperti ayahku. Aku ingin mati karena melindungi orang yang kucintai.

Kamu.

"Tentu saja," tukasku kemudian. Kulihat kamu tersenyum lega.

Aku mencintai adikku.

Tak lama, aku pergi. Meninggalkan tempat kita dibesarkan, meninggalkan kamu. Demi menjadi bajak laut, demi menjadi lebih kuat, dan lagi-lagi, demi kamu. Jujur, berat rasanya berpisah denganmu. Tapi aku berusaha untuk bertahan. Aku harus kuat.

Seperti yang diduga, menjadi bajak laut memang tidak gampang. Tak seperti yang tertulis di buku-buku dongeng, jalan menjadi bajak laut penuh dengan kerikil tajam. Berkali-kali aku hampir mati, berkali-kali aku dikejar oleh angkatan laut.

Keputusan besar yang kubuat, hampir semuanya didominasi oleh unsur perasaanku terhadapmu. Hari ketika aku memutuskan memakan buah iblis, aku memikirkanmu. Kalau aku bisa menjadi lebih kuat dengan memakan buah itu, bagiku tak bisa berenang bukan lagi suatu masalah besar. Meskipun aku bajak laut.

Semua resiko, akan kuambil kalau itu untukmu. Bahkan melawan Shirohige. Karena kalau aku berhasil mengalahkan dia dan mengambil alih posisinya, akan lebih mudah bagiku untuk melindungimu.

Tapi nyatanya aku kalah. Ternyata aku juga seorang pecundang. Namun siapa sangka si tua bangka itu malah mengajakku untuk menjadi anggota kelompoknya. Meskipun pada awalnya aku enggan, tapi akhirnya kuterima juga tawaran itu.

Karena aku ternyata masih memikirkan kamu.

Hari pertemuan kembali bagi kita akhirnya tiba. Jangan tanya bagaimana aku mengetahui rute perjalananmu. Yang jelas aku cuma tahu. Intuisi.

Aku lega melihatmu baik-baik saja. Ceria dan penuh tawa seperti biasa. Juga senang melihat rekan-rekanmu. Bahkan tanpa kamu beritahu pun, aku tahu mereka adalah orang-orang baik yang bisa dipercaya. Walau harus kuakui, ada sedikit rasa cemburu, melihat kenyataan bahwa kamu bukan lagi Luffy si bocah kecil yang selalu membuntutiku kemanapun itu.

Seolah tak yakin padaku, kamu lagi-lagi bertanya. Pertanyaan yang sama dengan yang kamu tanyakan tiga tahun lalu.

"Janji yang dulu…..masih berlaku tidak?" katamu, ketika kita berjalan beriringan di Nanohana, Arabasta.

Tak ada jawaban lain untuk pertanyaan itu.

"Aku tidak akan mati," jawabku.

Kulihat senyummu mengembang.

Kamu tahu Luffy? Bagiku, tak menjadi raja bajak laut itu tak masalah. Karena yang kuinginkan adalah kebebasan atas hidupku sendiri. Aku justru lebih senang, kalau kamu yang meraih gelar itu. Apa yang kudapatkan di kapal Shirohige saat ini sudah lebih dari cukup. Namun, aku tetap ingin membantumu, meski cuma sedikit, untuk tercapainya cita-citamu.

Tak ada orang jahat yang boleh mendekatimu, melukaimu, atau apapun niat buruk mereka. Aku tak akan membiarkan mereka menyentuhmu seujung jari pun.

Maka, ketika Teach, si bajingan pengkhianat itu berkata bahwa dia akan menangkap dan menyerahkanmu pada pemerintah, aku merasa ingin mengamuk. Bukan hanya karena dia telah menodai nama Shirohige dengan membunuh Thatch. Bahkan meskipun dia belum melakukan apa-apa padamu. Aku harus mencegahnya, apapun yang terjadi. Kalau tidak, dia akan merebutmu dariku. Tidak.

Hanya kamu yang tak bisa kubiarkan mati.

Aku tertangkap.

Tak hentinya aku menyesali semua yang terjadi. Kalau saja aku lebih mendengarkan pak tua, kalau saja aku tidak gegabah, kalau saja-

Tapi semua sudah terjadi. Dari semua yang kusesali, yang paling parah adalah kenyataan bahwa aku tidak akan mampu lagi melindungimu, dengan keadaanku yang sudah tertangkap angkatan laut seperti ini.

Lalu, kekhawatiranku yang terbesar adalah, kamu mendengar berita tertangkapnya aku, dan menyusul kemari.

Kemudian wanita Shichibukai itu datang, dan mengatakan bahwa kamu ada di Impel Down. Ingin menerobos masuk. Menemuiku. Wanita itu tidak bohong. Skenario ini sudah ada dalam perkiraanku.

Aku tahu kamu memang seperti itu, Luffy.

Jangan kesini, jangan kesini. Larilah. Aku mengucapkan kalimat itu di dalam hati, terus menerus, seperti mantra.

Kamu tidak boleh berakhir. Ini bukan tempatmu untuk berakhir.

Nyatanya kamu tetap datang, menantang dunia. Berteriak lantang, "Aku adikmu!"

Kamu membebaskanku. Padahal aku sudah siap menerima ajal.

Akan tetapi, lagi-lagi sikap gegabahku menjerumuskan aku kembali. Aku tak terima waktu Sakazuki, si admiral itu, menghina pak tua. Jauh lebih tak terima, waktu dia melangkah ke arahmu yang sedang lengah.

"Luffy!" aku menjerit histeris ketika Akainu tiba-tiba muncul di hadapanmu, menghadang agar kamu tidak bisa melarikan diri. Segera aku melompat, seolah meminta agar aku saja yang dijadikan sasaran menggantikanmu. Tinju magma sang admiral menembus tubuhku. Rasa sakit yang teramat sangat kurasakan menjalar, begitu sakit hingga aku seolah kehilangan suara untuk menjerit.

Aku lunglai bagai tak punya tulang. Kehilangan pijakan. Darah mengalir. Kau, berusaha menopang tubuhku dengan tubuh kecilmu.

Kudengar suaramu memanggilku samar-samar, kurasakan tubuhmu bergetar. Masih saja kamu memanggilku seolah tak percaya dengan penglihatanmu. Matamu tak salah, aku memang sekarat.

Sesuatu yang hangat perlahan menyentuh bahuku. Hei, kau menangis Luffy? Jangan buat aku tertawa, apa yang kamu tangisi? Orang sekarat yang sudah tak bisa apa-apa lagi ini?

"Ace…..bukankah-"

"-Bukankah kamu telah berjanji!"

Janji? Maksudmu janji untuk tidak mati? Mana mungkin aku melupakannya. Ini, adalah perwujudan dari janjiku. Kalau nyawaku bisa dijadikan tumbal untuk kelangsungan hidupmu, maka biarlah seperti itu.

Walaupun kamu pasti menganggap bahwa aku telah mengingkari janji.

Rasanya aku tak mampu berpikir apa-apa lagi. Tapi aku merasa nyaman, karena di saat terakhirku, aku masih diizinkan untuk menyentuhmu.

Selain itu, juga bahagia. Inilah keinginanku. Mati melindungi orang yang kucintai. Mungkin kamu tidak tahu ini Luffy, tapi sejak hari kematian Sabo, sejak aku berjanji padamu untuk tidak mati, inilah cara mengakhiri hidup yang kuimpikan. Karena sejak hari itu, kuputuskan kalau nyawa ini, jiwa ini, tubuh ini adalah untuk keberadaanmu.

Sakit. Panas. Itulah yang tersisa setelah tinju magma itu menembus tubuhku. Tapi ini tak seberapa sakit kalau dibandingkan bila aku harus kehilangan kamu. Fuh. Bahkan ketika maut menjemput pun, aku tetap memikirkanmu, eh?

"Sayang sekali aku tak bisa melihat cita-citamu tercapai….tapi aku yakin, kalau kamu…pasti bisa" bisikku parau di telingamu. Kalimat terakhir yang kuucapkan adalah suatu pernyataan, kalau aku mencintaimu, dan berterima kasih atas keberadaanmu yang memberiku kesempatan untuk merasakan cinta. Sebelum akhirnya aku roboh. Suaramu tak terdengar lagi olehku.

Kamu adalah pusat.

Kamu adalah alasan.

Kamu adalah hidupku.

Aku berdoa untukmu.

The Disease » by Shimacrow Holmes ch 4

The Disease

Chapter 4: The Madness Before Their Captain's Funeral

Perairan awal Grand Line. Pukul 4 pagi.

Thousand Sunny mengapung-apung di tengah lautan dengan tenang. Tidak sering—kecuali dalam beberapa kesempatan yang bisa dihitung jari selama perjalanan pertama mereka, kapal gagah itu berada di tengah-tengah angin yang stagnat. Setengah jam yang lalu hujan yang mendera lautan juga kapal tersebut mereda, menghilangkan awan mendung nan kelam, serta kembali menyibakkan langit malam yang terang akan sinar rembulan. Dasar, cuaca aneh Grand Line dan Dunia Baru.

Napas angin, napas lautan—menjadi satu mengelilingi Sunny-go seperti biasa. Belaian lembut ombak, dan hembusan penuh kesejukan angin pagi meniup layar utama dan layar-layar penyangga lainnya dengan perlahan. Rupanya angin sudah mulai kembali bergerak; tapi ini bukanlah angin pelayaran, melainkan penghormatan sang dewa angin kepada mereka, para penghuni kapal. Malam yang sepi, dengan stagnanisasi angin adalah terlalu kejam sesungguhnya untuk mereka ber-delapan pada malam ini. Sedikit hembusan, diharapkan sang dewa angin dapat menyenyakkan tidur—walau bahkan untuk malam mereka yang sangat berat belum lama ini. Mereka berduka, mereka berkabung. Tapi, paling tidak mereka bisa beristirahat dengan baik hari ini untuk pagi nanti yang pastinya akan menjadi lebih berat; dengan upacara kepergian kapten mereka.

Di geladak rumput kapal, nampaklah sesosok pria dengan pakaian khasnya yang berupa karate-shi panjang berkancing berlapiskan warna hijau tua. Hakama hijau yang sudah sangat akrab melilit perutnya di balik pakaian. Nampak bekas luka yang cukup panjang menyayat bahu kiri sampai perut sebelah kanannya yang berisi. Kedua lengannya menyilang satu sama lain di depan dada, dan kaki kanannya diletakkan di atas paha kaki kiri. Pria tersebut memejamkan kedua matanya—walau mata sebelah kirinya memang selalu tertutup diakibatkan oleh bekas sayatan benda tajam. Zoro—pria tersebut, mengalirkan napasnya dengan perlahan, keluar masuk mengikuti ritme udara.

Di tengah lautan yang hening—dimana hanya terdengar desiran ombak, pria berambut hijau itu mendengar langkah kaki yang menapak dengan pelan. Dia tahu dengan pasti itu bukanlah tapak kaki manusia, melainkan tapak kaki yang terdengar imut dari dokter kapal mereka. Zoro terjaga, dan memfokuskan pandangannya pada sosok kecil Chopper di seberang dek rumput.

Dokter kecil tersebut menguap dengan lebar, dan menggaruk-garuk belakang kepala tertutup topi rajutannya yang manis. Chopper kembali melanjutkan jalannya. Tubuhnya oleng tak menentu, yaah, tipikal orang baru bangun tidur—apalagi tersentak pagi buta seperti ini. Hingga sampai dia menyadari kehadiran si wakil kapten, Chopper terus berjalan mengarah ke kabin ruang makan. "...Oh, Zoro!" kejutnya, melihat siluet gelap Zoro yang tertutup tiang utama.

Chopper berlari ke arah si pendekar tiga pedang, dan langsung duduk di sebelahnya di bangku taman. Dokter kecil nan ahli itu lalu menolehkan wajah setengah mengantuknya pada si pendekar ternama. "Kau boleh tidur sekarang, Zoro. Sekarang giliranku jaga, 'kan?"

Zoro sedikit tersentak, ragu-ragu untuk memulai pembicaraan. Dia menatap balik wajah ceria Chopper, namun hanya untuk mendapati dirinya yang semakin ragu dari sebelumnya. "...Uh, kau bisa kembali beristirahat Chopper. Lagipula sudah jam 4 pagi, biar aku yang menggantikan shift pagimu..."

Chopper menggeleng pelan. Tapi, wajahnya menampakkan raut pucat pasi, bahkan untuk wajah yang berbulu hangat layaknya boneka tersebut. "...A-aku tidak mau kembali tidur."

Si pendekar mengangkat satu alis matanya. "...Kenapa?"

Wajah Chopper semakin pucat. Dia nampak seperti mengingat-ingat kembali apa yang sudah terjadi sebelumnya. Terasa begitu nyata, bisik si dokter. "...Aku mimpi buruk, Zoro. Mimpi yang sangat... buruk."

Zoro tak berani berkata apa-apa lagi, dia kembali menyenderkan punggungnya dan kembali menutup mata. "...Hanya mimpi. Kembalilah tidur." usahanya, membujuk Chopper. "Kita akan kembali berlayar begitu matahari terbit nanti, dan kau harus mengumpulkan tenaga."

"Tidak, tidak!" sorak si dokter, keras—beda dari suara lembutnya yang biasa. "...I-ini... aku merasa seperti..."

Si wakil kapten menggeramkan gigi-giginya, semakin menampilkan rahangnya yang kuat. Dia mengencangkan kapitan tangan pada masing-masing lengan kuatnya, merasa tak bisa mengalihkan perhatian si dokter kecil.

"Z-Zoro..." ujar Chopper perlahan dengan suaranya yang manis. Namun, suara itu dibalut dengan kecemasan kental dalam setiap ucapannya. "...Luffy... di mana Luffy...?"

Si pendekar hanya terdiam, tidak menjawab dan tidak menggunakan waktu sedikitpun untuk membalas tatapan penuh kecemasan dokter kecil mereka. Zoro merundukkan kepalanya, merasa tak ingin dan berusaha kuat agar wajahnya tak kelihatan oleh siapapun saat ini.

Angin yang berhembus pelan, mengapungkan kapal di atas desiran ombak kecil memelan dan semakin memelan. Hingga pada akhirnya kembali berhenti tanpa isyarat apapun. Suasana kapal kembali diisi oleh angin yang stagnat. Energi statik dasar laut seolah menghentikan kapal dari pergerakan, dan berkomplot dengan ombak meninggalkan mereka, para penghuni kapal.

"...Jadi itu semua bukan... mimpi?" mulai Chopper, kembali merangkai jalinan ingatannya. "...M-memang terasa begitu nyata... untuk sebuah mimpi..."

Rusa kutub kecil itu kembali berlinang air mata, menumpuk tumpukan air yang siap dijatuhkan dari matanya. Bibirnya bergetar dengan hebat, dengan mata yang sudah bergelombang. Chopper semakin larut dalam ingatannya di saat bersama dengan kapten tersayangnya dulu—bersenang-senang menebarkan senyuman ke sana dan sini.

"UWHOOO!" si dokter menjerit, menangis penuh perasaan tertusuk di hati. Chopper menggeleng-gelengkan kepalanya, berniat melarikan diri dari kenyataan; tidak ingin percaya kalau Luffy meninggal di depan matanya sendiri beberapa jam yang lalu. Dia berusaha menghapus memori itu dari pikirannya. Tapi semakin dia berniat menghapusnya, memori tersebut terus-terusan muncul seperti gambaran langsung di depan matanya. Jeritnya sungguh memilukan hati, menusuk mereka yang mendengarnya. Teringat kembali dengan kerajaan Sakura yang tiga tahun lalu ditinggalkan oleh Chopper? Di mana perpisahan penuh haru itu terjadi. Seperti itulah yang dilakukan oleh si dokter ahli itu kini, membanjiri wajahnya sendiri—salam perpisahan yang memilukan.

Zoro semakin mengeratkan matanya yang tertutup, dan menggertakkan giginya satu sama lain semakin kuat seolah hendak menghancurkannya berkeping-keping.

Hati si pendekar terluluhkan oleh pekikan penuh rasa sakit si dokter rusa kutub. Zoro melepas kedua tangannya, dan memegang kedua bahu mungil Chopper yang masih menjerit di sebelahnya. "Chopper, Chopper... dengarkan aku...!" bujuknya dengan sedikit hardikan, memakukan matanya yang masih baik pada Chopper.

Chopper menurunkan wajahnya, memandang balik mata si pendekar. Mulutnya masih terbuka lebar di mana hidung biru dan matanya masih mengeluarkan cairan. Masih belum kunjung terhentikan isakan tangisnya yang begitu menyayat hati itu; bahu, pundak—tidak, seluruh tubuhnya juga ikut terisak—terus berguncang, tiap kali Chopper menarik napas. "Panacea, Zoro... Panacea..."

"...Panacea?"

Chopper menyunggingkan senyuman bodohnya, seperti saat menemukan jamur beracun untuk mendiang ayah angkatnya dulu. Seolah seperti ada cahaya mendadak, Chopper tersenyum semakin lebar—merasa masih ada kesempatan untuk 'membangkitkan' Luffy kembali. Matanya menjadi kabur, tapi tangisan dan isakannya sudah berhenti, digantikan dengan senyuman penuh keyakinan. "Aku... hanya perlu kembali ke mejaku, dan kembali menulis rumus bakal Panacea; obat untuk segalanya..."

"Zoro..." lanjut si dokter kecil. "Tak ada penyakit... yang tidak bisa disembuhkan dengan Panacea. Dengan Panacea, semua orang bisa diselamatkan. Atau mungkin... orang mati pun juga bisa dihidupkan...? Ihihihi..." tawa kecilnya seperti dulu, menutup mulut dengan kedua tangan berkuku rusanya.

Mata Zoro kembali memerah, keterkejutan dan kemarahan bercampur menjadi satu. Chopper benar-benar menerima shock yang hebat, dan membuat kejiwaannya sedikit..., batin si pendekar, tidak ingin melanjutkan pikirannya. Dia tidak ingin mengakuinya sama sekali, tapi kondisi dokter mereka saat ini lebih kurang tidak jauh berbeda dari dokter bedah gila Thriller Bark dulu. Dokter sinting yang begitu terobsesi untuk membangkitkan orang mati dengan kekuatan buah iblis pemimpinnya "Chopper! Hei, Chopper!" teriaknya, mengguncang-guncangkan bahu mungil si dokter.

"...Apa, Zoro? Jangan menggangguku menyusun rumus, 'dong..." jawab Chopper, setengah sadar. Dia masih tertawa kecil, selagi bawah matanya mulai menghitam dan menyembab.

"Chopper, kau dengar aku..." teriak Zoro memberang. "Tidak ada satu obatpun—kau dengar...? Tak ada satu obatpun yang bisa menghidupkan orang mati!"

Chopper terkejut. Matanya membesar, dan mulutnya yang tadi terus menerus menyunggingkan senyuman gila, kini lambat laun sudah bisa menerima keadaan yang sebenarnya. Tak ada satupun obat ajaib yang bisa menghidupkan orang mati; Luffy sudah mati, dan dia sudah tidak bisa kembali lagi. Itulah yang Chopper terima dari makna tersirat kata-kata Zoro barusan.

Chopper kembali membuka mulutnya lebar-lebar, sebelum kembali menjerit penuh kepedihan ke langit malam yang jernih. Dia, Chopper, masih terisak menatap Zoro kembali. "...Kau tidak mengerti, Zoro... aku dokter, dan... aku harus menyelamatkan nyawa manusia."

"...Kau tidak perlu memikirkan perkataan Nami tadi. Dia hanya... Nami hanya belum bisa menerima keadaan; seperti kau saat ini..." jelas Zoro, panjang dan lebar. Tidak percaya kalau dia bisa membujuk orang lain seperti ini, Zoro menggaruk belakang kepalanya sebentar.

Chopper melepas pegangan tangan Zoro, dan berlari kencang menuju bilik klinik miliknya di basemen.

Pendekar hebat itu kembali berdiri di atas kedua kakinya, menatap arah kemana Chopper berlari dengan berlinang air mata.

"...Itu tadi..." ujar satu sosok ramping dari balik bayangan.

"...Kau tidak perlu repot-repot memberitahukanku; kalau apa yang kukatakan padanya tadi itu 'kejam'. Aku paham itu, koki..."

Pria pirang itu berjalan, meninggalkan si pendekar. "...Kau ingin membujuknya?" tanya Zoro, mendengar langkah kaki Sanji yang mulai berpindah.

"...Menurutmu apa? Itu tidak akan berhasil, 'kan...?" jawab balik si koki.

Zoro terdiam sebentar. "...Panggil Nami. Dia pasti terjaga dengan ribut-ribut barusan"

"Ya, aku memang baru hendak memohon akan bantuannya. Dan kupikir... Nami-san pasti tidak bisa tidur juga sedari tadi." balas Sanji, menghembuskan napas asapnya ke langit. Dia memperhatikan asap tebal tersebut membubul di udara, sebelum akhirnya menghilang—menjadi ketiadaan sama sekali.

Sanji berjalan semakin menjauh, namun terhenti tiba-tiba. "Oh, marimo. Aku tidak akan pernah memaafkanmu... kalau sekali lagi melancarkan napsu membunuhmu pada Nami-san..." ujar Sanji, dengan ekspresi penuh amarah. Namun wajahnya setelah itu kembali normal, dan kelopak mata serta alisnya menjadi sedikit sayu. "...Dia terlalu rapuh saat ini. Kau pasti juga tahu, 'kan...?"

"Situasi..." jawab pendek si pendekar, merundukkan kepalanya.

XXX

"Nami-san... kau sudah bangun? Hari masih terlalu pagi, tapi..."

Nami keluar dari kamarnya, ketika Sanji beberapa langkah lagi sampai di kabin pribadi milik wanita berambut jingga tersebut. Wajahnya kelihatan begitu tidak tenang. Seperti ada perasaan bersalah atau berdosa akan suatu hal; wajahnya nampak begitu pucat. Sinar bulan membuat wajahnya nampak sedikit bercahaya, tapi tetap saja sembab membengkak di bawah matanya tidak bisa dihapuskan. Rambut bergelombang sepunggung Nami nampak diikat pada ujungnya sehingga tidak begitu tergerai dengan bebas. Ia mengenakan kemeja putih polos yang kebesaran untuk ukuran tubuhnya, selagi untuk bawahan ia mengenakan sepasang celana jeans hitam yang ketat.

Si gadis navigator terdiam di muka pintu bilik wanita, hanya menatap daun pintu selagi kepalanya sedikit tertunduk ke bawah. Sanji yang melihatnya, berjalan lebih dekat menghampiri si gadis. Tubuh Nami semakin nampak gemetar dengan semakin dekatnya Sanji kepada si gadis. "N-Nami-san, jangan memaksakan dirimu. Kau bisa kembali beristi kalau ma..."

"Sanji-kun...!" Nami memotong kata-kata si koki. Sanji terpaku dan tak bisa melangkah lebih jauh lagi dari ini—jarak yang kira-kira hanya sekitar dua meter saja. "...Sudah berapa kali aku merepotkan Luffy dan kalian semua?"

Sanji membatu, dia terhenti—terhenti dari rokoknya, terhenti melangkah, dan terhenti akan memandang Nami; mengalihkan tatapannya ke lautan hitam. Dia tidak bisa menjawab, atau tepatnya, dia tidak memiliki pangkat yang cukup tinggi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Meskipun ada seseorang yang dapat mengatakannya, itu hanya satu; dan orang tersebut sudah tidak bisa menyampaikannya saat ini. Walaupun begitu, orang itu PASTI tidak akan mau ambil pusing dengan hal tersebut. Yaah, bagaimanapun juga hidup Luffy memang seringan—tidak, lebih ringan dari angin malahan. Semua tahu itu. Dan lebih dari semua itu, Luffy bukan orang yang suka mengungkit-ngungkit jasanya.

"...Tidak terhitung, 'kan? Sanji-kun... bahkan kau tidak bisa menghitungnya lagi, bukan?"

"N-Nami-san, bukan begitu... aku tidak..." Sanji mematikan rokoknya, dan memajukan langkahnya sedikit.

Nami menggelengkan kepalanya. "Sudah ratusan... ratusan kali Luffy selalu berhasil menyelamatkanku. Dia selalu melindungiku, tapi aku... apa yang sudah kuberikan padanya? Tidak ada! Tidak ada, Sanji-kun! Tidak ada!"

Sanji melangkahkan kakinya sedikit mundur ke belakang. Dia tidak pernah sekalipun melihat Nami yang seperti ini. Ekspresi wajah itu tidak pernah dilihatnya semenjak dulu pertama kali bertemu di Baratie sampai detik ini. Wajahnya begitu bersedih dan berduka, marah, kecewa, dan merasakan keputus asaan; tidak pernah Sanji menatap ekspresi seseorang seperti ini sebelumnya. Sanji tersentak, dan ikut merasa iba terhadap rekannya yang satu ini.

Sanji juga sebenarnya masih sangat berduka. Tapi, dia tahu dengan baik, Luffy sangat tidak ingin sahabat-sahabatnya menjadi seperti ini. Karena itu dia menguatkan hati juga raganya, mengisi waktu tengah malam dengan memasakkan sup hangat di dapur untuk sarapan pagi mereka tidak lama lagi. Tentu saja dia juga mengerti, kalau napsu makan mereka pasti akan hilang. Tapi, yang harus dipatuhi satu-satunya adalah perintah sang kapten: Tidak boleh ada satu pun kru-ku yang kelaparan, ceramah si kapten dulu pada suatu kesempatan pada si koki seorang.

Sama seperti Nami sendiri. Dia pasti pernah mendapatkan satu atau dua wejangan langsung dari sang kapten. Tapi, Nami pastinya tidak cukup kuat untuk bisa menenangkan hati, dan berusaha berpikir jernih saat ini. Luffy adalah seseorang yang begitu disayanginya, semua tahu itu. Kehilangan Luffy sama saja seperti kehilangan sebelah bagian dirinya. Ia bimbang, ia belum siap dengan semua ini.

"Jawab aku, Sanji-kun! Jawab!" Nami berjalan dengan cepat ke arah si koki, dan berhasil meraih kerah kemeja Sanji; mengangkatnya ke atas. Nami mendorong tubuh proporsional si koki sampai menabrak dinding kayu Adam bilik Nami. Sanji sedikit tercekik, memicingkan sebelah matanya secara respon.

Sementara itu,

Zoro kembali nampak duduk di bangku geladak rumput kapal. Dia hanya bisa mendengarkan jeritan Nami dari kejauhan. Pekikan kepedihan yang tidak jauh berbeda dari Chopper beberapa saat yang lalu. Si koki mendapatkan kesulitan, batinnya. Si pendekar pedang terhebat menghela napas dengan berat, dan hendak berdiri di atas kedua kakinya.

"Kau pikir bisa menenangkan Nami-chan sekarang?"

Mendengar pertanyaan tersebut, Zoro kembali duduk dengan tenang di tempatnya. Pastinya Zoro merasa sedikit gelisah, tapi dia mampu menyembunyikannya. Mereka semua sedang tidak menentu, jiwa dan raga, lanjut batin Zoro. Khususnya Nami dan Chopper. Dia merasa sedikit khawatir juga terhadap Usopp, tapi si wakil kapten itu hanya bisa meyakinkan dirinya bahwa rekan sniper ulung-nya tersebut akan baik-baik saja.

"Sudah berapa kali kukatakan agar beristirahat di kamar kalian masing-masing." sergah Zoro, sedikit iritasi.

"Tak satupun dari kami yang bisa tidur apabila keadaannya seperti ini." jawab wanita berambut hitam sepunggung itu. Dengan langkah-langkah ringannya, ia berjalan semakin mendekat ke bangku Zoro berada. "Usopp dan Brook di dek atas. Sedangkan Franky... dia di ruang kerjanya; memahat peti... Luffy."

Zoro mendecakkan lidahnya. "...Kau tidak perlu memaksakan dirimu untuk mengatakan hal tersebut..." unggah si samurai, tepat pada sasaran. Hanya dari gerak-gerik saja, dia sudah bisa membaca kegundahan hati wanita itu. Sama seperti Zoro, dia pandai menyimpan ekspresi dan perasaan yang sesungguhnya di depan orang lain. Namun, tidak cukup baik, tubuhnya gemetar; duduk di sebelah si pendekar.

"...Aku khawatir, Sanji akan mati sebentar lagi."

"Ap-! Apa maksudmu?" Zoro bertanya kepada wanita di sampingnya, terkejut luar biasa. Dari mana asal pernyataan tersebut datang, entah tersapa angin malam atau apa, si wakil kapten tidak mengerti sama sekali. "Tiba-tiba kau bicara seperti itu... aku tidak mengerti?"

"Nami-chan... mencekik Sanji." jawab si arkeolog.

Zoro segera berdiri dari bangkunya. Tidak heran, Chopper saja seperti itu tadi—apalagi Nami! paniknya. "Gawat!" tapi laju Zoro terhenti, mendapati pergelangan tangannya digenggam oleh Robin.

Wanita itu menggeleng. "...Itu tidak dibutuhkan." ujarnya menutup mata.

Zoro berdiri tegap, dan bertanya-tanya. "...Apa maksudmu?"

XXX

Sanji berusaha keras melepaskan tangan Nami dari kerah bajunya. Tipikal Sanji, dia tidak berani mengeluarkan tenaga sedikit lebih besar lagi terhadap wanita. Alhasil, dia hanya bisa meronta-ronta lewat kata-katanya. "N-Nami-san... kh, se-sesak..."

"Sanji-kun... kau harus melakukan sesuatu! Aku tidak bisa. Aku belum bisa...!"

"Kh... Nami-san, ti-tidak ada y-yang bisa kita lakuk...kan," dengan kesusah payahannya berbicara, Sanji masih terus berusaha melepaskan kedua tangan Nami selembut mungkin. "Nami-san... Luffy... Luffy tidak akan...

"Apa? 'Tidak akan' apa?" balas Nami dengan wajah yang tetutup bayangan rembulan. Matanya kehilangan cahaya, membuatnya buta akan kemampuan untuk berpikir dengan jernih. Air matanya terus mengalir tak henti-hentinya. Berapa banyak persedian air matanya, tidak ada yang tahu. Yang jelas, ia begitu berduka tak terhentikan lagi. Ia hanya ingin menumpahkan segalanya keluar. "'Tidak akan' apa!" hardiknya keras.

"...Hh, kh... Luffy... hh, tidak akan senang melihatmu sesedih i-ini, Na...Nami-san," jawab si koki, masih terputus-putus. "...K-kau harus... menguatkan dirimu. Kh... hh..."

Cahaya bulan lambat laun berhasil menyinari mata kelam Nami. Kembali terpancar sedikit cahaya dari sana, dan dengan serta merta Nami melepaskan tangannya dari kerah Sanji yang ia pojokkan di sudut dinding kamar sebelah luar. "S-Sanji-kun... a-apa yang...?"

Sanji terjatuh dan memegangi lehernya. Seperti terbenam di lautan di mana dia 'tidak bisa' melakukan apapun—menunggu tenggelam sampai dasar, dia menggapai-gapai udara sekuat mungkin. Keringat peluh membasahi wajah dan seluruh tubuhnya, di mana kelopak bawah mata kirinya menimbulkan sembab hitam yang cukup nampak dengan jelas.

"Ti-tidak ada, Nami-san... aku hanya sedikit sesak tadi..."

"K-kau yakin tidak apa-apa? Kau kehabisan napas seperti itu...?" tanya Nami, penuh akan nada kecemasan murni. Gadis navigator itu tidak sadar kalau dia nyaris membuat si koki kehabisan napas tadi. "...Kau harus mengunjungi Chopper di klinik..."

"Benar!" kejut Sanji. "N-Nami-san, tolong segera susul Chopper. Tolong, Nami-san... dia di kliniknya mungkin saat ini."

"...B-baik. A-aku segera ke sana... tapi, ada apa? Dan... Sanji-kun, kau bagaima..."

"...Tidak apa-apa, Nami-san. Yang penting sekarang adalah Chopper." potong Sanji, dengan napas yang sudah semakin teratur.

Melihat Nami yang mengangguk ragu, dan setelah gadis itu berpaling dengan cepat—berlari menuju klinik, Sanji baru bisa menyenderkan punggung pada dinding di belakangnya dengan cukup santai. Dia merilekskan tubuhnya untuk sesaat, sebelum menyunggingkan senyuman simpul. Sanji memantikkan satu batang rokok di mulut, dan menghembuskannya ke langit. "Luffy... siapa sangka, barusan aku hampir merelakan nyawaku di tangan Nami-san," ucapnya, pelan dan tenang. "Heh, kau pasti ingin menghajarku lagi sekarang, 'kan? Karena hendak menyia-nyiakan nyawa... 'lagi'." lanjut si koki, tersenyum pahit. "...Tapi, satu yang kupahami. Kepergianmu... nampaknya sedikit banyak mempengaruhi pemikiran gilaku barusan itu..."

"Ck... kenapa juga kau yang harus..." bisik koki perokok berat itu, menggeramkan kedua matanya tanpa bersuara.

"Chopper!"

Nami memasuki bilik klinik. Tanpa membuang waktu lebih banyak lagi, ia melihat sosok si dokter dengan pakaian kerjanya. Di sebelah si dokter meneliti gelas-gelas percobaan berisi beberapa ramuan warna-warni, wujud terbaring yang sudah familiar nampak oleh kedua mata golden hazel milik Nami. Luffy, bisiknya perih. Wajah Luffy memang sudah tertutup kain putih selimut ranjang, tapi Nami masih bisa mengingat dengan baik struktur wajah tampak samping Luffy yang sudah sangat akrab dalam ingatannya.

"...Chopper, kau sedang apa?" tanya Nami, berusaha keras menahan air mata. Ia melangkah dengan ragu-ragu ke arah si dokter ahli, dan menepuk punggungnya. "...Cho...!"

"Nami, aku berhasil!" teriak Chopper, memotong kata-kata Nami. "Panacea! Aku berhasil membuat Panacea!" mata si rusa kecil nampak begitu kelam dan pucat. Alis matanya menurun, menampilkan ekspresi yang sangat sedih selagi mulut mungilnya berusaha tersenyum dengan riang.

"P-Panacea?" Nami mengambil botol ramuan yang terkepit di sela-sela kuku rusa Chopper. Nami mencium, dan merasakan satu tetes dari cairan itu. Bibir si gadis mulai gemetar, lalu matanya mau tak mau kembali meneteskan air mata yang deras. "Cho... Chopper..." ucap Nami, terisak-isak. "...Ini-ini hanya Parasetamol cair biasa..." si gadis me-lap air dari kedua matanya. Dia mengerti. Walau Nami tidak sadar ia tengah menggila beberapa menit yang lalu—hampir membunuh si koki kapal malahan, tapi dia tahu kalau Chopper kehilangan pemikiran jernihnya juga saat ini. Dia terlalu dikelilingi oleh perasaan sedih dan bersalah, sama seperti Nami sendiri sekarang.

Nami memeluk tubuh berbulu Chopper—sebuah pelukan yang sangat erat. Nami membanjiri pundak dan punggung Chopper dengan air matanya. Kembali memekik penuh rasa sakit. Chopper yang mulai tersadar pun begitu. "...P-Parase... biasa...? Luffy... meninggal, ya... Nami? Luffy...?" tanya si rusa kecil, kembali berlinang air mata. Dia menghirup-hirup ingusnya yang terus mengalir keluar. "...Nami... Luffy, Luffy..." ujarnya, mulai meneteskan air mata penuh haru.

Nami mengangguk pelan di atas bahu Chopper, menggigit bibir bawahnya.

XXX

"...Terdengar."

Dari kegelapan yang begitu pekat, pemuda berambut hitam berantakan itu berbisik pelan. Telinganya bergerak-gerak, seperti seekor kucing saat menajamkan indera pendengarannya. Jarinya yang terasa begitu jauh bergerak untuk sekejap dan sekelebat mata. Namun perlahan gerakan itu semakin nampak, dan si bocah mulai bisa menggerakkan keseluruhan jari-jemarinya. Bibirnya bergerak kecil, dan disusul kedua kakinya yang mulai dapat bergerak dengan normal.

Pemuda itu membuka matanya dengan pelan. Bulu-bulu mata si pemuda yang serasa menempel terlalu lama, membuat prosesnya menjadi sedikit sulit bagi si bocah. Dia menggumam pelan, selagi matanya sudah setengah terbuka. "...Uh, la...par." dia berusaha menggerakkan keseluruhan tubuhnya bersamaan kali ini. Ringan sekali, batin si pemuda setelah sedikit terbiasa. Seperti melayang, lanjutnya.

Dia memeriksa balik belakang kepala dengan sebelah tangan. Bocah itu menghembuskan sedikit napas penuh kelegaan ketika merasakan topi jerami kesayangannya masih menempel dengan erat di tempatnya.

Pemuda itu sekali lagi begitu blank dengan situasinya saat ini. Dia menolehkan pandangannya ke seluruh penjuru, namun sayang, yang dapat dilihatnya hanyalah kegelapan total. Kegelapan yang bahkan membuatnya tak bisa melihat seluruh anggota tubuh lain miliknya sendiri. Hidungnyapun seperti mati rasa; ditambah lagi telinganya yang tak bisa mendengar. Satu-satunya yang dapat dia rasa dan dengar hanyalah isi batin dan kepalanya—bisikan tersembunyi dari hatinya.

Dia berniat mencari pegangang tubuh. Ngomong-ngomong, melayang memang menyenangkan, pikirnya—astaga, bagaimana tidak; salah satu hal yang membuatnya begitu riang adalah saat melayang-layang di tengah udara. Sungguh menyenangkan, pikir si pemuda, kembali mengingat pengalaman lampaunya dua tahun lalu di pulau langit. Dia pertamanya memberontak dengan cukup tenaga untuk menggerakkan tubuh ke suatu tempat yang masih belum jelas, tapi tidak untuk waktu yang cukup lama. Pemuda itu kembali melayang dengan lemas di tempat yang-dia-sendiri-tak-tahu-di mana-ini.

Alis matanya mengkerut, dan lidahnya terjuntai keluar. Ah, lelah, keluh kesahnya di dalam hati. Sekali lagi dia bersikeras untuk bergerak dari tempatnya melayang, tapi dia kembali menyerah setelah sedikit usaha. Sial! Teriaknya lantang, yaah, dalam pikirannya paling tidak. Dia kira suaranya barusan itu cukup keras tapi padahal, dirinya sendiri tidak bisa mendengar aumannya tersebut yang barusan.

"Aku tahu kau masih belum rela, Chopper," bisa mendengar, teriak si bocah di dalam hatinya. Suara wanita terdengar begitu jelas di telinganya—suara wanita yang tengah menangis tersedu-sedu. Sangat familiar—sudah tidak asing lagi, batin si bocah. Nami, teriaknya. Nami, ini suara Nami! Pemuda itu terus berteriak sekuat tenaganya. Nami, aku di sini, Nami! Nami! "Begitu pula aku, Chopper... hiks hiks, aku sama sekali tidak percaya kalau dia sudah pergi..." isakan gadis itu menggema ke seluruh sisi panca indera si pemuda.

"Luffy! Luffy...! Nami, Luffy... Luffy sudah...!" susul suara lainnya. Kali ini suara nan imut, seperti suara anak kecil menggema di kedalaman kegelapan yang pekat. Tidak kalah dari jerit tangis Nami, suara perih Chopper juga menusuk seluruh panca indera Luffy. Chopper, Chopper—i-ini suara Chopper, bisik si pemuda. Tapi, lanjutnya, tapi mengapa mereka menangis? Aku... aku di sini, hei, kalian tidak dengar? Hei!

"Nami, Chopper..." terdengar suara pintu terbuka. Tapi pemuda itu, Luffy, tak bisa melihat apapun. Baru panca pendengarannya saja yang berfungsi dengan normal sekarang. "...Kalian tidak bisa seperti ini terus."Dari suara ini, Luffy bisa menerka kalau pria yang baru saja masuk adalah penembak ulung milik kru-nya. Usopp, Usopp juga ada? ujar Luffy, dengan suara yang hanya dapat terdengar oleh dirinya sendiri. "...Luffy..." lanjut pemuda Usopp tersebut. "Luffy pasti akan sangat sedih melihat kalian seperti ini..."

Sedih? Sedih kenapa? Tanya Luffy pada dirinya sendiri. Memangnya aku melakukan apa? Dan... aku kenapa? ...Uh, jadi bingung, ujar Luffy menggaruk kepalanya.

"Yo..."

"...Oh, Nami-san, Chopper-san..."

"Franky... Brook...?" tanya suara Usopp yang terdengar oleh Luffy. Franky! Brook? heboh si topi jerami di tempatnya melayang di tengah kegelapan.

"Nami, Chopper. Kuatkanlah diri kalian..." sahut si cyborg dengan suara pelan dan sedikit berat. Nami dan Chopper masih belum juga melepaskan pelukan dan meredakan isakan tangis mereka. Tapi sungguh, mereka berdua yang baru datang tidak bermaksud apa-apa. Franky dan Brook-pun berada dalam situasi di mana mereka tidak cukup bisa menguat-nguatkan diri mereka masing-masing. Tapi, hanya itu. Hanya itu yang dapat mereka lakukan sekarang. Sekeras, sekencang apapun mereka menangis, Luffy tidak akan kembali. Semuanya, tak terkecuali; tahu itu.

Kalian... ada apa sebenarnya? Tanya Luffy, merasa sedikit panik juga mendengar segala isakan dan pilu tangis serta kondisi semua rekan-rekannya. Katakan padaku! Bi-biarkan... biarkan aku melihat mereka! lanjut teriak Luffy. Birkan aku melihat kalian, Nami, Usopp, Chopper, Franky, Brook!

Aww! Dengus si topi jerami tiba-tiba. Apaan tadi itu? Tanyanya bingung, memegangi pantat dan mengusap-usapkan satu tangannya di sana. Srrrk. Suara yang tidak asing—suara rumput yang sebelum ini dirasakannya kembali berbisik di kedua telinganya. Tangannya dengan acak—seperti orang buta menyentuh alas tempat di mana bokong malasnya disanggah. Rumput? A-aku kembali dapat merasakan sesuatu... ho-hore! Soraknya luar bisa riang. Tapi...

Luffy mengarahkan satu tangan ke salah satu matanya. Masih belum bisa melihat apapun, ujarnya. Su-suaraku juga, lanjutnya, melipat alis merasa kesal dan sedih. Luffy sudah dapat merasakan rabaan segala hal disekitarnya. Dia duduk bersila, berusaha berdiri. Namun, tidak cukup kuat, dia kembali terjatuh ke tanah berrumput.

Endus endus. Luffy memaju-majukan hidungnya. Dia mencium—mencium bau yang sangat luar biasa nikmat. Bau yang membuat perutnya terasa begitu keroncongan. Sesaat yang lalu dia tidak bisa membaui apapun, tapi aroma yang begitu mengundang ini membangkitkan napsu makannya yang meledak-ledak. Tidak peduli, yang penting aku lapar, dan aku mau makan! Aku minta sup daging, San...

"Teman-teman, kalian lapar...?" tanya suara yang baru saja menyelusup ke dalam telinga Luffy.

Sanji! Sorak Luffy dengan ceria, luar biasa riang untuk seseorang yang tidak bisa mengeluarkan suara seperti dirinya. Luffy menyeret tubuhnya ke arah di mana bau itu berasal, tapi dia hanya merasa tidak kuat. Tubuhnya tidak cukup bersemangat; tidak sebanding sebagaimana otak dan napsunya bergejolak saat ini.

"Hei, koki..." sahut pria lain yang baru datang. Luffy langsung mengangkat kedua alis, di mana kedua matanya masih tertutup dengan begitu rapat. Zoro! Soraknya, berusaha berdiri dengan kedua kakinya. Zoro juga ada, Zoro! Aku di sini! Kau bisa melihatku, 'kan? Yaah, aku tahu kau buta arah, tapi masa' kau tidak bisa melihatku? Hei!

"Marimo, jangan sekali-sekali kau melarangku untuk menawarkan makan pada kru Luffy lainnya di saat apapun juga. Itu tugasku. Aku akan menuruti semua perintahmu sekarang; kecuali itu." balas Sanji, dengan suara yang cukup berat; akibat begadang semalaman.

"Sudahlah. Sanji hanya khawatir pada kondisi semuanya." suara wanita yang terdengar begitu dewasa menyelusup ke kedua telinga Luffy. Dia berjalan di antara kedua pria itu dan melangkah menuju tempat Nami dan Chopper menangis tersedu-sedu. Robin juga, aku mendengar suara Robin. Robin pasti bisa melihatku, heboh Luffy melompat-lompat dengan sisa tenaganya yang hanya tinggal sedikit. Hei, robin!

Merasa begitu kelelahan Luffy berdiri dengan sempurna, terdiam seribu bahasa dalam proses tersebut. Dia lalu menggeramkan kedua belah kepalannya—keras sekali. Dia kesal, dia sedih, dia tidak mengerti dengan semua ini. Dia merasa bahwa dirinya ada, tapi... mereka—para nakama-nya tak juga ada yang bisa menyadari keberadaannya.

Tidak, tidak! Kenapa mereka tidak bisa melihatku? Aku kenapa sebenarnya! Teriak Luffy. Sanji, Zoro, dan Robin juga ada, tapi... aku merasa seperti sudah tidak berada di sekitar mereka semua lagi! Aku merasa seperti tidak memiliki keberadaan lagi. A-ada apa sebenarnya...?

Sesaat yang lalu, aku merasa seperti baru ngobrol-ngobrol biasa dengan mereka semua. Saat bersama Nami... saat itulah, setelahnya, aku tidak bisa mengingat apapun lagi. Aku tidak bisa mengingat lebih jauh lagi...

"...Luffy,"

Si bocah bertopi jerami mengangkat kepalanya. Tidak mungkin, ini tidak mungkin, bisiknya. Dia memeriksa ke sekelilingnya dengan gencar, mencari sumber asal suara. Suara ini, teriaknya dalam batin. Ti-tidak salah lagi... ini suara...

"...Yo, Luffy. Kau belum bisa melihat juga?" tanya suara misterius itu, dengan nada meledek yang sangat kentara.

Apa maksudmu? Tanya Luffy padanya, bingung tentu saja. Aku tidak bisa melihat, mataku kehilangan penglihatannya secara total, bela si bocah. "Buka matamu! Kalau menutup mata seperti itu, apa yg mau dilihat, kau dungu!"

O-oh, iya, benar, seru Luffy menggaruk kepalanya, sungguh tidak mudeng. Lambat laun, Luffy menggerakkan otot kedua matanya. Sama seperti kali pertama dia membuka mata beberapa saat yang lalu, matanya terasa begitu berat untuk dibuka. Seperti ada lapisan yang melindungi agar matanya terus-terusan tertutup; menyanderanya agar terus menerus melihat dan membuatnya berada di kegelapan yang pekat.

Terlihat, sorak Luffy. Mataku... mataku bisa melihat kembali! Lanjut soraknya luar biasa riang.

"...Kembalilah, Luffy." ujar si cahaya misterius. "...Ini memang sudah dua tahun lamanya, dan aku begitu kangen denganmu,"

Bibir Luffy bergerak tak menentu, matanya juga ikut berair—menahan haru. "Tapi, kau memiliki keluarga aslimu—keluarga yang saling mengasihi satu sama lainnya. Aku bersyukur menitipkanmu pada mereka semua. Kembali... kembalilah, Luffy."

A-aku juga... aku juga kangen denganmu, A...!

"Luffy...!" hardik si cahaya, memotong kata-kata sang raja bajak laut muda. Si bocah terhenti dari tapakan larinya, dan menatap cahaya itu dengan bergelimang air mata. "Aku sudah mati. Tapi... kau lain. Kau masih memiliki masa depan yang begitu cerah bersama rekan-rekan terbaikmu. Jalanilah, Luffy."

Luffy melangkahkan kakinya kembali ke depan. Dia melihat cahaya tersebut semakin tinggi terbang ke langit di atasnya. "Lihatlah ke belakangmu, Luffy. Sahabat-sahabat—keluargamu... menangisi kepergianmu..."

Si bocah mengikuti arahan tersebut, dan membalikkan tubuhnya ke belakang. A-aku sudah... mati? Tanya si bocah, sungguh bingung dan tidak percaya pada kenyataan. A-aku mati...?

"...Luffy, aku bersenang-senang di sini. Kau tidak usah memikirkan aku lagi—kau bisa terus menikmati hidupmu bersama mereka di dunia. Di 'Dunia yang sudah kau ciptakan'." memang tidak nampak, tapi dari cahaya tersebut Luffy serasa menatap senyuman simpul yang begitu dia rindukan sedari dulu, senyuman yang penuh rasa sayang dan rasa persaudaraan yang kental. "Pergilah, Luffy."

"...Pergilah mencari 'cahaya'mu. Gunakan perasaanmu—instingmu, dan kau akan kembali ke kondisimu yang sedia kala." lanjut sang cahaya. "Tidak ada yang mustahil, Luffy. Tidak ada yang mustahil selama kau 'percaya'. ...Hehehe, 'percaya', ya? Kalau itu kau pasti mengerti, 'kan Luffy?"

...'P-percaya'? Si bocah mengencangkan genggaman kedua tangannya, dan mengangguk—tersenyum lebar. Ya, benar, ujarnya. Aku hanya harus percaya!

"...Karena itulah kau merupakan adik tersayangku." ujar sang cahaya, semakin menghilang ke langit di balik awan. "Sekarang kau pasti sudah tidak memiliki masalah lagi untuk mengeluarkan suara. Panggil mereka, Luffy. Panggil mereka semua—mereka yang begitu menyayangimu..."

Cahaya tersebut lalu terdiam, dan menatap wajah Luffy dari balik kemilau gemilangnya.

"'Nah, Luffy... sehat-sehat, ya. Jangan buat aku khawatir di sini... adik bodoh."

Luffy berteriak, memanggil nama pemuda—kakaknya itu. Dia berlari, mengejar cahaya itu dengan susah payah. Mulutnya termegap-megap menghirup napas selagi berlari. Stamina... stamina, ke mana staminaku pergi? Tanya si pemuda bertopi jerami itu. Sakit, kepalanya terasa begitu menyakitkan. Dia tidak mengerti, dan walau memang Luffy selalu tidak mengerti akan semua hal. Tapi, sekarang dia benar-benar pusing, kepalanya sungguh terasa pening. Kakaknya menolongnya, atau ini memang bukan waktu bagi dirinya untuk mati. Karena bagaimanapun juga, dia sudah mati. Luffy sudah mati. Aku sudah mati, kan? Bisik Luffy, merasakan kepalanya yang semakin sakit dan berputar-putar. Berusaha keras, dan melompat-lompat antara pohon yang menjulang tinggi—tinggi sekali ke angkasa, Luffy berniat meraih cahaya itu. Dia tidak ingin gagal meraih kakaknya; dia merasa begitu tidak ingin sekali lagi terpisah dengan kakaknya. Hh... hh... hh... tunggu... tunggu... ujarnya terhenti-henti. "...ACE...!"

Si pemuda bertopi jerami, berpakaian merah tak dikancingkan, dan memiliki bekas luka di bawah mata kiri dan di dada itu tersungkur di atas pohon tempatnya melompat-lompat. Kepalanya terbentur pada sebuah ranting raksasa, berputar-putar, sebelum akhirnya terjatuh ke tanah jauh di bawah sana. Dia terbatuk sedikit, dan mengusap-usap kepalanya; walau memang dia tidak merasakan sakit sama sekali. Syukurlah, bocah karet.

Dengan cepat Luffy membenarkan posisi tubuhnya yang terhempas keras di atas tanah, dan mulai bersujud. Dia membenturkan kepalanya keras, dan menunjukkan ekspresi yang sesunggukkan. "...A-aku, aku tidak ingin kehilangan… aku tidak ingin kehilangan mereka!" ujarnya, memejamkan matanya kuat-kuat seolah meremukkan kedua bola deep ebony miliknya. "Ace... terima kasih. Terima kasih!"

Detakan... kembalilah detakan jantungku. "DETAKKAN KEMBALI JANTUNGKU!" teriak Luffy luar biasa lantang, mengencangkan kedua kepalan di sisi perut dan merentangkan tubuhnya ke langit dengan seluruh kekuatan. Sang raja bajak laut menunjukkan kedudukan tertinggi sebagai seseorang yang berdiri di puncak; melepaskan seluruh 'ambisi warna penguasa' legendarisnya.

Jasad tak bernyawanya berguncang. Lambat laun, guncangan itu mengencang. Seolah mendapatkan kembali roh yang disekap di dunia bawah, tubuh Luffy merejang ke atas tanpa suara kecuali gesekan-gesekan kecil selimut kematiannya.

Saat itu hanya si wakil yang pertama kali menyadari pergerakkan tidak normal pada tubuh tak bernyawa sang kapten. Satu bola mata berpupil hitamnya melebar—luar biasa lebar. Mulutnya juga sedikit menganga penuh rasa takjub.

Tangan kanan jasad Luffy terangkat ke atas secara perlahan. Sungguh lemas nampaknya, terlihat dari betapa pelannya gerak lengan si bocah bertopi jerami itu. "...Luffy...?"

Usopp yang mendengar igauan rekan pertama Luffy itu, bertanya sekaligus menegurnya. "...Ada apa, Zoro?"

Semua kru Luffy tanpa terkecuali terpaku melihat wajah sang pendekar pedang terhebat di dunia itu. Melihat ekspresi Zoro yang begitu terkejut dan dibimbing oleh rasa penasaran masing-masing yang cukup besar, mereka semua menolehkan pandangan menuju mata si rekan pertama mengarah.

Sekarang mereka semua mengerti, alasan mata si pendekar menganga dengan lebar. Mereka pun begitu sekarang. Sial, siapa yang bisa berkata-kata di saat seperti ini—ketika mereka melihat sahabat terbaik mereka menggerakkan tubuhnya setelah... meninggal? Apa mungkin kejadian seperti ini terjadi, tanya semu kru di dalam hati. Yang jelas napas mereka seolah terhenti seketika, menahan degup jantungnya penuh keterkejutan.

"...Ah..." mulai suara berat dari balik selimut putih. "...Anak-anak... ikuti arahku. S-sudah waktunya kembali ber...layar..."

-The Disease will be continued to the next last chapter: The Finale-

The Disease » by Shimacrow Holmes ch 3

The Disease

Chapter 3: They Are Mourning

Pemuda itu berjalan di tengah cahaya yang begitu terang benderang lagi meyilaukan. Tubuhnya terasa begitu ringan dan begitu menyenangkan untuk digerakkan. Luffy melangkah secara perlahan, menyaksikan ke seluruh penjuru di mana dirinya berada. Pemuda yang kini memperoleh gelar Raja bajak laut itu tersandung secara tiba-tiba, terjatuh di atas hidungnya. Dia meringkih kesakitan, memegangi hidungnya yang memerah. Luffy lalu menolehkan wajah ke belakang, melihat akar pohon yang mencuat dari dalam tanah; yang rupanya penyebab si bocah itu tersungkur. Menggaruk dadanya yang memiliki bekas luka luar biasa besar, di susul menggaruk kepala—benar-benar blank dengan situasi, Luffy berdiri dan melanjutkan jalannya.

"Haloooo!" sorak Luffy. Dia terus celingak celinguk ke sekelilingnya seperti anak kecil yang kehilangan ibunya di taman bermain. "Ada makanan di sini?" lanjut teriaknya. Dia kemudian berhenti tiba-tiba, memiringkan kepala dan memangkukan dagu pada tangannya berpikir tanpa juntrungan. "Loh... ada makanan di sini...? Atau ada daging di sini? Yang mana yang benar, ya?"

Dibuat bingung, Luffy mengangkat bahunya dan kembali melangkah ke depan. Namun bahkan mana arah depan pun dia tidak tahu secara jelas. Dia hanya berjalan ke mana mukanya menghadap, dan di sinilah dia berhenti.

Kabut putih menyilaukan di sekitar Luffy tiba-tiba sedikit demi sedikit menipis. Embun yang penuh dengan kadar air itu mencair di wajah Luffy. Si pemuda menjulurkan lidahnya, dan merasakan tiap cairan yang dapat diterima lidahnya. "...Hwaus... (haus)"

Luffy kemudian menatap kakinya, mendengarkan gesekan yang sudah sangat familiar di telinganya. "...Rumput?" Kaki Luffy nampak menginjak tumpukan rumput yang seperti biasanya dijumpai di lapangan-lapangan luas. Dengan semakin cepatnya kabut embun tersebut memudar, Luffy menyadari seonggok pohon yang tumbuh tinggi di sebelahnya. Menjuntai tinggi ke langit berawan, Luffy mendongakkan kepalanya menghadap ke atas sana. "Tingginya—!"

Telinga Luffy kembali mendapatkan sense-nya yang normal. Mengalihkan wajah dari puncak pohon di atas sana, Luffy kembali berjalan beberapa langkah sehingga bertemu dengan aliran sungai yang sangat jernih. "Air!" sorak si bocah, berlari ke tengah sungai dan mengambil beberapa tampung air dengan kedua telapaknya.

Tersenyum dengan riang, dia melanjutkan pencariannya (?). Hanya beberapa kaki Luffy berjalan setelah itu, perutnya berbunyi dengan liar tak bisa terkendali. Ayam-ayam di perutnya nampaknya sudah sangat kelaparan sekali sekarang. Dia memegangi perutnya, dan merengek minta makan. "Lapaaar... Sanji, makaaan. Dagiiing..."

Sunyi senyap, tak ada yang membalas rintihan Luffy—baik mulut dan perutnya. Luffy memutar-mutarkan pandangannya, ke kiri, ke kanan, ke belakang, dan kembali ke depan. "...Sanji? Zoro, Usopp...!" soraknya, semakin kencang. "Hei, kalian dimana? Nami! Chopper, Robin! Franky, Brook...!"

Barulah insting Luffy sepenuhnya kembali. Ekspresinya nampak kelabakan, dan penuh dengan keringat dingin. Luffy berlari berputar-putar di tempatnya berdiri, tak bisa tenang. Semakin panik, Luffy meremas rambutnya dengan satu tangan. Di susul dengan satu tangan lagi, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya. "Hei! Kalian dimana, teman-teman!" teriak Luffy semakin keras.

"Jawab aku!" jeritnya.

Tubuhnya membeku, kelelahan. Kepalanya tertunduk, tertunduk lemah menatap kakinya. Jangan lagi, batinnya merintih. Luffy menggeleng dengan kencang, dan lalu mengencangkan kepalan tangannya. "...Jangan. Jangan ada yang berpisah lagi..." gumamnya, pelan seperti berbisik. "Jangan ada yang berpisah lagi!" lanjut teriaknya, kembali mendongakkan kepala ke langit yang tertutup awan putih nan tebal.

Luffy terus menatap langit di atasnya, menggeram penuh amarah. "Kemana mereka?" tanyanya dengan suara berat. "Kembalikan mereka semua! Sahabat-sahabatku!"

Badannya semakin melemas, Luffy tidak bisa mempertahankan keseimbangannya. Luffy terduduk di atas tanah dengan keras, terus menatap ke langit. "Aku... aku..." Tubuhnya semakin lemas, dengan semakin beratnya perasaan penuh dengan tekanan yang seolah menghimpitnya ini. "Aku... sudah letih... aku sudah lelah... kehilangan orang-orang yang kusayangi..." gumamnya, seraya berbaring di atas tanah—serasa dipaksa. "...Hanya mereka... merekalah satu-satunya... yang... aku tak ingin kehilangan lagi... mereka... ha... nya... mere...ka..."

Luffy tertidur—kehilangan kesadarannya. Keringat peluh membasahi seluruh tubuhnya yang melemah. Alis matanya mengerut seperti mangalami mimpi yang paling buruk. Mimpi terburuk dari yang terburuk.

Monkey D. Luffy; apa yang paling ditakutkannya adalah: Kehilangan rekan-rekan sekaligus sahabat-sahabatnya di atas kapal; mereka yang sudah meraih impian masing-masing, dan bersumpah satu sama lain untuk saling jaga sekarang dan untuk selamanya. Tak ingin berpisah, tak ingin kehilangan.

Manusia boleh bermimpi. Dengan berusaha, mereka mendapatkan impiannya. Tapi, bagaimana apabila mereka sudah tak dapat berusaha, merundung di atas kasur kematiannya, menunggu dijemput oleh yang ber-hak.

Luffy berpisah. Dia akan berpisah dengan sahabat-sahabat sehidup sematinya. Bukan mereka... tapi dia.

Monkey D. Luffy si topi jerami; sang raja bajak laut; putra Dragon dan cucu dari Garp sang pahlawan, menghembuskan napas terakhirnya.

Luffy telah meninggal dunia.

Kesadarannya memudar dan menghilang. Yang tersisa hanyalah memori yang telah dia ukir bersama mereka semua yang tercinta. Suara jerit tangis mereka membahana di telinga si pemuda, mengalirkan derai tangis yang tak tertahankan. Luffy semakin jauh terjatuh ke dalam kegelapan tanpa pegangan. Tak berdaya, ini pertama kalinya Luffy tidak dipersilahkan; tidak bisa melakukan apapun. Pekat sekali... kegelapan ini.

XXX

Tak ada satu kru pun yang mengeluarkan suara di ruangan dokter. Semua terdiam, terkejut oleh pernyataan dokter mereka. Sebenarnya tidak perlu repot-repot. Alat pendeteksi denyut jantung milik Chopper sudah menandakan satu garis lurus tanpa detakan, yang berarti si pasien sudah berpulang. Tubuh mereka semua membeku; kesemutan dan meradang. Seperti tersihir, dan beku di bawah lautan arktik, tak satupun dari mereka bisa menangkap dengan cepat situasi yang mereka alami saat ini; dan otomatis—yang harus mereka terima.

Chopper si dokter membanjiri wajahnya dengan air mata. Tidak terhentikan. Si dokter kecil ini memang tidak bisa menahan air matanya. Sedari dia merawat dan mengoperasi—berusaha mengejutkan jantung si pasien berulang-ulang agar kembali pada denyutnya, Chopper terus-terusan mengalirkan isi dari kelenjar air matanya tersebut. Dia terisak-isak, menahan ingus yang sudah menetes dari kedua hidung birunya. "...Luffy..."

Nami melangkah maju. Kedua batang kakinya yang begitu mulus dan tertutup celana jeans hitam gemetar dengan hebat, luar biasa hebat. Dia tidak mau dan tidak bisa menerima apa yang dikatakan dokternya belum lama ini. dia hanya... tidak ingin menerimanya, dengan alasan apapun. "...Katakan sekali lagi, Chopper... apa katamu tadi?" tanyanya datar, mengalirkan satu garis lurus air mata. Nami menyentuh bahu mungil si dokter rusa kutub. "Katakan sekali lagi!" jerit Nami histeris.

Sanji melangkah maju dan menarik kadua bahu si navigator berambut gelombang se-punggung itu. Sanji mendapatkan sedikit kesulitan menahan tubuh Nami yang tengah memberontak. Gadis tersebut berusaha melepaskan genggaman kedua telapak Sanji dengan menggooyang-goyangkan bahunya dengan cukup kekuatan. "N-Nami-san... tenanglah..."

"Apa maksudmu, Chopper!" teriak Nami, tidak memperdulikan imbauan Sanji.

Bahu Chopper bergerak naik turun, menahan isakan sendunya. "Maafkan aku... Luffy... Luffy... tidak terselamatkan lagi... aku... aku minta... aku minta..." Chopper menutup kedua matanya dengan topi rajut kesayangannya. Air matanya mengalir turun dengan deras tak terbendung. Tak ubah bedanya dengan anak kecil, Chopper merengek dengan keras di balik topi dengan aksesoris khasnya itu.

"Kau dokter bukan!" teriak Nami, tidak menghiraukan penjelasan si dokter cilik. "Bukankah tugas dokter menyelamatkan nyawa pasiennya! Lakukan sesuatu, Chopper!"

"O-oi, Nami..." sambut usopp, pelan dan ragu. Tidak diragukan lagi, Usopp juga berusaha menahan jatuhnya air kesedihan, tapi tak kuasa; karena dia memang tak sekuat Zoro dan Sanji. "Tenanglah dulu... Chopper sudah..."

"N-Nami-san... kau tidak boleh begitu." ujar Sanji, berusaha membalikkan tubuh Nami agar menatap dirinya. "Chopper... Chopper sudah berusaha kera..."

"Diam! Diam!" Nami berhasil melepaskan kedua tangan Sanji; memotong kata-kata si koki tersebut, dan melangkah lebih dekat ke arah Chopper. "Lakukan sesuatu, lakukan sesuatu Chopper! Sekarang!" jeritnya pada si kecil yang masih belum berhenti terisak.

Chopper masih menangis dengan hebat, dia menggeleng. "...Tidak bisa... aku tidak bisa berbuat lebih dari ini... ini... sudah di luar kemampuanku..." jawabnya, penuh dengan isakan tangis yang sulit tertahankan. "Luffy..."

"Aku tidak peduli! Lakukan sesu..."

"Nami! Hentikan ulahmu!" teriak hardikan pria bermata satu dari belakang mereka semua. Matanya yang masih baik, menatap Nami dengan segala tatapan pembunuh—penuh dengan intimidasi. "Hentikan sudah keegoisanmu! Kau harusnya menghargai usaha keras Chopper!"

Sanji menggeram pelan, dan mengencangkan kepalannya. Apabila orang lain membentak dan mengancam Nami; tambah lagi membuat si gadis menampilkan ekspresi luar biasa ketakutan seperti saat ini, dia pasti sudah memberikan pelajaran berharga pada orang tersebut. Tapi, kali ini lain. "...Zoro benar, Nami-san... Kau tidak boleh seperti itu pada Chopper. Dia sudah berusaha sekuat tenaganya..." lanjutnya menyentuh bahu mungil Chopper yang masih belum berhenti berguncang.

Nami hampir saja kehilangan keseimbangannya setelah mendapatkan hawa ancaman dari Zoro. Baru saat inilah, suara kecil teman-teman di sekitarnya dapat terdengar. Nami menatap Sanji yang berdiri paling dekat dengannya, dan mengalirkan air mata yang jauh lebih deras dari sebelumnya. "...Sanji-kun... Luffy... Luffy kita..." isaknya, menghampiri dada si koki. Nami mengeluarkan seluruh air matanya pada dada Sanji yang berbalut kemeja hitam. Teriakan tangisan Nami menggema ke seluruh penjuru kapal, luar biasa keras. Pekikan kesedihan yang diliputi dengan seluruh rasa sakit tak terhentikan menusuk udara malam hari, meminta mereka ikut merasakan kepedihan yang sama.

"Nami-chan..." bisik pedih Robin, menutup mulutnya dengan satu tangan. Robin yang biasanya kuat, juga tak dapat menahan jatuhnya air mata lagi setelah insiden Enies Lobby beberapa tahun yang lalu. "Oh... Luffy..." Robin menangis, meneteskan seluruh air matanya dengan derai sesunggukkan, terisak dengan luar biasa sedih.

"Robin," imbau Zoro. "Tolong bawa Nami menenangkan diri di luar." perintahnya pada si wanita berambut hitam panjang. Robin terdiam sebentar, menghapus air matanya, dan berusaha nampak kuat. Zoro tahu wanita itu sama rapuhnya dengan Nami saat ini. Namun, tak ada pilihan lain. Mereka tidak akan bisa berkuat-kuat diri di ruangan ini—di ruangan di mana seseorang yang begitu mereka sayang berpulang.

Robin mengangguk pelan, menuruti perintah si wakil kapten. Wanita yang lebih tua itu melangkah ke arah Sanji menenangkan diri Nami. Robin menatap si koki. Sanji yang melihat sembab di mata wanita dewasa itu mengangguk pelan sembari melepaskan tubuh Nami yang menempel erat dengan tubuhnya selembut mungkin. Nami menggenggam kencang rajutan jas Sanji sekuat mungkin, membuatnya sulit untuk dilepaskan. Ia nampak seolah memegang baju merah Luffy yang biasa dipakaianya sehari-hari, dan berusaha menahannya terbang ke langit yang lebih tinggi. Langit yang lebih tinggi dari langit yang pernah mereka panjat. Lebih tinggi dari langit yang mereka lihat sehari-hari dari dek kapal, di saat mereka masih berkumpul bersama-sama—bermain dengan riang. Semakin kuat tarikan Robin, semakin kencang pula genggaman si wanita navigator pada jas si koki andal. Namun, ketika Nami mendapat pelukan Robin yang semakin terharu dengan tiba-tiba, barulah dia berpaling dari dada Sanji secara perlahan.

"Tidak apa, Nami-chan... kami bersamamu." bujuk Robin setengah terisak, menenangkan tubuh Nami yang masih tidak bisa berhenti gemetar dan terus mengalirkan air mata kepedihan di kedua pipi mulusnya. Wanita dewasa itu menuntun Nami berjalan keluar ruangan.

Di saat mereka hendak melintasi tempat Zoro berdiri, Nami menahan tubuhnya berjalan lebih jauh. "Maaf..." ucapnya serak dan berat, tanpa melihat Zoro ataupun tempat di mana si pria berdiri.

"Ucapkan pada Chopper." jawab Zoro, singkat dan mampu menyelesaikan masalah.

Robin kembali melanjutkan jalannya menuju keluar ruang medis yang berbau alkohol di sana sini, menuju geladak atas yang penuh akan angin kesegaran.

"Luffy-san..." dengan cepat, setelah para wanita berlalu dari kamar ini, Brook si musisi menghampiri tempat di mana kapten-nya terbaring tak bernyawa. Sang musisi memegang tangan Luffy, memeriksa setiap denyut nadinya seolah belum percaya akan kepergian kaptennya yang tersayang nan periang. "Tidak... aku tidak ingin percaya ini... oh, Luffy-san... tidak..."

"Brook, tenangkan dirimu..." usul Sanji, dengan tatapan setengah sendu. Dia mengerti sekali dengan perasaan si musisi. Sekali lagi, ya, sekali lagi dia harus kehilangan kaptennya. Itu tentu saja sangat menyakiti batin si tengkorak hidup.

"Yorky... mendiang sahabat terbaik sekaligus kaptenku," mulai Brook, dengan hening. "Beliau meninggal dunia dikarenakan penyakit wabah demam hutan yang saat itu belum diketahui penyembuhnya oleh dokter kami dan dokter pada kebanyakan. ...Sekarang, Chopper-san sudah memiliki penangkal terbaiknya..."

Sanji berjalan ke arah jendela ruangan yang terbuka. Dia menyalakan satu batang rokok dari saku celananya, dan memasukkan kembali pemantik miliknya ke saku celana yang lain. Zoro melangkah ke bangku terdekat, duduk di atasnya dan menyandarkan ke-tiga katana kebanggannya di bangku tersebut. Dia melipat kedua lengannya satu sama lain, mendengarkan Brook dengan tatapan lurus ke lantai kayu kabin yang terbuat dari kayu Adam.

"Aku menemukan kebahagiaanku yang lain dengan berada bersama Luffy-san dan kalian semua di sini." lanjut Brook, memangkukan lengannya pada sisi kasur Luffy. "Tapi, aku takut. Aku takut pada diriku sendiri yang tak bisa mati ini."

"Kalian semua akan mati, tak terkecuali. Tapi, aku akan terus hidup kembali setelah mati—setelah melihat kematian kalian semuanya tentu saja…" ujarnya semakin pelan. "Yo...hohoho. Aku sendiri secara pribadi merasa... kalau hidupku ini adalah sebuah kutukan."

"Ayolah, jangan bilang seperti itu, Brook." sahut Sanji. Namun, Brook menggeleng pelan. "Benar. Itu benar adanya." potong si tengkorak hidup.

Brook mulai memegangi kepalanya, dan air mata tipis mengalir dari lubang matanya yang bolong kosong melompong. "Luffy-san adalah segala-galanya bagiku—lebih berharga daripada banyaknya nyawa yang kupunya..."

Brook berdiri, dan beranjak dari ruangan. "Aku hanya berharap Luffy-san dapat betemu dengan kakaknya di atas sana..." Brook membuka pintu kabin kecil, dan berlalu. "Aku di luar bersama para ladies..."

Franky berjalan ka samping Sanji, ikut menatap luasnya lautan di malam hari. "Brook memiliki perasaan yang sangat sensitif. Aku mengerti betapa terluka hatinya dengan kepergian Luffy sekarang." Pria besar itu menengadahkan kepalanya ke langit. Menatap ke seluruh jutaan bintang di atas sana. "Dulu, aku tidak pernah peduli dan ambil pusing mengenai luasnya lautan dan langit itu. Yang aku pikirkan hanyalah bagaimana caranya menyaingi kapal-kapal buatan Tom dan Iceburg. Tapi setelah aku bertemu Luffy, semua berubah."

Franky mengarahkan satu tangan androidnya ke bawah mata kiri, dan menguceknya. "Yang aku sayangkan adalah... aku ingin membawa Luffy untuk kembali bertemu dengan Iceberg, dan adik-adik keluarga Franky-ku semuanya. Lalu aku ingin membawanya ke makam Tom. Ku... kurasa Tom pasti bangga pada si bocah bertopi jerami ini..."

Franky tersenyum, senyuman pahit yang tak terbaca karena mata si tukang kayu kapal yang tertutup kacamata hitamnya. "'Salam dari Luffy.' Apakah itu cukup untuk mereka?" tanya si cyborg, kembali menatap lautan. Koki dan wakil kapten mengalihkan tatapannya ke bawah mereka masing-masing, tak bisa menjawab apapun.

Usopp melangkah dan duduk di sebelah Zoro—di kursi tunggu kamar dokter. Dia mengangkat kedua tangannya, tersenyum penuh dengan nostalgia. "Benar, ya. Aku juga... saat itu aku hanyalah pembohong besar dan kepalaku hanya terisi oleh impian menjadi pahlawan terhebat. Tapi ternyata, semua itu tidak lepas dari peran Luffy. Berkat dirinya, kita mendapatkan banyak hal, ya?" mata usopp mulai berair kembali. Bibirnya bergoyang tak menentu, semakin lama semakin kencang. Dia semakin tak kuasa menahan deras air matanya untuk turun. "Buhwaahhaaa... Luffy, Luffy...!" jerit histeris Usopp, menutup seluruh wajahnya dengan telapak tangan. "...Kenapa kau pergi begitu cepat... kau seharusnya mati setelah aku. Kau harus melihat aku menjadi pahlawan lautan yang sesungguhnya..."

"Tiga tahun... kenapa kita hanya diberi kesempatan untuk berkumpul bersama selama tiga tahun..." pekik Usopp, mengeluarkan semua air matanya. "...Aku, aku bahkan belum sempat... mengucapkan rasa terima kasihku padamu. Luffy!"

"...Aneh, aku tidak bisa menangis saat ini..." susul Franky, sembari mendengarkan derai tangis si hidung panjang yang semakin pedih. "...Sungguh... hentikan itu Usopp, k-kau membuatku..."

Franky segera berjalan keluar kamar. Dia berusaha keras untuk tidak memperlihatkan tangisannya pada yang lain seperti biasa. Tapi, naas, dia juga tak cukup kuat menahan derai tangisnya di luar sana. Franky meledakkan tangisannya di antara gang kecil menuju dek atas. "Franky... dasar bodoh..." ujar Sanji, dengan mata yang setengah sayup.

Si koki pirang mengalihkan pendangannya pada Chopper di kasur Luffy. Dia berjalan ke sana, dan menyentuh punggung kelelahan si dokter. "...Chopper yang malang,"

"Tentu saja dia kelelahan." potong Zoro, dibalas anggukan pelan dari Sanji.

"Usopp, tolong antarkan Chopper ke kamarnya. Tenaganya benar-benar habis menurutku." lanjut Sanji kepada sniper terhebat yang pernah ditemuinya. Usopp mengangguk dan menggendong Chopper di depan dadanya.

"Kami di geladak rumput, kalian..."

Angguk dua rekannya yang lain. Pintu kembali tertutup, dan Sanji berjalan ke kursi tunggal di sebelah kasur Luffy terbaring. "Lihatlah wajahnya yang begitu tenang ini..." ujarnya, pelan dan seperti berbisik. "Pernahkah kita melihat wajahnya yang sedamai ini? Tak pernah kurasa..."

Zoro hanya diam di tempatnya. Dia benar-benar tak menyangka—dalam mimpinya sekalipun kalau hal seperti ini akan terjadi pada akhirnya. Sebelum perjumpaan terakhirnya dengan Luffy tadi sore, saat itulah firasat ini lambat laun menghampirinya. "...Bagaimana sekarang?"

"Kau yang menentukan. Kau wakil Luffy, bukan...?" jawab Sanji mantap. Dia menghisap satu isapan rokok, dan langsung menghembuskannya. "Cuma kau yang bisa membuat keputusan sekarang."

"...Aku tidak bisa."

"Kalau begitu kita tamat di sini."

Pikiran Zoro tiba-tiba kembali ke sore hari ini, saat Luffy mengunjunginya. 'Zoro, kau mau menggantikanku menjadi kapten kapal ini? Aku tahu kau pasti bisa, karena aku mengenalmu dengan sangat baik.'

Zoro menempelkan kedua telapak tangan di wajahnya. Dia lalu menggertakkan giginya satu sama lain, menggeram dan tenggelam dalam pikiran. "Ini... terlalu cepat. Terlalu cepat..."

Sanji menyadari si pendekar yang cukup shock dengan situasi mereka. Bagaimanapun, Zoro adalah rekan pertama Luffy. Dia adalah orang pertama yang berbagi nasib bersama dengan Luffy lebih dulu dari rekan lainnya. "...Semuanya berpikir demikian... aku juga,"

Zoro berdiri di atas kedua kakinya, dan berjalan ke sisi ranjang Luffy. Wajahnya begitu sendu, begitu lesu walaupun dia sekuat tenaga tidak menunjukkannya pada siapapun, terlebih pada si alis lingkar saingannya dalam banyak hal ini. "Terima kasih, kapten Luffy." ujar Zoro, serak dan berat. "Terima kasih untuk semuanya, sahabat. Beristirahatlah dengan tenang..."

Sanji pun ikut berdiri di sebelah rekan pertama Luffy itu. Sanji mematikan rokoknya, memasukkan tangan ke dalam kedua saku celana. "...Kau begitu berjasa pada kami, Luffy. Aku—kami semua pasti tidak akan pernah bisa sekalipun melupakanmu, sobat. ...Sampai bertemu lagi, kapten... di sana."

Dengan itu Zoro menutup kain putih—selimut Luffy. Melihat wajah Luffy untuk terakhir kalinya.

Sanji beralih keluar dari kabin, menutup wajahnya dengan telapak tangan, menahan beratnya air mata. Sekuat apapun pria itu, kehilangan Luffy merupakan shock terbesar yang pernah diterimanya. Sanji—masih menutup matanya menyenderkan punggungnya pada dinding lorong, terisak-isak kecil meneteskan air mata pertama semenjak perpisahan dengan Zeff tiga tahun yang lalu.

Tinggal Zoro di dalam, masih terdiam menatap wajah Luffy yang sudah tertutup kain putih yang bersih. Zoro menyunggingkan senyuman khasnya, menampilkan lekukan kulit di tepian bibir sebelah kanan. "Kita benar-benar sudah berpetualang ke berbagai tempat yang luar biasa, bukan begitu Luffy?" bahu Zoro sedikit berguncang. Dia kemudian menutup satu matanya yang masih baik dengan telapak tangan. "...Kau yang terbaik, sobat."

Wakil kapten tersebut melangkah keluar kamar, dan berjalan dengan perlahan menuju dek rumput atas di mana rekan-rekan lainnya berkumpul.

"Zoro..." sambut Usopp, dengan mata yang sembab karena tangisan. "...Bagaimana?"

"Kita akan memberikan penghormatan terakhir pada Luffy fajar nanti." jawab Zoro, tegar dan tak bergeming sedikitpun. Nami terkejut luar biasa. Jadi semua ini benar-benar terjadi, batinnya masih dan tidak mau percaya. Dia mengapit lengan kemeja Sanji yang berada di sebelahnya kuat-kuat, kembali menahan tangisnya.

"Kita semua adalah anak-anak lautan. Pada lautan jugalah kita kembali." lanjut ujar Zoro, menatap lautan nan jauh di sana. Dia menggeram; memperlihatkan bentuk tulang rahangnya yang kuat, dan semakin mengencangkan genggaman tangannya.

Brook melangkah maju, dan manggumamkan sedikit lagu perpisahan sebelum melanjutkan kata-katanya. "...Tiba juga akhirnya bagi Davy Jones untuk menyambut kedatangan sang raja bajak laut..."

Isak tangis kembali membahana di seluruh penjuru kapal. Nami kembali menghanyutkan tangisannya di dada berbalut jas Sanji. Dan Robin hanya terisak-isak di tempatnya duduk sebelum Zoro menyenderkan punggungnya di kursi sebelah Robin. Tak seorangpun dari mereka yang tidak larut dalam suasana berduka ini, tak terkecuali bagi Sanji dan Zoro sekali pun kali ini. Brook, Franky, dan Usopp juga membiarkan air mata mereka mengalir dengan deras.

Malam itu hujan turun. Langit turut berduka dengan kepergian pahlawan—pahlawan dari semua orang; dari seluruh bangsa, ras, dan lapisan. Mereka semua berduka atas kepergian seseorang yang menjalani hidup dengan begitu bebas—lebih bebas dari apa dan siapapun. Mereka semua berduka atas kepergian dia yang selalu membuat kehangatan di manapun dirinya berada. Dialah Luffy. Luffy si topi jerami, sang raja bajak laut.

-The disease Continue to the next chapter: 'Their Captain's Funeral'-

The Disease » by Shimacrow Holmes ch 2 part 2

Chapter 2 second half:

Last night with The crews and knowing the truth Part. 2

Luffy membuka pintu ruang makan dan melihat si koki berambut pirang sedang sibuk mncuci piring bekas hidangan mereka makan malam tadi. Si koki legendaris, satu-satunya koki yang berhasil menemukan All Blue di dunia ini.

"Yo, Sanji." Sapa Luffy seperti biasa.

"Oo, Luffy darimana saja kau?" Tanya si koki membalikkan setengah kepalanya melihat kaptennya di depan pintu. "Masuklah. Mau cemilan? Kau bahkan belum memakan cemilanmu tadi..."

"Hahahaha boleh Sanji, kebetulan perutku mulai lapar sedikit."

"Haha, syukurlah, nafsu makanmu tampaknya sudah kembali lagi." Sahut Sanji tertawa ramah. "Sebentar ya, aku membereskan piring-piring ini."

"Ok. Oi Sanji, apa ini? Yang seperti keripik ini?"

"Ooh itu keripik udang. Kalau mau makan saja..." Jawab Sanji dari dapur.

"Hwoo, wenak bwangget. Udwang emwang wenak banggwet, ga kwalah dwari dwagwing. Shishishi." Lanjut Luffy tertawa dengan keripik udang dimulutnya.

"Hoi, Luffy seperti biasa, jaga sopan santunmu di ruang makan, bodoh!" Bentak Sanji pelan dari dapur.

"Hahahaha. Mwaaf, mwaaf."

-selang waktu beberapa menit,

"Yup, itu yang terakhir." Ujar Sanji meletakkan piring terakhir di rak piring.

"Nah, Luffy kau mau cemilan apa?" Tanya Sanji. "Ha? Ee, oi! Jangan kau habiskan semua, bodoh!"

"Yaah, sudah habis, Sanji..."

"...Hah, sudahlah. Kesalahanku tidak bilang 'jangan dihabiskan' tadi." Sesal Sanji menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Ya, sudah. Kau ingin cemilan apa ?" Tanya Sanji, menyalakan sebatang rokok di bibirnya. "Atau, tidak usah lagi saja ya? Kau sudah menghabiskan kripik udang kita barusan."

"Yaah, mau gimana lagi sanji, udang dari All Blue enak 'sih..." Jawab Luffy polos sambil mengelap mulut dengan tangannya.

"...Haha, kau benar juga." Sanji tersenyum, seolah setuju dengan pernyataan Luffy barusan. "Baiklah, bagaimana kalau kita buat Pizza Seafood?"

"Ooo! Mau, mau, MAU! Aku mau pizza, Sanji!" Jawab Luffy semangat seperti tingkahnya yang biasa.

"Haha, oke, oke. Kita lihat…, masih ada sisa tuna gajah dan udang La north dari All Blue di kulkas. Baiklah bagaimana kalau itu saja." Usul Sanji. "Jangan terlalu boros dengan ikan-ikan All Blue lainnya di akuarium, kau tahu?"

"Wohoo, asik asik! Aku tidak sabar!" Ujar Luffy semakin bersemangat dari sebelumnya. "Ikan-ikan All Blue memang paling enak!"

Sanji tersenyum melihat kaptennya begitu menghargai makanan seperti itu-'tapi pelaksanaan makannya benar-benar mesti diatur'pikir Sanji.

"Tapi ingat, kau juga tidak boleh menyia-nyiakan makanan dari lautan lainnya, Luffy." Sahut Sanji saat menggeledah bahan-bahan yang ia butuhkan dari kulkas di dapur.

"Shishishi, tentu saja!"

Sanji membuat pizza pesanan kaptennya dengan sangat lihai. Jari-jarinya begitu ahli memainkan adonan dan memotong bumbu-bumbu dapur. Luffy yang menunggu dengan tidak sabarpun memperhatikannya dengan seksama.

-setelah beberapa menit-

"Ini dia pesananmu kapten, 'Pizza Tuna La north'" Ujar Sanji seperti memperkenalkan karya agungnya. "Silahkan dinikmati."

"Oh waw, baunya saja sudah lezat!" Sahut Luffy melompat-lompat di bangkunya. "Kumakan ya, Sanji."

"Setelah kau duduk dengan rapih tentunya, Luffy." Lanjut Sanji duduk di bangku di depan si pemuda itu.

"Oh, ok." Luffy pun membenarkan cara duduknya demi mendapatkan pizza 'apalah ini namanya', pikirnya.

Persis, sebelum Luffy memasukkan potongan pizza pertama ke mulutnya, ada seseorang yang memotong kebahagiaan si pemuda.

"Oh ho...jadi kalian sudah pintar ya, membuat cemilan tanpa mengajakku saat menyantapnya." Sahut Nami si navigator, si kucing maling, si kepala oranye, dan si penguasa pohon mikan alias balkon atas—dari arah pintu masuk ruang makan.

"Hegh? Nami-san, eeh itu..." Sanji terkejut melihat Nami yang datang secara tiba-tiba dan si pria pirang tersebut mulai salah tingkah. "Ee...Soalnya tadi Luffy belum mengambil jatah cemilannya, jadi aku... sebagai koki... itu..."

"Sudah cukup. Tidak usah pakai alasan apa-apa, S-a-n-j-i – k-u-n." Sahut Nami dengan nada yang mengerikan di akhirannya.

"Eeh, jadi?" Sanji mulai panik mendengar Nami mengeluarkan nada menakutkan bin horor tersebut.

"Kau." Ujar Nami mulai berjalan ke dalam ruang makan.

"Eh?"

"Harus."

"Ya?" Sanji mulai mengeluarkan keringat dingin dari sekujur tubuhnya.

Luffy yang menyaksikan, hanya membuka mulutnya—di mana hanya ada jarak beberapa mili lagi sebelum pizza nikmat itu memasuki mulutnya. Dia memperhatikan gerakan Nami yang semakin mendekat kearah mereka bertiga. Ya, Sanji, Luffy dan si pizza. Si pemuda karet itupun mengeluarkan keringat dari sisi kanan dahinya menuju dagunya, melihat pemandangan mencekam itu.

"kau harus...membawakan cemilan ke ladang mikan-ku habis ini!" Lanjut Nami dengan mencomot satu potong pizza milik Luffy.

"Oi, Nami! Itu pizza-ku tauk!"

"Week." Nami meledek Luffy.

"Uugh, awas kau, ya!" Luffy mulai beranjak dari bangku, dan mengejar Nami.

"Sanji-kun, ga pake lama ya! Kalau lama, ''nih'!" Nami mengangkat kepalan tangannya tinggi.

"Week, Luffy bodoh! Kejar aku kalau bisa!" Lanjut ledek Nami pada Luffy sambil menggigit satu potong pizza di tangan. "Mm, lezat...seafood, ya?"

"Huh, kalau aku sedang tidak makan—kau pasti akan ku kejar." Ujar Luffy berhenti mengejar di depan pintu ruang makan, melihat tangan kanannya yang memegang pizza.

"Haah, itulah Nami-swan-ku. Selalu membuatku terpesona melihat kelakuan nakalnya." Ujarnya melihat Luffy dan membayangkan Nami dengan mata 'hati' si pria pirang ini.

"Huuh, huh, Dasar si Nami itu!" Sahut Luffy kesal saat sudah memasuki ruang makan kembali.

"Sudah, sudah, habiskan saja sisa pizza-mu yang lain. Masih banyak 'kan di loyangnya?" Saran Sanji pada Luffy yang sedang kesal setengah mati.

Sanji mulai mempersiapkan cemilan malam untuk Nami-san-nya yang tersayang. Mengetahui waktu sudah malam, dia sesedikit mungkin menggunakan gula. Dia mempersiapkan beberapa adonan tepung dan beberapa buah mikan di dekatnya. 'hmm, bagaimana kalau orange pan cake dengan saus coklat segar diatasnya?' pikirnya. Dia memiliki banyak stok cocoa murni yang rendah akan kalori di lemari persediaan. Dan si koki handal inipun menyiapkan madu berkualitas tinggi disebelahnya, sebagai pengganti gula.

"Hmm, perfect." Ujarnya.

"Kwayaknwya enwak, Swanjwi. Bwuatkan akwu swatu."

"Habiskan saja dulu pizzamu yang masih banyak itu!" Bentak Sanji pada Luffy dengan wajahnya yang biasa saat mengomeli Luffy, wajah kartunik bertaring.

Selagi Sanji menyiapkan pan cake spesialnya untuk Nami, Luffy terus memakan pizza miliknya dengan sangat lahap. Hingga pizza itu habis seperti tersambar kilat—ya bersih, kau tahu—yang makan Luffy, Sanji masih sibuk menyiapkan kue-nya di dapur.

Luffy berdiri dan berjalan menghampiri Sanji yang berada di dapur.

"Wah, kelihatannya enak Sanji..." Sahut Luffy menjulurkan lidah dari belakang si koki.

"Kalau kau mau, besok saja kubuatkan, ok?" Lanjut Sanji tersenyum. Masih dengan sebatang rokok di bibirnya, dia melanjutkan karya agungnya.

"Sanji..."

"Apa?"

"Aku belum pernah mengatakan ini sebelumnya..." Ujar Luffy dari belakang Sanji dengan nada cukup serius untuk orang seperti dia.

"Apa...?" Sanji pun membalikkan badannya, membiarkan pan cake nya yang sudah hampir selesai. Hanya tinggal di beri saus coklat rendah kalori dan beberapa sentuhan terakhir, seperti meletakkan daun mint segar diatasnya—karya agung untuk dewinya telah siap.

Setelah menghembuskan asap rokok ke langit-langit dapur, dia mengapit rokok tersebut di sela-sela jari telunjuk dan jari tengah tangan kirinya. Dan menatap wajah Luffy lurus.

"Terima kasih sudah memenuhi permintaanku yang macam-macam." Sahut Luffy santai dengan wajah bodoh namun ramahnya.

"Hm? Apa itu, Luffy? Apa maksudnya, kata-katamu barusan?" Sanji menatap kaptennya dengan wajah penuh tanda tanya.

"*uhuk uhuk*Tidak ada, aku hanya takut tidak sempat..." Lanjut Luffy. Terbatuk diawal kalimatnya.

"...? Kau sakit, ya...?" Tanya Sanji setengah cemas dan setengah bingung, mengangkat alis melingkar-nya

"...Tidak."

"Sebaiknya kau ke klinik Chopper. Meskipun sudah larut, aku yakin dia masih bangun."

"Ya, aku baru mau kesana. Terima kasih untuk hidangannya, Sanji. Pizza tadi sangat luar biasa lezat." Sahut Luffy berjalan ke arah lift di sisi meja dapur.

Lift ini menghubungkan balkon atas ladang pohon mikan Nami juga kebun bunga Robin. Dan ruang dibawahnya seperti, Usopp's factory, Franky's workshop, dan Chopper's clinic.

"Ha? Hidangan...?" Tanya Sanji terheran-heran melihat kaptennya memasuki lift menuju basement bawah Thousand Sunny.

"Ada apa dengannya? Aneh sekali..." Sanji memikirkan kata-kata Luffy barusan 'Terima kasih sudah memenuhi permintaanku yang macam-macam' dan 'aku hanya takut tidak sempat'. "Apa itu? Seperti kata-kata terakh...aaagh! apa yang kupikirkan!"

"...Luffy..."

*Tok tok*
Pintu klinik Dokter Chopper berbunyi. Suara ketukan itu berasal dari si kapten. Tidak lama pemuda itu mendengar sebuah suara imut dari dalam ruangan klinik itu.

"Ya, masuk."

Nuansa klinik seperti biasa. Bau antiseptik memenuhi ruangan itu. Meskipun begitu, ada suatu wangi yang samar-samar sangat menenangkan. Itu adalah wangi bunga, ya, bunga sakura.

"Hai, Chopper. Belum tidur?" Sapa Luffy dengan senyuman lebarnya.

"Eh, Luffy! Kemana saja daritadi?" Lanjut Chopper dengan suara imutnya.

"Tidak dari mana-mana 'kok. Aku hanya bersantai di crow nest tadi."

"Oh, begitu" Ujarnya dengan suara lega.

"Memangnya kenapa Chopper?" Tanya balik Luffy. Dia duduk di kasur pasien, sementara Chopper duduk di bangku dokternya.

"Tidak ada apa-apa. Cuma tadi cepat sekali selesainya bercandaku dengan Usopp. Alhasil aku punya waktu luang lebih untuk meracik bahan-bahan obat-obatanku.

"Begitu?" Sahut Luffy. "Bagus 'kan kalau begitu, dengan itu kaupun akan menjadi semakin matang sebagai dokter terhebat di dunia."

"Eh? 'Dokter terhebat di DUNIA'?" Sentak Chopper menekankan kata 'dunia'. "Ka, kau pikir aku senang mendengar pujianmu itu, dasar brengsek...!" Lanjut Chopper dengan tarian kecil dan wajah yang tampak sangat senang.

"Hahahaha..." Tawa riang Luffy. "Oke, kalau begitu lanjutkan saja kerjamu. Aku tidak akan ganggu."

"Hihihi, baiklah Luffy..." Lanjut Chopper tertawa kecil.

Chopper pun melanjutkan kerjanya, meskipun hari sudah mulai larut, tapi wajah imutnya itu tidak menunjukkan kelelahan sedikitpun. Wajah itu tampak benar-benar bersungguh-sungguh dalam melakukan peracikkan obatnya ini. Memang jiwa 'dokter sejati' tersimpan di dadanya. Pemuda kecil itu mengaduk ramuan-ramuan-nya, mancampurkan beberapa ramuan jadi satu dan diaduk bersama. Hingga pada akhirnya dimasukkan per-set sesuai kegunaannya.

Luffy memperhatikannya sambil rebahan di kasur pasien. Melihat kesungguhan Chopper dalam bekerja.

"Wah, kau hebat ya, Chopper!" Sahut Luffy dari atas kasur.

"Eh? Jangan menyogokku dengan memujiku ya, brengsek! Sini kalau mau lihat lebih dekat, duduk di kursi ini, dan silahkan lihat yang kau mau, sialan...!" Sekali lagi Chopper menari-nari kegirangan dan menarik kursi dari sebelahnya.

"Hahahaha, oke!"

Luffy berdiri dan duduk disebelah Chopper, dibangku yang telah disediakan pemuda kecil itu.

Chopper kembali memasang wajah seriusnya. Luffy juga kembali memperhatikan dia bekerja.

"Chopper..."

"Ya, Luffy." Sahut Chopper menatap wajah kaptennya itu.

"Apa kau sedih...?"

"Sedih kenapa, Luffy?" Tanyanya.

"Rekan-rekanku yang lainnya sudah berhasil meraih impiannya, tapi kau..."

"...Itu..." Chopper yang malang, dia hanya bisa menunduk memandangi meja. "Sebenarnya aku sedih, ...tapi selama aku bisa berpetualang bersama kalian terus, itu sudah cukup bagiku..." Menyadari impiannya adalah menciptakan elixir/panacea, penyembuh segala macam penyakit, itu adalah impian yang sangat berat.

"Tidak Chopper. Itu tidak cukup...!" Potong Luffy dengan nada suara yang tinggi.

"Eh!" Sentak Chopper.

"Aku tahu kau bisa, Chopper." Luffy menyemangati Chopper, menepuk lembut topi rajutan berwarna merah muda milik si dokter tesebut. "Bahkan sekarang pun, kau adalah dokter terhebat. Tak seorangpun di kapal ini yang sakit lebih dari sehari- semua sembuh berkat dirimu, Chopper."

"Luffy...!" Chopper terkejut, bahwa kaptennya benar-benar memperhatikan hal-hal kecil seperti itu. Mata si dokter membesar menatap kaptennya.

"Karena itu aku percaya, kau pasti bisa meraih impianmu suatu hari nanti. Aku percaya..." Lanjut Luffy, nada suaranya memelan tapi dengan keyakinan yang tinggi. "Walaupun suatu saat nanti aku tidak bisa..."

"Eh? Apa Luffy...?" Tanya Chopper bingung.

"Ah, tidak, tidak ada." Jawab Luffy ceria. "Aku yakin kau pasti bisa, Aku percaya padamu Chopper! Berjuang, ya!" Lanjutnya sambil menepuk-nepuk punggung mungil dokter kapalnya.

"...Hihi, iya Luffy!" Jawab Chopper semangat dan tersenyum lebar.

"Bagus! Itu baru semangat! Shishishi..."

"Hihihi..." Lanjut tawa Chopper.

"Nami-san..." Sanji mengantarkan pesanan Nami ke balkon atas.

Seperti yang sudah diduga Nami sebelumnya, Sanji membuatkan cemilan yang benar-benar spesial untuknya.

"Waah, tampaknya lezat sekali. Apa ini, Sanji-kun?" Tanyanya penasaran.

"Um, ini orange pancake dari kebunmu..."

"Sungguh! Boleh kucicipi?" Tanyanya semakin penasaran.

"Te, tentu, Nami-san. Ini memang kubuat khusus untukmu...silahkan, mademoiselle." Ujar Sanji lembut.

Nami memotong sedikit pinggiran pancake dan menusuknya dengan garpu, sebelum dimasukkan kemulutnya.

"Umm, yummy." Ujar Nami dengan garpu masih di mulutnya. "Nikmat sekali, Sanji-kun!"

"I, iya. Terima kasih, mellorine." Jawab Sanji tersenyum namun, walaupun senang mendapat pujian dari Nami, masih ada yang menghambat kebahagiaannya saat ini.

"..." Nami memperhatikan raut wajah Sanji dengan teliti yang menunjukkan siluet garis resah. "Mm...ada masalah, Sanji-kun?"

"...Sebenarnya tidak. Tapi ada yang mengganjal perasaanku daritadi..." Jawab Sanji jujur.

"...Ya? Apa itu?" Tanya Nami lembut.

"Luffy, 'kan? Sanji..."

"! Marim...Zoro..." Sanji terkejut melihat si pendekar berdiri dibelakangnya tiba-tiba. "Ya benar. Aku...mencemaskan Luffy, Nami-san."

"..." Nami terdiam memperhatikan Sanji setelah melihat kedatangan Zoro. Pandangannya dalam. "Aku...aku juga merasakan kejanggalan pada diri Luffy. Tapi, kupikir sudah tidak apa-apa, karena...dia sudah ceria lagi..."

"Tapi, tadi Nami-san..." Lanjut Sanji sedikit ragu. Memutar ingatannya. "Dia memintaku untuk memaafkan semua kesalahan dan kelakuannya selama ini! ...ti, tidakkah itu aneh...?"

"Dia juga...memintaku menggantikannya menjadi kapten..." Lanjut Zoro dengan perlahan, tidak memberi celah antara kata-katanya dengan Sanji. "Luffy yang kukenal, tidak, Luffy yang kita kenal pasti tidak akan pernah mengucapkan itu. Dia adalah orang teguh pada pendiriannya." Zoro tidak memperhatikan dua sahabatnya dan terkesan berbicara sendiri melihat lautan hitam malam hari.

Sanji dan Nami memperhatikan si wakil kapten berbicara, dan kembali termenung dan merunduk.

"Apakah kalian pikir, menanyakan 'bagaimana rasanya mati' itu biasa...?"

"Brook...!" Sahut Nami melihat si tengkorak musisi berjalan kearah mereka selangkah demi selangkah, seolah tidak terdengar tapak kakinya dimalan sehening ini. "Apa...maksudmu, Brook?"

"Zoro-san juga kupikir mendengar pertanyaan itu..." Lanjut si tengkorak.

Zoro hanya mengangguk, menanggapi pernyataan Brook barusan. Masih tidak melihat mereka semua. Tidak jelas apa yang dipikirkannya, tapi walaupun samar-samar tersirat kecemasan di air wajahnya.

"...Apa maksudnya? Luffy...?" Ujar Sanji geram, menyalakan rokoknya.

"Sebaiknya salah satu dari kita mencoba bertanya padanya..." Ujar Franky tiba-tiba. Dia berjalan bersama Robin dan Usopp dari arah dek bawah. Namun Robin hanya diam disamping mereka. Wajahnya merunduk menatap lantai kayu, seolah menghitung setiap langkahnya dengan lemas.

"Aku tidak mungkin..." Potong Zoro, setelah memperhatikan wajah Robin dan merasa sedikit curiga pada wanita berambut gelap itu. "..."

-sementara-

Luffy berjalan lewat balkon bawah. Dia membuka pintu dan kini dia berada di dek rumput kembali. Sepanjang jalan dari klinik Chopper, tubuhnya semakin lemas. Dia berjalan ke dek dengan memegang dinding sepanjang lorong. Napasnya juga mulai tidak stabil kembali. Mungkin pilihan salah, karena tidak melaporkan keadaannya pada Chopper. Tapi, ini lebih baik, si kapten tidak ingin membuat dokter-nya cemas.

Berjalan di dek rumput, dia berusaha mencari satu sahabatnya yang terakhir. Si navigator berambut oranye. Nampak seperti ingin bertemu untuk yang terakhir kalinya, ia memperhatikan kekanan dan kekiri sekitarnya. Melebarkan pandangannya melihat lautan luas yang gelap dari kapal. Ditengah pandangan yang samar-samar dia merasa tubuhnya semakin lemas, sebelum akhirnya terbaring jatuh ketanah.

"...Nami-san...tolong..." Mohon Sanji pada Nami. "Hanya kau..."

"..." Nami terdiam sebelum menjawab. "Baik. Dimana Luffy?"

"Luffy di klinik Chopper...aku tidak sengaja melihatnya masuk kesana tidak lama ini..." Sahut Usopp dengan wajah yang sangat cemas, masih dengan buku teka-teki ditangannya. "Kupikir aneh sekali—reaksi Luffy tadi...bukan begitu, Robin?"

"..." Robin tidak menjawab apa-apa. Wanita itu masih terdiam dan merunduk, mengerutkan alis mata dan menutup mata memalingkan wajahnya dari semua rekannya.

Sanji menyadari sesuatu yang ganjil. "Robin...-chan...?"

"Baiklah aku akan ke klinik sekarang..." Potong Nami dengan segera, meletakkan pancake mikan di bangku pantai miliknya.

"Kami akan menunggumu disini, Nami-san." Ujar Brook tenang. Sangat berbeda dari sikapnya yang biasa.

*Tok tok*

"Chopper, Chopper. Kau ada?" Sahut Nami sambil mengetuk pintu terburu-buru.

"Ya, masuklah!" Balas Chopper melihat Nami yang terengah-engah. "Ada apa Nami? Terburu-buru sekali..."

"Chopper, Luffy mana?" Tanya Nami setelah memutar-mutar pandangannya ke seluruh penjuru ruang kerja Chopper dengan sigap. Sangat panik, seolah berlomba dengan setiap hembus napasnya.

"Luffy?" Tanya balik Chopper dengan wajah polos. "Luffy baru saja keluar, Nami. Ada apa?"

Tanpa menjawab, Nami dengan segera berjalan kearah dek rumput kapal. Meninggalkan Chopper terheran-heran di bangku dokternya.

"Anak itu! Giliran dicari, susahnya minta ampun!" Sahut si navigator sedikit kesal.

"...Ada apa?" Tanya Chopper menengokkan kepala dari pintu ruangannya.

"Chopper..."

"Sanji...? ada apa ini sebenarnya?"

"...Ikut aku Chopper..." Sanji menggenggam tangan Chopper menuju arah sebaliknya dari arah Nami berjalan. Mereka berdua berjalan menuju balkon atas, tempat rekan-rekan yang lain berada.

Nami akhirnya sampai di dek rumput, melalui pintu balkon bawah. Memutar-mutar pandangannya kembali untuk mencari si kapten. Dia menemukannya. Si kapten terbaring telentang di atas dek, menatap bintang di langit luas dengan sangat santai dan tenang.

"Luffy!"

"Oh, Nami? Sini, sini!" Sahut Luffy riang melihat gadis berambut jingga itu. "Lihat, bintangnya benar-benar bagus." Lanjutnya mengangkat sebelah lengannya dan menunjuk kearah langit gelap tak berawan yang ditaburi milyaran bintang.

"...Apa 'sih kau ini?" Bentak Nami berjalan kearah si kapten, setelah memperhatikan langit diatasnya sesaat. "Luffy!"

"...Apa...?" Jawab Luffy panjang dan malas-malasan. Dia kemudian memangkukan kepalanya diatas kedua tangannya.

Nami terdiam melihat pemuda itu dibawahnya. Wajah gadis itu tidak menunjukkan kemarahan, tapi raut wajah yang sangat khawatir. Lagipula pada awalnya dia tidak punya alasan memarahi kaptennya—Kaptennya sang Raja bajak laut.

"...Nggak jadi ya?"

"Uukh! Luffy...!" Teriak Nami, menghempaskan kedua tangannya disisi pinggangnya. "Kau kenapa?"

"...Tidak lama lagi...Nami." Jawab Luffy tenang dan tidak berekspresi. Dia masih terus memandangi langit malam.

"...Apa?" Nami duduk bersimpuh tepat di sebelah si kapten. "...Ya, kita tidak lama lagi akan mendarat di pulau berikutnya..."

"...Bukan itu..."

"...? Luffy, jangan sepotong-sepotong seperti itu kalau bicara...!"

"Hehhe, bagaimana peta duniamu, Nami?" Tanya Luffy mengalihkan pandangannya pada si navigator, melihat si rambut jingga dengan matanya yang menatap gadis itu seorang. Memberikan senyuman lebar dibibirnya.

"...Ke, kenapa memangnya?" Tanyanya terkejut dan grogi merespon mata si kapten yang menatapnya lurus.

"Apa masih ada tempat lain yang bisa kukunjungi...?"

"Tentu saja, bodoh! Kau 'kan kapten kapal ini" Jawab Nami dengan nada meledek. Dia tersenyum, mendengar pertanyaan bodoh kaptennya itu. "Kaulah yang membimbing kami ke pulau baru. Dan aku akan mulai menggambar denah pulau itu begitu mendarat."

"Shishishi, sudah pasti, ya..." Lanjut Luffy dengan cengiran lebar.

*uhuk uhuk* Si kapten terbatuk di tempatnya.

"Lu, Luffy. Kau tidak apa-apa...?" Tanya Nami mulai kembali kepada kecemasannya sebelum ini. "Kau sedang sakit, ya?"

"...Nami, sudah lama sekali, ya?"

"...?" Nami tidak menjawab, dia hanya menunjukkan ekspresi bertanya-nya.

"Sejak aku menghancurkan ruang kerjamu di Arlong Park..." Lanjut Luffy tersenyum, kembali menghadap si navigator.

"...Iya, sudah tiga tahun yang lalu..." Lanjut Nami ragu-ragu, merasa diseret untuk menjawab kata-kata Luffy, kaptennya.

"Kau marah padaku...?"

"Untuk apa?"

"Di ruangan itu, tersimpan banyak hasil kerja keras dan keringatmu dari kecil...bukan?"

"...Bodoh!" Nami menepuk pelan kepala Luffy. "Aku tidak pernah memikirkannya sejauh itu, kau tahu?"

"Jadi...kau tidak marah?"

"Ya, ampun Luffy. 'Kan kau sendiri yang bilang, kalau ruangan seperti itu tidak boleh ada. Aku juga pribadi, sama sekali tidak butuh peta dunia yang ditulis dengan 'darah'ku." Jawab Nami tersenyum tulus menatap kaptennya, merangkai ingatan pahit namun dengan kedatangan Luffy, tak ada lagi yang namanya ingatan menyakitkan. "Peta-peta itu tidak lebih dari masa lalu pahit yang tak bisa kulupakan. Dan sekarang aku bisa menggambar peta dengan 'keceriaan'—itu semua berkat kau Luffy. ...Terima kasih."

"..." Luffy tersenyum lebar, menunjukkan ekspresi lega. "Tidak perlu berterima kasih, Nami. Kita Nakama, 'kan?"

"Ya...Nakama." Senyuman lebar tersungging di wajah Nami. Dia teringat akan kaptennya tesebut saat dulu-berteriak hal serupa setelah menghajar Arlong.

Nami tertawa kecil.

"Nami..."

"Ya...?" Sahut Nami sambil menghapus sedikit air mata tawanya dengan jari telunjuk kanan.

"Maukah kau terus membuat peta dunia...?"

"...Apa maksudmu, Luffy? Itu sudah pasti, 'kan...?"

"Kau janji?" Luffy melihat wajah navigatornya dengan tatapan lurus.

Kemudian dia mengangkat tangan kanannya dan mengacungkan jari kelingkingnya.

"Apa sih, Luffy...? apa perlu sampai berjanji kelingking segala?" Tanya Nami malu-malu, wajahnya sedikit memerah. "Ki, kita 'kan sudah bukan anak-anak lagi..."

Luffy tidak membalas kata-katanya, hanya memandang wajah si rambut oranye lurus—dia menunggu jawaban.

"Ba, baik..." Nami akhirnya menyerah dan mengangkat kelingking kanannya.

'Shishishi' itulah yang diberikan si kapten, ketika Nami mengait kelingkingnya dengan jari kelingking si pemuda yang sudah menunggu daritadi.

"Beeerjaanji! Kalau ingkar akan dikelitiki sampai pingsan. Setuju?"

"Hii! Apa-apaan hukumannya itu!"

"Setuju?" Luffy tidak mau kalah dan semakin mengeraskan suaranya.

"I...iya setuju! Terserah kau saja!" Jawab Nami. Walaupun ragu, ia membalas si kapten dengan suara tinggi juga.

"Baguslah...aku lega Nami, hahaha...!"

*uhuk uhuk...Uhuk uhuk!*

"Lu, Luffy...!"

-sementara itu-

Angin malam mulai mendingin. Memang waktu sudah menunjukkan pukul 11.55, tapi mata semua kru masih terbuka dengan lebar. Mendengar pernyataan dari Robin mengenai keadaan Luffy saat ini, seluruh anggota topi jerami tidak dapat menyembunyikan ekspresi terkejut mereka. Angin dingin tengah malam seolah menusuk setiap tulang mereka, memberikan perasaan merinding.

"Luffy...!" Teriak Chopper kaget. Nada suaranya semakin bergetar. "Ke, kenapa tadi dia tidak bilang apa-apa padaku?"

Sanji dan Zoro hanya diam mendengar pertanyaan Chopper, sebelum menjawab bersamaan. "Itu karena...!"

Mereka saling tatap, tidak kesal—hanya ragu. Mengingat situasi saat ini, tidak ada gunanya saling mementingkan ego sendiri. Seperti mereka yang biasanya.

"...Kau saja Zoro..."

"...Kami pikir itu mungkin karena dia tidak ingin membuatmu cemas, Chopper..."

"Tapi...tapi, aku 'kan dokter kapal! Itu adalah pekerjaanku!" Jawab Chopper semakin tidak tenang dan mulai berlinang air mata. "Aku...aku hanya takut penyakit Luffy bisa...membahayakan tubuhnya...*hiks hiks*aku...aku..."

"Chopper..." Ujar Robin mengelus topi rajutan Chopper—si rusa kutub yang sedang terduduk lemas itu.

"Chopper, ini bukan salahmu. Ayo kita hampiri Luffy..." Saran Usopp, menunjukkan wajah yang benar-benar khawatir pada situasi saat ini. Namun seperti Usopp biasanya, berusaha memberanikan diri walaupun takut.

"Baiklah. Kalau begitu kita berpencar mencari Luffy-san di seluruh sisi kapal." Sahut Brook dengan bijak. Mengingat dialah yang tertua.

"Itu lebih baik daripada diam disini..." Lanjut Franky menatap buaian kapal, lurus ke arah haluan utama. Merasakan angin malam yang stagnat secara tiba-tiba, ia sedikit terkejut.

Saat mereka berusaha beranjak dari balkon atas, terdengar suara jeritan Nami dari balkon bawah. Bukan suara teriakkan Nami yang biasanya—teriakkan ini diisi dengan rasa takut bercampur rasa cemas dan respon tiba-tiba yang memicu kekhawatiran luar biasa.

"SEMUANYA-! DOKTER-! CHOPPER!" Teriak Nami histeris berlinang air mata diwajahnya. "SIAPA SAJA! *hiks hiks* LUFFY! LUFFY-!"

"Nami-san!" Kejut Sanji sehingga rokok dibibirnya terjatuh. Dia secara respon berlari kearah balkon bawah dengan sangat cepat- diikuti oleh rekan-rekan lainnya.

Mereka berlari menuruni tangga, ekspresi cemas dan khawatir mengisi wajah mereka semua. Chopper mulai bergelinang air mata kembali, menahan air mata dengan menggigit bibir bawahnya. Begitupula Usopp.

Begitu sampai di balkon dek rumput, mereka menyaksikan pemandangan horor—pemandangan paling menakutkan yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.

Di pangkuan si navigator, terbaring sosok kapten mereka—bukan kapten mereka yang selalu ceria seperti biasa, melainkan sosok tidak berdaya—bersimbah darah dari mulut dan hidung, membanjiri baju katunnya dan paha putih Nami. Sang kapten, Luffy si topi jerami—berbaring tidak sadarkan diri di pangkuan Nami.

"Luffy!" Teriak Robin.

"Astaga! Luffy-san!" Lanjut Brook berlari ke arah navigator.

"Luffy!" Sahut Zoro dan Sanji, berlari bersamaan dengan Brook ke arah Nami.

"...Ti, tidak mungkin...aah! Nico Robin!" Sahut Franky melihat Robin yang mulai tumbang ketanah tidak sadarkan diri. Dengan cepat dia berhasil menahan wanita itu jatuh menggunakan satu tangannya.

"Ti...tidak mungkin...ini bohong 'kan?" Tanya Usopp gemetar di tempat, bendungan air matanya tidak bisa bertahan lagi.

"Bo, bohong...? Lu...Luffy...?" Lanjut Chopper, wajahnya nampak normal, namun air matanya menetes. Merasa tidak percaya akan apa yang dilihatnya.

"I, ini mimpi buruk...ya, ini mimpi buruk...'kan Luffy?" Sahut Usopp gemetar terdiam ditempat—air matanya mengalir deras. "Luffy-!"

Usopp berlari dengan cepat ke arah Luffy dan Nami.

"Mimpi buruk...? mimpi...*hiks hiks* bu...ruk...? *hiks* Luffy..." Chopper mulai berjalan tak dapat mengontrol badannya dan mulai menangis—memenuhi wajahnya dengan air mata.

"LUFFY-!"

-To Be Continued-